alexametrics

Rubiyah: Kisah Buruh Gendong Yogyakarta dan Ancaman Kekerasan Seksual

Pebriansyah Ariefana
Rubiyah: Kisah Buruh Gendong Yogyakarta dan Ancaman Kekerasan Seksual
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Jokowi pernah menjanjikan kepada Rubiyah dan para buruh gendong untuk bisa mendapat pengakuan melalui peraturan negara, namun sampai saat ini belum juga tercapai.

Suara.com - Menjadi Buruh Gendong mungkin tidak banyak yang menginginkan, namun hal itu berbeda dengan Rubiyah (51). Ia memilih menjadi buruh gendong pada tahun 2004 karena terhimpit kondisi ekonomi.

Kedua anaknya yang duduk di bangku SMA dan SMP terancam putus sekolah. Demi cita-cita sang anak untuk bisa lulus ia menjajaki diri untuk bekerja di pasar Giwangan sebagai buruh Gendong.

Perjalanan ia menjadi buruh gendong tidak semulus yang ia bayangkan jalan begitu berliku-liku kadang senang, sedih bahkan susah. Ia menceritakan bagaimana awal masuk menjadi buruh gendong harus mengalami kekerasan seksual oleh para pekerja laki-laki di pasar.

Kondisi tersebut membuat dirinya shock dan trauma, namun karena kebutuhan ekonomi ia menjalaninya dengan rasa amarah terpendam-benci rasa ekonomi.

Baca Juga: Heboh! Gerombolan Pemotor Diduga Buruh Masuk Tol Dalam Kota

Tidak hanya itu ia juga mengisahkan pernah mendapat upah yang tidak layak, hanya mendapat Rp. 2000 sekali angkut, padahal barang yang ia bawa bisa mencapai 60 kilogram sampai 120 kilogram.

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Ia berpikir hal tersebut tidak sebanding dengan upah yang ia terima. Belum lagi dirinya mengalami perlakuan tak pantas dari jurangan sayur dan buah yang sewaktu-waktu bisa membentaknya karena tidak bisa bekerja dengan baik.

Selain itu ia menyampaikan jaminan kesehatan bagi para buruh gendong belum sepenuhnya terjamin satu sisi pekerjaan mereka amatlah berat. Pengalaman melihat rekannya kecelakaan dengan kaki keselo sampai jatuh karena membawa barang tidak membuat pemerintah menegok kondisi mereka. Pemerintah selalu abai dalam melihat kondisi warganya yang bersusah payah menjalani kehidupan.

Kondisi demikian dialaminya dalam kurun waktu yang cukup lama, hingga pada suatu masa pada tahun 2013 Rubiyah memutuskan untuk masuk ke organisasi Yasanti sebuah LSM yang fokus pada penanganan kekerasan seksual, KDRT dan para buruh gendong.

Di ruang itu Rubiyah banyak belajar bagaimana memposisikan diri menjadi perempuan yang berdaya meski upah tak seberapa.

Baca Juga: Prabowo: Kawan-kawan Buruh Mendorong Saya Maju ke Pilpres

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Pengalaman menemukan jati dirinya mulai terdorong setelah ditunjuk menjadi ketua Paguyuban Buruh Gendong DIY dari tahun 2013 sampai saat ini. Organisasi itu diberi nama Sayuk Rukun sebagai bentuk kebersamaan untuk para buruh gendong di DIY. Wadah ini menjadi ruang bagi buruh gendong untuk bertutur kisah akan perjalanan hidupnya di saat bekerja maupun di luar pekerjaan.

Dari organisasi itu pula, ia memperjuangkan hak-hak para buruh gendong mulai dari jaminan kesehatan, upah yang layak sampai pada keselamatan dalam bekerja. Rubiyah menceritakan para pejabat negara atau pemerintah daerah maupun pusat masih belum banyak yang tahu apa itu buruh gendong dan apa pekerjaan mereka. Mereka menganggap buruh gendong hanyalah penjual jamu.

Bahkan Jokowi sendiri dalam pertemuannya di Istana Gedung Agung Yogyakarta dalam peringatan hari HAM pada tahun 2015 masih mempertanyakan kapasitas buruh gendong sebagai pekerja yang harus diberi kenyaman dan akses kesehatan. Jokowi pernah menjanjikan kepada Rubiyah dan para buruh gendong untuk bisa mendapat pengakuan melalui peraturan negara, namun sampai saat ini belum juga tercapai.

