Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.092,467
LQ45 682,759
Srikehati 330,936
JII 470,691
USD/IDR 17.400

Pengrajin Tempe: Jangan Sampai Rupiah Tembus Rp15.000

Esti Utami | Suara.com

Selasa, 25 Agustus 2015 | 21:09 WIB
Pengrajin Tempe: Jangan Sampai Rupiah Tembus Rp15.000
Pedagang bahan pokok di pasar tradisional. (Antara/Reno Esnir)

Sejumlah produsen tempe di wilayah Cimanggu Baratan, Kota Bogor, Jawa Barat, mengaku khawatir  dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah. Kondisi ini sangat berpengaruh pada harga kedelai sebagai bahan baku utama.

"Rupiah sekarang sudah Rp14.000 kami sudah kesulitan modal untuk membeli kedelai, jangan sampai Rp15 ribu, kami bisa tidak jualan," kata Kasmono (60), salah satu produsen tempe saat ditemui di Bogor, Selasa (25/8/2015).

Kasmono menyebutkan, selama sepuluh hari terakhir sudah terbebani dengan harga beli kedelai impor yang terus naik, seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Jika dulu dia membeli kedelai per kuintalnya sekitar Rp680 ribu, kini sudah mengalami kenaikan menjadi Rp700 ribu. Sehari dia membutuhkan empat kwintal untuk memproduksi kurang lebih 1.500 tempe dengan berbagai ukuran.

"Kalau sekarang kita jualan seadanya, tipis untung. Biasanya dapat untung semisal Rp50 ribu, sekarang cuma Rp25 ribu," kata bapak tujuh anak itu.

Kasmono mengatakan, meski ongkos produksi meningkat. Ia belum berani untuk menaikkan harga jual tempe, termasuk memperkecil ukuran. Saat ini harga jual tempe masih normal Rp5.000 untuk ukuran kecil dan Rp10 ribu ukuran besar.

"Belum berani saya naikkin, yang harga sekarang aja masih banyak yang nawar, apalagi dinaikkin, kasihan masyarakat," katanya.

Kasmono dan puluhan perajin tempe yang berada di wilayah Cimanggu Barata, Kecamatan Tanah Sareal, sepakat masih bertahan menjual tempe dengan harga normal, walau mereka harus menanggung minim keuntungan.

Dari 1.500 tempe yang dihasilkan oleh Kasmono ia pasarkan di tiga pasar yakni Pasar Bogor, Pasar Anyar dan Pasar Jambu Dua. Dia menjual sendiri tempe yang diproduksinya dibanti anak-anaknya yang juga sudah menjadi produsen.

Selain Kasmono, keresahan serupa juga disampaikan Damiri (44). Menurutnya, jika rupiah terus melemah sampai Rp15 ribu, sebagian produsen dan pedagang tempe akan memilih stop berjualan.

"Kalau masih Rp14 ribu kita kuat-kuatin, walau kita babak belur karena minim untung. Tapai kalau sampai dolar naik Rp15 ribu, pasti berpengaruh sama kedelai, kita yang terancam gulung tikar," ujar Damiri. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Wendi Cagur Keluhkan Penurunan Nilai Rupiah, Soimah: Rp1 Juta Tak Bisa Buat Beli Emas 1 Gram

Wendi Cagur Keluhkan Penurunan Nilai Rupiah, Soimah: Rp1 Juta Tak Bisa Buat Beli Emas 1 Gram

Entertainment | Senin, 06 Oktober 2025 | 06:00 WIB

Media Singapura Soroti Nilai Rupiah Melemah Imbas Demo di DPR: Berkinerja Terburuk Kedua di Asia

Media Singapura Soroti Nilai Rupiah Melemah Imbas Demo di DPR: Berkinerja Terburuk Kedua di Asia

News | Kamis, 22 Agustus 2024 | 16:45 WIB

Rupiah Nyaris Tembus Rp15 Ribu Per Dolar AS, Ini Dampak yang Bakal Muncul

Rupiah Nyaris Tembus Rp15 Ribu Per Dolar AS, Ini Dampak yang Bakal Muncul

News | Selasa, 05 Juli 2022 | 20:24 WIB

Terkini

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:30 WIB

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:35 WIB

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:23 WIB

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:17 WIB

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:14 WIB

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:57 WIB

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:51 WIB

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:47 WIB

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:32 WIB

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:25 WIB