Suara.com - Pemerintah diminta lebih serius memperhatikan permasalahan listrik di Indonesia. Pasalnya, permasalahan listrik akan menjadi masalah yang besar dan kompleks apabila tidak segera ditangani.
Politikus Partai Golkar dari Komisi VII Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan, dengan semakin banyak ditemukannya sumber daya energi terbarukan seperti air, panas bumi, sinar matahari, dan angin, seharusnya saat ini Indonesia sudah lepas dari ketergantungan terhadap energi fosil.
“Selama pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), pembengkakan subsidi listrik akan terus menjadi masalah yang ujung-ujungnya masyarakat menjadi korban," ujarnya, dalam siaran pers, Senin (3/3/2014).
Selain itu, pemerintah harus mendorong PLN untuk mengembangkan pembangkit yang menggunakan sumber energi terbarukan. Lanjut Bobby, pemerintah juga harus terus mendesak PLN agar lebih maksimal dalam mendirikan pembangkit-pembangkit listrik baru.
Dalam kurun waktu 2000-2009, Indonesia telah membangun pembangkit listrik dengan laju pertumbuhan sebesar 2,4% pertahun. Selama kurun waktu tersebut, PLTU Batubara dan PLTGU mendominasi kapasitas pembangkit listrik nasional dengan pangsa sebesar 33% dan 30%.
Selama 9 tahun tersebut PLTA, PLTP, dan PLTD juga berkembang dengan laju pertumbuhan berturut turut sebesar 1,7%, 1,6% dan 1,7%. PLTG mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan laju pertumbuhan sebesar 8,8%.
“Ke depan PLN harus berbenah diri, sehingga nilai devidennya bisa jauh lebih besar dari subisdi listriknya,” ucap Bobby.
Karena itu, untuk pembangkitan listrik Indonesia harus mampu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar BBM. Sebagai contoh untuk memenuhi kebutuhan listrik di Wamena, pemerintah mengangkut solar menuju pembangkit listrik dengan menggunakan pesawat udara.
Harga solar yang seharusnya Rp. 6.000/liter itu, harganya membengkak menjadi 16.000/liter. Atau dengan kata lain, biaya pengiriman solar ke Wamena tiap bulan saja menghabiskan biaya rata-rata sebesar RP. 1.132.362.000,00.
“Bayangkan jika uang sebesar itu digunakan untuk membangun infrastruktur di Wamena,” imbuhnya.