Rubiyah berulang kali mempertanyakan regulasi yang menjamin para buruh gendong dalam bekerja, mulai dari mendatangi Dinas terkait, DPRD DIY, Disnaker DIY semua sia-sia regulasi itu bagi Rubiyah hanya omong kosong karena dari tahun 2013 sampai saat ini belum juga tercapai.

Pengalaman Rubiyah dalam memperjuangkan hak-hak buruh gendong terus dilakukan, baginya seorang buruh gendong mempunyai kontribusi besar untuk menjaga peradaban pasar tanpa buruh gendong perputaran barang di pasar tidak akan berjalan maksimal, Rubiyah dan rekannya hanya ingin mengupayakan agar pertumbuhan ekonomi yang cepat dan merata melalui kegiatannya sebagai pekerja buruh gendong dengan hak-hak buruh gendong, tidak lebih dari itu.

Berikut petikan wawancara Suara.com dengan Rubiyah yang berlangsung di Pasar Giwangan pada Kamis (7/2/2019) pagi.

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Apakah buruh gendong itu?

Buruh Gendong itu seseorang yang mencari nafkah di pasar dengan mengendong barang ketika ada pembeli datang lalu digendong barangnya.

Biasanya para Buruh Gendong itu seseorang yang mencari nafkah yang awal mulanya untuk tambahan keluarga namun pada akhirnya menjadi kebutuhan pokok maksudnya harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga kalau tergantung sama suami gak akan cukup untuk kebutuhan rumah tangga.

Sejak kapan ada buruh gendong di Yogyakarta?

Sejak nenek moyang dulu sih, bahkan sejak ibu saya dulu sudah jadi buruh gendong. Ibu saya di tahun 50an sudah mulai kerja gendong, kalau dulu ibu saya mulai gendong dikasi Rp. 50. Jadi buruh gendong ada di Jogja bisa lebih dari tahun itu. Tapi kalau ada organisasi baru 2013 itu. Dulu ngajak ngumpul susah karena kan niat mereka kan kerja tapi lama-lama jadi sadar bahwa organisasi penting.

Sepengalaman ibu, bagaimana perkembangan Buruh Gendong dari masa ke masa?

Kondisinya berkembang membaik, awal masuk jadi Buruh Gendong itu susah diatur antara juragan sama kuli masih timpang jadi gak setara. Dulu kepengurusan kan di bawah pedagang kita berani membangkan langsung dimarah. Bahkan lebih parah karena kuli laki dan perempuan berebutan cari barang untu digendong, selain itu upah laki lebih tinggi dari perempuan.

Tapi kondisi sekarang baik setelah ada paguyuban Sayuk Ruku sekarang kita sudah punya kesetaraan kita bisa menaklukan jurangan, sekarang jadi sama sehingga kita lebih berani.

Kalau di DIY ada berapa total keseluruhan Buruh Gendong ?

600-an orang tersebar di Pasar Bringharjo itu 400-an di Pasar Gamping ada 48 di Pasar Kranggan 13 di Pasar Giwangan 150 tapi yang aktif 135.

Kalau boleh tahu, ibu sejak kapan menjadi Buruh Gendong ?

Sejak 2004 itu dilakukan karena kondisi keadaan ekonomi keluarga anakku SMA kelas 2 sudah di panggil sekolah karena gak bisa bayar SPP 3 kali, lalu anak SMP juga gak bayar SPP 2 kali, dari sana saya lari ke Buruh Gendong akhirnya bisa bantu suami bayar SPP, bersyukur bisa meluluskan sekolah anak saya. Anakku sekarang sudah nikah, sudah punya cucu.

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Berapa penghasilan perhari menjadi buruh gendong?

Sekarang ya tergantung temen-temen, kalau banyak buruh gendong sedikit pendapatan kadang bisa dapat Rp.30.000-Rp.40.000 perhari, tapi kalau buruh gendongnya sedikit yang kerja bisa dapat Rp. 50.000 dalam sehari.

Waktu kerja kapan saja?

Semampunya kalau dalam kondisi capek ya behenti, tapi secara umum kerjanya non stop dari jam 12.00 WIB sampai pagi hari ada, kalau saya jam 11.00 WIB siang berangat jam 21.00 WIB malam pulang. Kalau dalam bekerja kadang dapat satu truk bisa sendiri angkutnya itu-pun kalau gak banyak buruh Gendong saya kadang bisa sendiri angkut barang.

Apa yang membuat Ibu menekuni Buruh Gendong?

Karena pekerjaan yang saya bisa itu, lainnya gak bisa dulu pernah jualan tapi gak dapat untung karena banyak yang ngutang, kalau Buruh Gendong bisa langsung dapat upah.

