Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.130,190
LQ45 620,397
Srikehati 308,223
JII 381,928
USD/IDR 17.784

Ketimpangan Pendapatan di Indonesia Lebih Buruk dari Negara Lain

Ruben Setiawan, Dian Kusumo Hapsari

Jum'at, 08 Januari 2016 | 12:57 WIB
Ketimpangan Pendapatan di Indonesia Lebih Buruk dari Negara Lain
Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution. [Antara/Sigid Kurniawan]

Suara.com - Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan gini ratio (ketimpangan pendapatan antara orang kaya dan miskin) saat ini memasuki level terburuk jika dibandingkan dengan negara lain. Kondisi ini sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan 20-30 tahun yang lalu.

"Kita semua tahu ekonomi kita menghasilkan ketimpangan yang lebih buruk dari negara lain. China juga buruk sebenarnya. Seharusnya kita bisa lebih baik. Ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi 20-30 tahun yang lalu,” kata Darmin, Jumat (8/1/2016).

Darmin menjelaskan, pada 20-30 tahun lalu, Indonesia sangat percaya diri dan membanggakan dirinya sebagai negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi dan gini ratio yang rendah.

“Gini ratio kita memang relatif timpang, padahal 20-30 tahun lalu, Indonesia membanggakan diri sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi dan rasio gini rendah. Namun, lama-kelamaan itu semua kini sudah berubah ke level yang terburuk,” ungkapnya.

Kendati demikian, Darmin mengaku pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi untuk mengatasi permasalahan ketimpangan yang terjadi saat ini yang berada di level 0,42. Salah satunnya dengan mendorong financial inclusion atau inklusi keuangan.

“Kami sudah bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga terkait seperti Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian untuk saling bekerjasama dengan mendorong inklusi keuangan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, inklusi keuangan adalah sebuah bentuk pendalaman layanan keuangan yang ditujukan kepada masyarakat untuk memanfaatkan produk dan jasa keuangan formal seperti penyimpanan uang, transfer, asuransi dan beberapa bentuk produk keuangan lainnya. Nantinya, kebijakan inklusi keuangan ini akan disinergikan dengan sertifikasi tanah rakyat secara besar-besaran.

“Jadi nanti kita sinergikan dengan sertifikat tanah. Karena, kalau saya lihat sekitar 40-60 persen masyarakat di Indonesia belum disertifikasikan. Nah ini yang akan kita dorong,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Darmin, pemerintah mengalokasikan anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar lebih dari Rp 100 triliun dengan tingkat bunga 9 persen. Belum lagi, pagu dana desa sebesar lebih dari Rp 40 triliun di 2016 dan dikombinasikan dengan program Laku Pandai alias agen bank serta layanan e-commerce dan e-money yang semakin mempermudah transaksi belanja tanpa uang tunai.

"Maksudnya supaya jangan setiap bank harus bikin kantor sampai di desa-desa, tapi pakailah warung, toko yang menjual voucher dengan standar dan perjanjian tertentu. Ia bisa bertindak sebagai agen dari bank," katanya.

Pemerintah, kata Darmin, juga ingin mendorong sistem logistik nasional sebagai bagian dari inklusi keuangan bersifat korporasi, seperti yang dimiliki jaringan Unilever, Indomart dan Alfamart. Sayang, sistem logistik dari pedesaan ke kota belum hadir sehingga berdampak pada harga jual produk ke konsumen.

Menurutnya sistem logistik nasional, sangat penting supaya 50-60 persen dari harga produk pertanian atau kerajinan tergerus di jaringan logistik. Sementara petaninya hanya mendapat bagian 40-50 persen. "Ini adalah blok besar untuk mendorong transformasi struktural sekaligus memperbaiki tingkat kemiskinan dan ketimpangan," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM

Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM

Bisnis | Rabu, 22 April 2026 | 18:54 WIB

Membedah Ketimpangan Warga RI: Jurang Kaya-Miskin Diklaim Menyempit

Membedah Ketimpangan Warga RI: Jurang Kaya-Miskin Diklaim Menyempit

Bisnis | Jum'at, 06 Februari 2026 | 13:20 WIB

Jurang Ketimpangan di RI Makin Lebar: Orang Kaya Makin Kaya, Miskin Makin Miskin

Jurang Ketimpangan di RI Makin Lebar: Orang Kaya Makin Kaya, Miskin Makin Miskin

Bisnis | Senin, 17 Juli 2023 | 13:27 WIB

Terkini

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Emiten-emiten Konglomerat Mulai Komentar Soal Ekspor Satu Pintu Lewat DSI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:10 WIB

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:29 WIB

Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah

Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:15 WIB

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Anak Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Dicekek Terus! Nyaris Ulang Krisis 1998

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:43 WIB

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Rupiah 'Kena Mental'! Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Pertama Dalam Sejarah RI

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:20 WIB

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Gawat! Mata Uang Garuda Babak Belur, Dolar AS dan Singapura Kompak Hajar Rupiah Hari Ini

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:12 WIB

Pertumbuhan Arus Peti Kemas Internasional Tembus 11%, Sinyal Positif Bagi Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan Arus Peti Kemas Internasional Tembus 11%, Sinyal Positif Bagi Ekonomi Indonesia

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:28 WIB

Update Kurs Rupiah 29 Mei 2026: Rupiah Menguat ke Rp17.814 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bangkit

Update Kurs Rupiah 29 Mei 2026: Rupiah Menguat ke Rp17.814 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bangkit

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:30 WIB

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Cara Mudah Beli Token Listrik Online, Praktis Pakai QRIS

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:26 WIB

IHSG Bergerak Dua Arah Cenderung Menguat Pagi Ini, Saham Prajogo Pangestu Melesat

IHSG Bergerak Dua Arah Cenderung Menguat Pagi Ini, Saham Prajogo Pangestu Melesat

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 09:19 WIB