KNTI: Ini Momentum Perbaikan Pengelolaan Perikanan

Siswanto

Minggu, 27 Desember 2015 | 14:04 WIB
KNTI: Ini Momentum Perbaikan Pengelolaan Perikanan
Para nelayan pesisir Jakarta bersama keluarga berlayar mengikuti sedekah bumi Nadran di Muara Angke, Jakarta Utara, Minggu (13/12). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Niko Amrullah menyatakan kalau melihat realitas di 2015, dampak transisi perubahan kebijakan masih akan terasa di tahun 2016.

Niko menduga kontribusi sektor perikanan terhadap PDB Nasional berdasarkan harga berlaku masih pada kisaran 2,5 persen. Begitupun PNBP di sektor perikanan masih pada kisaran Rp300 miliar – Rp400 miliar.

Proyeksi ini bisa tidak berlaku, lanjut Niko, atau bahkan dapat melampaui pencapaian di 2015 bilamana pemerintah melakukan upaya segera untuk menjawab keperluan peralihan alat tangkap ramah lingkungan, menjaga harga jual komoditas ikan dan produk perikanan, kemudahan akses terhadap modal usaha, serta menyelenggarakan sistem perijinan mudah, murah, dan akuntabel di awal 2016.

Ada tiga faktor pendukung momentum perbaikan pengelolaan perikanan di 2016, kata Niko. Pertama, pemberantasan illegal fishing yang dilakukan secara terus-menerus sehingga berhasil meneyelamatkan sumber daya dan menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan. Estimasi paling moderat sekitar 1 juta ton ikan terselamatkan dari praktik IUU Fishing. Jika benar, maka potensi ini berpeluang meningkatkan pendapatan nelayan.

Kedua, peningkatan anggaran KKP, khususnya terkait peningkatan kesejahteraan nelayan.

"Misalnya pengadaan lebih dari tiga ribu kapal, pengadaan alat tangkap, benih ikan dan seterusnya di 2016," kata Niko dalam pernyataan tertulis yang dikirim kepada Suara.com, Minggu (27/12/2015).

Ketiga, terus berkembang dan terbangunnya organisasi nelayan dan koperasi nelayan di berbagai daerah Indonesia.

Namun ada enam hal yang menjadi penghambat di tahun 2016. Pertama, partisipasi masyarakat nelayan dalam inisiasi program dan kebijakan perikanan dan kelautan masih dikesampingkan. Kedua, perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin panjang periodenya. Ketiga, akses terhadap Kredit Usaha Rakyat tanpa agunan kepada nelayan, seperti dijanjikan pemerintah, belum benar-benar terealisasi di lapangan. Keempat, kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di laut terbilang rendah. Kelima, harga input produksi semacam BBM dan pakan ikan di kampung-kampung nelayan masih belum terkendali. Keenam, munculnya perlawanan balik dari sederet perusahaan perikanan yang merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah di 2015.

Ketua Bidang Hukum dan Pembelaan Nelayan DPP KNTI Martin Hadiwinata menambahkan untuk menggenjot produksi perikanan tangkap di 2016 terbilang sulit. Selain karena kapasitas tangkapannya sudah terbilang over eksploitasi, ada persoalan kelembagaan perikanan tangkap yang belum tuntas. Misalnya, alokasi perijinan dan skema perijinan baru yang tersosialisasikan. Pengukuran ulang kapal ikan yang belum tuntas, sedangkan di lain hal terdapat bantuan lebih dari 3.000 kapal masih akan membutuhkan waktu untuk pembangunannya.

“Sebagai alternatif, peningkatan produksi perikanan dapat di pasok dari sub sektor perikanan budidaya. Idealnya, peningkatan produksi perikanan budidaya di 2016 dapat meningkat 3 kali atau bahkan 4 kali lebih besar dari produksi perikanan tangkap di 2014 “ kata Martin.

Sebagai prasyaratnya, lanjut Martin, pemerintah harus memastikan harga pakan terkendali, tersedia benih yang berkualitas, serta di dukung dengan lingkungan perairan yang sehat. Komoditas udang dan tuna masih akan mendapati proporsi terbesar dalam ekspor perikanan di 2016.

