Suara.com - Wabah Ebola menjadi salah satu bahasan penting dalam pertemuan puncak para pemimpin ASEAN dan Korea Selatan, dalam KTT Dialog ASEAN-Korsel ke-25 di Busan, Korea Selatan, Jumat (12/12/2014).
ASEAN dan Korsel menganggap pentingnya penuntasan wabah Ebola karena virus mematikan itu telah membuat kepanikan global, yang berdampak pada stabilitas perekonomian.
Hal itu diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada wartawan di Pesawat Kepresidenan saat menuju Tanah Air. "Kami memberikan peringatan karena Ebola sangat penting sekali. Untuk kawasan kita juga penting, karena kalau tidak ditangani serius akan berimbas pada stabilitas ekonomi," ujar Presiden.
Selain Ebola, lanjut Presiden, pertemuan juga membahas soal stabilitas keamanan dan perdamaian kawasan. "Stabilitas keamanan dan perdamaian ini penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang sedang berkembang baik kawasan ini," ujarnya.
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan bahwa KTT para pemimpin juga bersepakat melakukan tindakan pencegahan dan tukar-menukar informasi terkait dengan penyakit Ebola.
Selain itu, menurut Menko, para pemimpin juga menyepakati untuk meningkatkan perdagangan antara wilayah ASEAN dan Korea.
Saat ini, menurut Menko, nilai perdaganagan ASEAN dan Korea Selatan mencapai 135 miliar dolar AS. Pada tahun 2020, para pemimpin kedua pihak menargetkan nilai perdagangan mencapai 200 miliar dolar AS.
Menko menambahkan bahwa KTT juga sepakat untuk terus mendorong peningkatan investasi Korea Selatan di negara-negara ASEAN.
Sementara itu, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pukul 21.50 WIB.
Presiden tiba setelah enam jam lebih terbang dari Busan, Korea Selatan.
Presiden melakukan lawatan selama dua malam, 10-12 Desember 2014. Selain menghadiri KTT Dialog ASEAN-Korsel, Presiden juga meninjau pabrik kapal DSME, bertemu dengan masyarakat Indonesia, pertemuan bilateral dengan Presiden Korsel Park Geun-hye, serta serangkain pertemuan dengan para pengusaha Korsel. (Antara)