Praktek Curang dalam Pemilu Sejak Zaman Orba, Waspadai Pemilu 2024

bandungbarat Suara.Com
Sabtu, 27 Agustus 2022 | 20:31 WIB
Praktek Curang dalam Pemilu Sejak Zaman Orba, Waspadai Pemilu 2024
Menko Polhukam Mahfud MD (fud MD (Dok. Kemenko Polhukam))

SuaraBandungBarat.id - Pesta demokrasi lima tahunan sudah di depan mata. Pileg dan Pilpres di Republik ini jika tiada hambatan akan dilaksanakan pada tahun 2024 mendatang. 

Menyikapi pesta demokrasi lima tahunan tersebut, Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan bahwa pemilu 2024 masih rentan kecurangan. Sebab sejak Orde Baru (orba), kecurangan-kecurangan masih saja terus terjadi bahkan terkesan ada pembiaran.

Pada masa jaya-jayanya orba, kecurangan lebih banyak dilakukan pemerintah. 

Pemerintah orba melakukan kecurangan melalui Lembaga Pemilihan Umum (LPU) dengan memenangkan Golkar dan fraksi ABRI sebagai alat politik dan legitimasi pemerintahan saat itu.

Sebaliknya masa orde reformasi ini, kecurangan banyak dilakukan partai politik (parpol). Kecurangan bersifat horizontal di tingkat parpol.

"Praktik kecurangan di Pemilu terus terjadi sejak zaman orde baru hingga kini," ujar Mahfud di UGM, Sabtu (27/08/2022).

Karenanya menjelang Pemilu 2024, Mahfud meminta para elite politik dibekali visi ke-Indonesia-an dan prinsip kehidupan bernegara. Hal itu sangat penting agar Indonesia tidak mengalami kemunduran demokrasi.

Apalagi kekuasaan oligarki hingga korupsi yang semakin menguat akhir-akhir ini. Oligarki yang merupakan sistem kepemimpinan hanya ditentukan oleh sekelompok orang yang saling kolutif, berbicara, merencanakan secara curang dan memformulasikannya melalui undang-undang, melalui kebijakan resmi legislatif.

"Sehingga ada permainan di situ," tandasnya.

Baca Juga: Borneo FC Lawan Persis Solo, Kei Hirose dan Javlon Guseynov Bakal Absen, Kenapa?

Untuk itu, Mahfud meminta para capres-cawapres, bakal calon legislatif dari pusat hingga daerah harus ke KPU pada Mei 2023 mendatang. 

Mereka harus mengikuti proses penggodokan untuk dibekali visi ke-Indonesia-an yaitu membangun demokrasi dan prinsip-prinsip lain kehidupan negara.

Maksud dari pembekalan tersebut diharapkan menjadikan Demokrasi ala Indonesia ke depan bisa lebih baik. Bukan sebaliknya demokrasi Indonesia mengalami kemunduran demokrasi dan tidak melahirkan demokrasi substantif dan berkualitas.

"Demokrasi yang lahir dari cara-cara menggunakan formalisme, tidak akan memberi dampak positif, bahkan merugikan dalam upaya membangun kesejahteraan rakyat," pungkasnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi
Sumber : Suara.com

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI