- ASUS Indonesia menyatakan pasar konsol gaming genggam berkembang positif sejak tahun 2023 karena menawarkan hiburan dan fleksibilitas tinggi.
- Pengguna memanfaatkan sistem operasi Windows pada konsol gaming untuk bekerja, menulis tugas kuliah, dan menjalankan aplikasi produktivitas perkantoran.
- Kenaikan harga komponen global berpotensi menaikkan harga konsol gaming genggam sebesar sepuluh hingga dua puluh persen.
Suara.com - Konsol gaming genggam atau handheld gaming mulai memiliki fungsi lebih luas dari sekadar perangkat bermain gim.
Selain menawarkan hiburan portabel, perangkat ini juga dimanfaatkan sebagian pengguna sebagai komputer untuk bekerja, berkat sistem operasi Windows dan dukungan konektivitas yang memadai.
Head of PR and Digital ASUS Indonesia, Brama Setyadi mengatakan, pasar konsol gaming genggam menunjukkan perkembangan positif sejak 2023.
Menurut dia, perangkat dengan bentuk ringkas menjadi pilihan bagi pengguna yang membutuhkan hiburan sekaligus fleksibilitas untuk beraktivitas di luar rumah.
“Pasarnya oke banget sekarang, karena banyak orang yang kayaknya memang butuh hiburan, cuman enggak mau bawa yang berat-berat,” kata Brama dalam agenda ROG XBOX Ally X20 Bundle Exclusive Media Preview, Jakarta, belum lama ini.
Tren tersebut turut mengubah cara sebagian pengguna memanfaatkan konsol gaming. Perangkat yang awalnya dirancang untuk bermain gim kini juga digunakan untuk mengerjakan tugas, menulis, hingga menjalankan aplikasi produktivitas.
Brama mencontohkan, ada pengguna yang memasang aplikasi perkantoran seperti Microsoft Word dan memanfaatkan konsol gaming untuk mengerjakan tugas kuliah, termasuk skripsi.
Dengan tambahan layar dan keyboard, perangkat tersebut dapat digunakan sebagai alternatif komputer portabel.
“Jadi enggak hanya buat main game sebenarnya. Fungsinya tuh ada tambahan buat kerja juga,” ujarnya.
Meski demikian, Asua belum memiliki data kuantitatif mengenai persentase pengguna yang memanfaatkan konsol gaming untuk bekerja.
Gambaran tersebut, menurut Brama, masih berdasarkan pengalaman dan cerita dari pengguna yang membeli perangkat mereka.
Krisis Komponen Berpotensi Dorong Harga Naik
Di tengah perkembangan pasar, industri konsol gaming genggam juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga komponen.
Brama mengatakan, perangkat tersebut menggunakan sejumlah komponen yang sama dengan laptop sehingga tidak sepenuhnya terlepas dari dampak kondisi pasokan komponen global.
Ia memperkirakan dampak kenaikan harga komponen dapat berada di kisaran 10–20 persen. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan Brama dan bukan angka kenaikan harga seluruh produk konsol gaming di pasar Indonesia.
“Pasti ada dampak. Karena kan kita pakai komponen yang sama juga. Kira-kira kenaikannya lumayan, di sekitar mungkin sepuluhan persen, 20 persen. Sama kayak laptop sih, kenaikannya,” kata dia.
![Peluncuran ROG XBOX Ally X20 Bundle sebagai perayaan 20 tahun ROG, Jakarta, Kamis (15/10/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/89362-peluncuran-rog-xbox-ally-x20-bundle.jpg)
Kondisi ini menjadi tantangan bagi produsen dalam menjaga daya tarik perangkat ketika konsumen juga mempertimbangkan harga dan manfaat yang diperoleh.
Asus, kata Brama, berupaya menambah nilai bagi konsumen melalui peningkatan kualitas layanan, termasuk dukungan purnajual dan masa garansi.
Strategi tersebut ditujukan agar konsumen tidak hanya mempertimbangkan perangkat yang dibeli, tetapi juga manfaat yang diperoleh selama masa pemakaian.
Pasar Konsol Genggam Punya Segmen Berbeda
Persaingan di pasar konsol gaming genggam juga semakin beragam, baik dari produk yang dipasarkan secara resmi di Indonesia maupun perangkat yang masuk melalui jalur nonresmi.
Brama menyebut persaingan tidak hanya datang dari perangkat dengan sistem operasi dan karakteristik serupa, tetapi juga dari konsol yang lebih berfokus pada hiburan dan permainan.
Ia menilai, segmen konsol seperti Nintendo Switch memiliki karakteristik pengguna yang berbeda.
Sementara itu, perangkat seperti ROG Ally memiliki fungsi yang lebih luas karena dapat digunakan untuk bermain gim sekaligus menjalankan aplikasi produktivitas.
“Kalau Switch itu benar-benar mereka yang buat hiburan, benar-benar game. Kalau yang Ally ini agak sedikit nge-cross ke productivity juga,” ujarnya.
Perbedaan fungsi tersebut membuat pasar konsol gaming genggam tidak sepenuhnya bergantung pada kebutuhan bermain gim. Kemampuan menjalankan aplikasi kerja menjadi nilai tambah bagi pengguna yang menginginkan satu perangkat untuk beberapa kebutuhan.
![Peluncuran ROG XBOX Ally X20 Bundle sebagai perayaan 20 tahun ROG, Jakarta, Kamis (15/10/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/60739-peluncuran-rog-xbox-ally-x20-bundle.jpg)
Meski begitu, Brama belum merinci pangsa pasar maupun kontribusi penjualan konsol gaming genggam terhadap keseluruhan bisnis ROG di Indonesia. Ia mengatakan kontribusi tersebut berubah dari tahun ke tahun.