Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Penyerapan Beras Bulog Baru 1,2 Juta Ton

Siswanto | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Senin, 01 Juni 2015 | 14:26 WIB
Penyerapan Beras Bulog Baru 1,2 Juta Ton
Presiden Joko Widodo mengecek beras di gudang Beras Bulog di Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (25/2). (Antara)

Suara.com - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik menyatakan penyerapan gabah dan beras hingga Minggu (31/5/2015) mencapai sekitar 1,2 juta ton. Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Lely Pelitasari mengatakan penyerapan tahun ini lebih rendah 300 ribu ton jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2014.

"Sampai dengan 31 Mei 2015, pembelian gabah dan beras oleh Bulog dari dalam negeri hampir 1,2 juta ton dibanding 31 Mei 2014 ada selisih 300.000 ton sedikit lebih rendah,” katanya saat ditemui di acara diskusi Pangan Kita di Jakarta, Senin (1/6/2015).

Lely menjelaskan rendahnya realisasi penyerapan gabah lantaran Bulog baru dapat membeli beras setelah diberlakukannya Inpres Nomor 5 Tahun 2015 pada Maret lalu. Menurutnya, setelah Bulog diubah menjadi badan usaha milik negara, setiap keputusan dan kebijakan yang diambil harus menunggu restu pemegang saham, dalam hal ini Kementerian BUMN.

"Realisasi tahun ini lebih rendah disebabkan Bulog baru bisa melakukan pembelian setelah dikeluarkannya Inpres Nomor 5 Tahun 2015 pada Maret lalu," katanya.

Selain itu, tambah Lely, penyaluran beras untuk keluarga miskin hingga Mei ini mencapai 1.040.000 ton atau sekitar 90 persen dari target Mei. Lely mengatakan masih terdapat beberapa daerah yang belum mendapatkan pendistribusian beras raskin, dikarenakan masih terjadi tunggakan.

"Penyaluran Raskin tercatat 1.040.000 ton. Masih terkendala banyak hal. Ada daerah remote yang disalurkannya 1-2 bulan sekali," katanya.

Pengamat ekonomi dari lembaga Indef Enny Sri Hartati mengungkapkan penyerapan Bulog yang baru sekitar 1,2 juta ton tersebut terbilang masih rendah dan akan sulit untuk mencukupi kebutuhan beras dalam negeri. Pasalnya, menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri ini kebutuhan akan beras akan mengalami peningkatan. Dikhawatirkan stok beras di Bulog tidak mencukupi hingga lebaran.

"1,2 juta itu masih rendah, akan sulit untuk mencukupi kebutuhan beras nasional kita. Minimal kalau mau aman Bulog sampai hari ini sudah harus bisa menyerap sekitar 3,5 juta ton agar stok melimpah dan meminimalisir adanya lonjakan harga. Jadi Bulog harus segera menyerap beras di petani agar masyarakat mendapat kepastian bahwa stok beras aman hingga beberapa bulan ke depan," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemerintah Selama Ini Beli Beras Ngutang ke Bank

Pemerintah Selama Ini Beli Beras Ngutang ke Bank

Bisnis | Senin, 01 Juni 2015 | 14:16 WIB

Presiden Jokowi Diminta Ubah Bulog Jadi LPNK

Presiden Jokowi Diminta Ubah Bulog Jadi LPNK

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2015 | 13:43 WIB

Menko Sofyan Setuju dengan Perombakan Fungsi Bulog

Menko Sofyan Setuju dengan Perombakan Fungsi Bulog

Bisnis | Rabu, 27 Mei 2015 | 21:51 WIB

10 Tahun Impor Pangan 346 Persen, Bagaimana Swasembada Pangan?

10 Tahun Impor Pangan 346 Persen, Bagaimana Swasembada Pangan?

Bisnis | Senin, 25 Mei 2015 | 14:09 WIB

Terkini

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:30 WIB

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:35 WIB

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:23 WIB

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:17 WIB

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:14 WIB

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:57 WIB

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:51 WIB

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:47 WIB

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:32 WIB

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:25 WIB