Menurut Ibu, seperti apa kondisi Buruh Gendong di DIY?

Kalau sekarang kondisinya kita belum ada jaminan kesehatan meskipun masing-masing buruh gendong punya Jaminan Kesehatan (Jamkesnas) tapi kan nggak berlaku kalau gak KTP Jogja ke puskesma masih bayar kalau sakit di sekitar pasar, kan ada dari luar Jogja juga saat ini kita berusaha mencari BPJS Ketenagakerjaan agar bisa mendapat jaminan kesehatan.

Bayangkan beban berat barang yang digendong saja bisa 60 kilogram barang yang digendong misalnya kentang bisa mencapai 80 kilogram, saya paling berat gendong barang itu bisa mencapai 120 kilogram. Itu dilakukan setiap hari mulai pagi, siang, malam, satu karung sehari bisa 20 kali gendongan ya hitung saja berapa kilo totalnya.

Selain itu merasa kurang sejahtera dan upah yang belum layak. Kita dapat per-angkut Rp 4.000 sehari bisa Rp 30.000 jadi rata-rata perbulan bisa dapat Rp 900.000 itu gak cukup di Jogja, tapi bagaimana lagi, ya alhamdulillah itu beruntung padahal biaya hidup naik.

Mulai dua tahun ini sudah Rp 4.000 sekali angkut, sebelumnya Rp 2.000 bisa jadi Rp 4.000 itu perjuangan bertahun-tahun minta pengakuan. Itu bawa ke manapun Rp 4.000 gak melihat jarak kemana-pun diantar tetap upahnya Rp 4.000.

Belum lagi fasilitas umum seperti toilet yang bayar Rp 2.000 kalau mandi sedangkan Rp 1.000 kalau pipis soalnya yang digunakan itu masih kamar mandi milik kampung, memang kita sudah dikasi sama dinas pasar tapi jauh banget kalau kebelet bisa keluar di jalan.

Kontributor : Abdus Somad

Sekali angkut beban bisa 60 kilogram sampai 120 kilogram, bagaimana kondisi badan?

Iya nggak gimana-gimana awal-awal itu pegel tapi lama-kelamaan biasa kalau capek ya istirahat, kalau pegel ya dipijat minta tolong anak, gak ada masalah apa-apa sih.

Apa saja barang yang susah dibawa saat bekerja?

Daun bawang itu kadang ada tanahnya lalu antri di timbangan jadi lama banget, selain itu tomat yang pakai kerak warna biru bawa itu bisa bikin sakit punggung padahal isinya 50-60 kilogram.

Kabarnya menjadi buruh Gendong rentan akan kekerasan seksual, apa benar?

Iya benar

Apakah ibu mau bercerita akan peristiwa itu?

Awal jadi Buruh Gendong itu mengerikan sekali antara kuli perempuan dan laki-laki campur jadi satu kemudian memunculkan banyak pelecehan seksual bentuknya kadang dicolek badannya itu awal-awal gendong.

Semua pernah mengalami di mana-mana terjadi, wong dulu si Mbokku masih gendong rasanya ngeri sekali, saya sampai gak boleh ikut karena kekerasan seksualnya tinggi bahkan ada yang hamil bukan sama suami sahnya.

Saat saya mengalami pelecehan saya hanya bisa nangis, saya harus lapor ke mana bingung hanya bisa nangis, aku melihat buruh gendong yang muda juga mendapat perlakuan kekerasan seksual aku jengkel aku sakit hati melihat hal itu.

Lalu ada organisasi Yasanti saya coba ikut di tahun 2009 ternyata kelompok itu ada pertemuan ada kegiatan pelatihan aku bisa mengikuti.

Ada pelatihan KDRT, Gender di Yasanti semua dipraktekan bagaimana mengantisipasi kekerasan verbal dan kekerasan seksual. Kita membuat paguyuban Buruh Gendong pada tahun 2013 di bulan lima.

Apa ada kasus lain yang dialami Gendong?

Ada dulu, ada barang gendongan hilang karena salah taruh di mobil lalu hilang waktu itu buruh gendongnya harus ganti. Tanggungjawab Buruh Gendong berat juga.

Lain halnya kalau gendong semangka lalu jatuh itu akan tergantung pembeli kalau pembeli sadar kondisi Buruh Gendong lalu pakai hati mungkin gak ganti tapi kalau gak ya bisa ganti. Tapi kami belum pernah terjadi.

Dulu sering dikata-katain juragan dan pembeli dibilang gak berdayalah, hanya seoarang buruhlah mendengar itu hanya bisa nangis sekarang dikatai-katain sudah berani ngomong dulu gak bisa ngomong apa.