“Oleh sebab itu, di tahun 2016 pemerintah khususnya KKP harus berfokus pada agenda kesejahteraan untuk memanfaatkan momentum perairan Indonesia yang bebas dari pencurian ikan," kata Martin.

Martin menguraikan bahwa strategi kesejahteraan ini harus di awali dengan meningkatkan partisipasi organisasi-organisasi nelayan di seluruh Indonesia dalam menentukan inisiatif program dan arah kebijakan kelautan dan perikanan ke depannya. Lalu, melibatkan organisasi-organisasi nelayan dalam implementasi dan pengawasan program.

“Terakhir, memberikan dukungan kepada organisasi-organisasi nelayan untuk meningkatkan kapasitasnya masing-masing dalam hal aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan begitu, kesejahteraan nelayan akan terus mengawal keberlanjutan pemberantasan pencurian ikan,” kata Martin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

2015: Sektor Perikanan Dominan Pencegahan, Tapi...

2015: Sektor Perikanan Dominan Pencegahan, Tapi...

Bisnis | Jum'at, 25 Desember 2015 | 18:41 WIB

Nelayan di Papua Diberi Bantuan Ponsel Canggih untuk Melaut

Nelayan di Papua Diberi Bantuan Ponsel Canggih untuk Melaut

News | Jum'at, 18 Desember 2015 | 05:49 WIB

Pelindo III Investasi Rp1 Triliun Kembangkan Industri Perikanan

Pelindo III Investasi Rp1 Triliun Kembangkan Industri Perikanan

Bisnis | Kamis, 10 Desember 2015 | 23:24 WIB

Basarnas Hentikan Pencarian Nelayan Hilang di Mataram

Basarnas Hentikan Pencarian Nelayan Hilang di Mataram

News | Senin, 07 Desember 2015 | 09:41 WIB

Terkini

BRI Rayakan Perjalanan 131 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Kepedulian

BRI Rayakan Perjalanan 131 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Kepedulian

Kalbar | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:22 WIB

Sebut Karhutla Kejahatan Kemanusiaan, Prabowo Perintahkan Usut Tuntas Korporasi Nakal

Sebut Karhutla Kejahatan Kemanusiaan, Prabowo Perintahkan Usut Tuntas Korporasi Nakal

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:22 WIB

Sering Sakit Lambung, Nyeri Perut hingga BAB Berubah? Kenali Penyebab dan Penanganannya

Sering Sakit Lambung, Nyeri Perut hingga BAB Berubah? Kenali Penyebab dan Penanganannya

Health | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:21 WIB

Pemerintah Terus Percepat Pemulihan Sektor Perikanan dan Pembangunan Huntap Pascabencana Sumatera

Pemerintah Terus Percepat Pemulihan Sektor Perikanan dan Pembangunan Huntap Pascabencana Sumatera

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Prabowo Sebut Pembakar Hutan sebagai Teroris Lingkungan

Prabowo Sebut Pembakar Hutan sebagai Teroris Lingkungan

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:03 WIB

Kijang Innova Zenix Terima Penyegaran, Sekarang Bisa Dinyalakan Pakai Smartphone

Kijang Innova Zenix Terima Penyegaran, Sekarang Bisa Dinyalakan Pakai Smartphone

Otomotif | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:01 WIB

Air Makin Keruh, Ledakan Alga Ganggu Ekosistem Danau Mawang

Air Makin Keruh, Ledakan Alga Ganggu Ekosistem Danau Mawang

Foto | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:01 WIB

Skema Padat Karya Bersihkan Lumpur Banjir Padang, Warga Dapat Insentif

Skema Padat Karya Bersihkan Lumpur Banjir Padang, Warga Dapat Insentif

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Pasca Kebakaran KMP Batumandi, Tim SAR Lakukan Pendinginan di Merak

Pasca Kebakaran KMP Batumandi, Tim SAR Lakukan Pendinginan di Merak

Foto | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Love, Death & Robots Volume 1: Eksperimen Animasi Dewasa yang Sangat Liar!

Love, Death & Robots Volume 1: Eksperimen Animasi Dewasa yang Sangat Liar!

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:00 WIB

×