25 Tahun Lahan Petani Tambah 2,96 Persen, Pemerintah Pro Siapa?

Siswanto, Dian Kusumo Hapsari

Selasa, 28 Juli 2015 | 17:02 WIB
25 Tahun Lahan Petani Tambah 2,96 Persen, Pemerintah Pro Siapa?
Kemarau mengakibatkan petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawahnya (Antara/Rudi Mulya)

Suara.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas mengatakan dalam kurun waktu 25 tahun, lahan pertanian cuma tambah sekitar 2,96 persen. Sedangkan lahan perkebunan tambah sampai sekitar 144 persen.

“Dari sini kan kelihatan, pemerintah lebih pro dengan siapa. Selama 25 tahun lahan pertanian yang cuma pangan saja ya hanya tumbuh 2,96 persen. Bagaimana kita mau membangun sikap optimisme di sektor pertanian dan pangan di Indonesia. Lahannya saja nggak ada,” kata Andreas dalam diskusi bertema Managing Economics Slowdown di Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Dari tahun ke tahun, lanjut Andreas, kepemilikan lahan oleh petani terus menurun, sebaliknya sengketa lahan terus meningkat.

Berdasarkan hasil penelitian INDEF, sebanyak 69,8 persen rumah tangga pedesaan di Pulau Jawa pada 1993 merupakan petani gurem yang lahannya di bawah 0,5 hektar. Namun jumlah tersebut meningkat hingga 74,9 persen pada 2003.

Sedangkan di luar Jawa, pada 2003 terjadi peningkatan rumah tangga pedesaan petani gurem sebesar 33,9 persen. Sebelumnya, 1993, hanya sebesar 30,6 persen.

Jumlah petani gurem yang bertambah 2,6 persen per tahun dari 10,8 juta di 1993 menjadi 13,7 juta di 2003 menunjukkan bahwa sekitar 68,5 juta orang Indonesia menggantungkan hidupnya dari lahan dengan luas kurang dari 0,5 hektar.

“Ini menandakan bahwa hampir setara dengan 35 juta hektar lahan pertanian tidak lagi digunakan secara produktif,” katanya. “Dengan lahan itu, petani tidak dapat memberikan suatu skala yang menguntungkan sebagai suatu unit usaha tani kecuali jenis hortikultura yang bernilai tinggi.”

Bahkan, ketimpangan lahan hampir mencapai dua kali dibandingkan dengan ketimpangan konsumsi dan telah meningkat lebih cepat selama 40 tahun terakhir, terutama di Pulau Jawa.

Oleh sebab itu, pemerintah diimbau jika ingin mencapai swasembada pangan harus membuat kebijakan yang mensejahterakan kehidupan petani. Salah satunya dengan memberikan lahan pertanian yang jelas.

“Swasembada pangan itu dapat tercapai kalau petaninya sejahtera, kalau enggak bagaimana mau swasembada. Selain itu, Nilai Tukar Petani harus dikaji kembali. Jangan terlalu rendah hal tersebut membuat petani lebih memilih menjual gabah kalau rendah bagaimana petani bisa menanam padi lagi, wong modalnya enggak ada,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

FAO: Lahan Subur dan Produktif Makin Menipis

FAO: Lahan Subur dan Produktif Makin Menipis

News | Jum'at, 05 Desember 2014 | 07:44 WIB

Pemprov Jakarta Mau Sulap Sebagian Kawasan Reklamasi Pantai Jadi Lahan Pertanian

Pemprov Jakarta Mau Sulap Sebagian Kawasan Reklamasi Pantai Jadi Lahan Pertanian

News | Senin, 15 September 2014 | 14:05 WIB

Mentan: Presiden Terpilih Mesti Perluas Lahan Pertanian

Mentan: Presiden Terpilih Mesti Perluas Lahan Pertanian

News | Jum'at, 11 Juli 2014 | 21:08 WIB

Mentan: Lahan Pertanian Berkurang 60 Ribu Hektar per Tahun

Mentan: Lahan Pertanian Berkurang 60 Ribu Hektar per Tahun

Bisnis | Jum'at, 18 April 2014 | 16:19 WIB

Terkini

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Sumut | Minggu, 27 September 2026 | 23:46 WIB

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:31 WIB

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jabar | Minggu, 27 September 2026 | 22:22 WIB

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Jogja | Minggu, 27 September 2026 | 22:10 WIB

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:06 WIB

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

News | Minggu, 27 September 2026 | 21:40 WIB

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 21:34 WIB

3 Produk Air Mawar Murah di Alfamart dan Indomaret, Harga Mulai Rp13 Ribuan

3 Produk Air Mawar Murah di Alfamart dan Indomaret, Harga Mulai Rp13 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 21:34 WIB

Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam

Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 21:05 WIB

Quality Time Keluarga Tak Harus Lama, yang Penting Hadir Sepenuhnya

Quality Time Keluarga Tak Harus Lama, yang Penting Hadir Sepenuhnya

Health | Minggu, 27 September 2026 | 21:00 WIB

×