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Kalau kecelakan bekerja apa saja yang pernah dialami?

Kaki keseleo karena jatuh, lalu kadang jatuh pada saat menata di mobil itu kan diangkat lalu jatuh pernah juga, bahkan itu yang punya barang malah gak ngurusi, lalu kita rembuk lalu dikasi santunan.

Merasakan hal itu apa yang akan dilakukan oleh Paguyuban Buruh Gendong DIY?

Kita menuntut pengakuan tertulis sebagai pekerja formal kan kita masih dianggap pekerja informal meskipun di dinas sudah diakui tapi secara lisan saja. Kalau Surat Keputusan (SK) sudah tapi satu kelompok satu SK seperti SK Pasar Giwangan dan SK Brigahrjo itu SKnya satu.

Kita kan maunya pengakuan tertulis seperti adanya Peraturan Gubernur atau Peraturan Daerah kan kita jadi gak bermasalah nanti.

Seperti apa perjalanan mendapatkan hak tersebut?

Kitas sejak tahun 2004 sudah kita ke Dinas di DIY lalu ke Depnaker Jakarta lalu kita ke DPRD sampai DPRD komisi 9 turun. Ternyata mereka banyak yang gak tahu buruh gendong, banyak yang mengira buruh gendong itu hanya orang jualan jamu saja, padahal kan gak.

Lalu pada tahun tahun 2015 aku diundang ke Istana Gedung Agung Yogyakarta ketemu Jokowi pada saat peringatan hari HAM. Aku malah dihadang di pintu masuk oleh empat polisi saya tetap jalan saja tapi lalu di oyak (didatang-red) 6 polisi polisi saya gak dikasi masuk padahal bawa undangan.

Setelah menunjukan undangan saya dikasi masuk disana ketemu Jokowi dan salaman, saya ditanya masak ibu Buruh Gendong? Saya bilang iya-iyalah bapak mau lihat punggung saya boyok. Lalu semua ketawa pak Sultan juga ketawa

Apa yang disampaikan ke Jokowi?

Saya sampaikan kepada Jokowi, kita minta Buruh Gendong diperhatikan dan diakui, beliau jawab iya-iya saja, lalu suruh ngirim data para pekerja. Kami sudah kirim lewat pos tapi belum ada tindakan sampais sekarang.

Cuma bulan juli 2018 itu DPR komisi IX ke Disnakeker DIY dia berjanji katanya suara buruh gendong harus diperhatikan katanya mau difollow di Perda tapi belum ada perkembangan.

Tapi di DIY ada Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Nomor 12 tahun 2013, itu belum bisa buat sejahtera?

Belum, wong ada bantuan saja gak merata aku saja belum pernah dapat dampaknya. Iya tetap kurang sejahtera padahal kan untuk masyarakat miskin juga satu sisi Buruh Gendong itu banyak warga DIY ada di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, yang terbanyak di Kulon Progo. Tapi belum juga diperhatikan.

Menurut Ibu, seberapa penting Buruh Gendong di DIY?

Penting banget para pedagang kalau gak ada buruh gendong bagaimana kan susah, kalau buruh gendong kan gak ada kegiatan lain jadi itu lapangan pekerjaan bagi mereka. Mereka dibutuhkan banget kalau nggak ada Buruh Gendong itu susah benar. Kita juga kan mempertahankan keberadaan pasar tradisional juga.

Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)
Buruh gendong Yogyakarta, Rubiyah. (Suara.com/Abdus Somadh)

Biografi singkat Rubiyah

Rubiyah (51) merupakan perempuan asli Daerah Istimewa Yogyakarta, ia lahir pada April tahun 1964 di tanah yang dikenal daerah kawasan seribu gunung-Gunungkdul. Dia adalah aktivis buruh gendong di Yogyakarta.

Masa kecil Rubiyah dihabiskan di Gunungkidul, ia berhasil lulus Sekolah Dasar Negeri 2 Mecijah Gunungkidul karena keadaan ekonomi keluarga, Rubiyah tidak dapat melanjutkan sekolahnya e jenjang yang lebih tinggi. Ia pada saat itu memilih untuk bekerja sampai pada akhirnya menjadi Buruh Gendong di Pasa Giwangan.

Pada tahun 1966 Rubiyah menikah dengan lelaki asal Bantul bernama Jupriono dari pernikahannya itu ia dikaruniai empat anak, anak pertama sudah menikah dan bekerja anak kedua dan ketiga sudah bekerja sedangkan anak terakhir masih bersekolah di bangku SMP.

Kontributor : Abdus Somad

Komentar