- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III-2026.
- Pencapaian positif tersebut didorong oleh pertumbuhan bisnis fintech GoPay dan peningkatan pendapatan bersih perusahaan.
- GoTo menaikkan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun.
Suara.com - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III-2026.
Pencapaian ini didorong pertumbuhan bisnis fintech GoPay yang mencatatkan kenaikan EBITDA disesuaikan hingga 304 persen secara tahunan menjadi Rp550 miliar.
Hasil tersebut menandai keberhasilan GoTo mencetak laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Capaian ini juga berbalik dibandingkan kuartal III-2025, ketika perusahaan masih mencatatkan rugi bersih Rp255 miliar.
Secara keseluruhan, pendapatan bersih GoTo tumbuh 17 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp5,6 triliun. Sementara itu, nilai transaksi bruto (GTV) inti meningkat 89 persen menjadi Rp194 triliun.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan berhasil mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan bisnis.
GoTo pun menaikkan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, dari sebelumnya Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
"Pada kuartal ketiga 2026, GoTo kembali mencatatkan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kesempatan ini, kami juga menyampaikan GoTo akan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5–3,7 triliun," ujar Hans dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Transaksi GoPay Melonjak 86 Persen
Bisnis fintech menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan GoTo pada kuartal III-2026. Jumlah pengguna GoPay yang bertransaksi setiap bulan (monthly transacting users/MTU) mencapai 30,4 juta, meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan juga terlihat pada intensitas penggunaan layanan. Jumlah transaksi GoPay melonjak 86 persen secara tahunan menjadi 2,8 miliar transaksi, sedangkan GTV inti bisnis fintech tumbuh 96 persen menjadi Rp187 triliun.
Dari sisi pendapatan, GoPay membukukan pendapatan bersih Rp2,3 triliun atau tumbuh 49 persen YoY. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan meningkat 304 persen menjadi Rp550 miliar.
Peningkatan aktivitas pengguna turut mendorong bisnis pinjaman. Nilai buku pinjaman GoTo mencapai Rp12 triliun, tumbuh 51 persen dibandingkan kuartal III-2025.
Meski demikian, perusahaan menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
GoTo sebelumnya memperketat pemberian pinjaman kepada kelompok pengguna dengan tingkat risiko tertinggi untuk menjaga kualitas kredit.
Kinerja Gojek Masih Terdampak Komisi 8 Persen
Di tengah pertumbuhan GoPay, bisnis layanan on-demand melalui Gojek menghadapi tantangan dari penerapan komisi 8 persen pada layanan GoRide.

Sepanjang kuartal III-2026, jumlah pesanan yang diselesaikan di segmen on-demand services tumbuh 9 persen secara tahunan. Namun, GTV hanya meningkat 1 persen menjadi Rp16,9 triliun.
EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis ini mencapai Rp347 miliar, naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
GoTo menyebut capaian tersebut sudah memperhitungkan dampak penerapan komisi 8 persen di GoRide selama satu kuartal penuh.
Dampak komisi tersebut terhadap layanan GoRide mencapai Rp150 miliar pada kuartal III-2026. Meski sempat mencatatkan EBITDA negatif pada Juli, kinerja GoRide disebut mulai membaik dan bergerak menuju titik impas.
Sementara itu, bisnis pengantaran mencatatkan pertumbuhan pesanan 7 persen secara tahunan. EBITDA yang disesuaikan juga meningkat 20 persen menjadi Rp227 miliar.
GoTo Naikkan Target EBITDA 2026
Seiring pertumbuhan bisnis fintech, GoTo menaikkan target EBITDA Grup yang disesuaikan sepanjang 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun.
Secara terperinci, target EBITDA bisnis fintech GoPay dinaikkan menjadi Rp1,9 triliun hingga Rp2 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.
Sementara itu, target bisnis on-demand services diperlebar menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Penyesuaian ini mempertimbangkan kinerja bisnis sekaligus potensi perubahan regulasi, termasuk aturan pelaksana layanan pengantaran.
![Ilustrasi GoPay. [gopay.co.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/20/83821-ilustrasi-gopay.jpg)
Selain meningkatkan kinerja operasional, GoTo juga melanjutkan program pembelian kembali saham. Hingga 29 Oktober 2026, perusahaan telah menggunakan dana Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham.
GoTo juga akan membatalkan 32 miliar saham treasuri atau sekitar 2,7 persen dari total saham perusahaan.
Langkah tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026 dan diperkirakan efektif dalam dua hingga tiga bulan setelah proses regulasi selesai.
Dengan pertumbuhan transaksi GoPay dan perbaikan kinerja bisnis secara keseluruhan, GoTo kini membidik EBITDA disesuaikan hingga Rp3,7 triliun pada akhir 2026.