Antisipasi Brexit, BI Harus Perkuat Cadangan Emas

Adhitya Himawan

Minggu, 10 Juli 2016 | 14:21 WIB
Antisipasi Brexit, BI Harus Perkuat Cadangan Emas
Ilustrasi emas batang. [shutterstock]

 Bank Indonesia perlu perkuat cadangan emas guna mengantisipasi dampak Brexit dan Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini dikemukakan oleh ekonom dari Universitas Sam Ratulangi Manado Agus Tony Poputra.

Pertengahan tahun 2016, kata Agus di Manado, Minggu (10/7/2016), menjadi momen yang kurang menguntungkan bagi ekonomi dunia.

"Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) yang dikenal dengan Brexit telah menekan nilai pound ke titik terendah selama 31 tahun terakhir. Kondisi ini juga berdampak ke negara lain," ujarnya.

Sesungguhnya, lanjut dia, pound merupakan salah satu mata uang kuat (hard currency) di dunia dan menjadi pilihan cadangan devisa pada kebanyakan bank sentral di dunia.

Meski demikian, menurut Agus, pound tetap tidak kebal terhadap perubahan lingkungan. Kondisi yang sama dapat dialami mata uang kuat lainnya.

Rentannya nilai mata uang suatu negara terhadap fluktuasi tajam terjadi karena negara-negara di dunia saat ini telah menggunakan rezim flat money. Pada rezim ini uang yang beredar di suatu negara tidak dikaitkan lagi dengan emas maupun perak di bank sentral.

Konsekuensinya, nilai mata uang tergantung semata-mata pada kepercayaan pemakainya terhadap mata uang tersebut dan negara pemiliknya.

Jika banyak pihak percaya pada suatu negara, nilai mata uang negara tersebut akan kuat. Sebaliknya, orang kurang atau tidak percaya lagi maka nilai mata uangnya akan terdepresiasi tajam dan bisa senilai lembaran kertas biasa.

Kepercayaan terhadap suatu negara umumnya tergantung pada kondisi ekonomi, politik, kebijakan pemerintah, dan keamanan. Jatuhnya nilai pound lebih disebabkan oleh faktor politik dan kebijakan pemerintah yang dikaitkan dengan masa depan ekonomi Inggris Raya.

Namun, kata dia, apa yang dialami pound bisa saja berjangkit pada dolar AS yang menjadi pemimpin mata uang dunia. Sebagai negara adidaya, banyak pihak besar memperkirakan Amerika Serikat tidak mungkin runtuh. Namun, sejarah memperlihatkan banyak negara besar pada masa lalu telah mengalaminya.

Agus memberikan contoh Romawi. Sebagai negara kekaisaran besar dan modern pada masa lalu, Romawi mengalami kehancuran yang disebabkan oleh musuh dari dalam negara sendiri.

Saat ini, AS sedang mendapat tekanan dalam negeri. Isu rasial mengalami eskalasi yang tajam dan bisa berujung pada terganggu keamanan dan ekonomi negara tersebut secara masif.

Faktor lainnya yang diperkirakan akan membawa pengaruh negatif bagi kondisi domestik AS ke depan adalah pemilihan presiden. Kedua calon presiden negara ini diperkirakan akan menghadapi tantangan berat. Donald Trump yang kontroversial dalam sikap dan ucapannya telah mengundang kebencian pada kelompok-kelompok tertentu.

Di sisi lain, kata dia, Hillary Clinton bukanlah tanpa masalah. Jika Hillary menang, pertama kalinya AS memiliki presiden wanita sehingga berpotensi berhadapan dengan kelompok yang mempertahankan dominasi kaum pria.

Dari segi usia, kedua kandidat tidak muda lagi sehingga dipertanyakan kemampuan menghadapi tantangan berat AS saat ini, terutama potensi bola salju dari isu rasial.

Perkiraan situasi buruk yang bakal dihadapi Amerika Serikat, dolar AS berpotensi mengalami fluktuasi tajam pada masa mendatang.

Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu menata kembali portofolio cadangan devisa dengan memperbanyak emas moneter. Memang nilai emas juga mengalami fluktuasi. Namun, tetap memiliki nilai yang memadai.

"Peningkatan jumlah emas moneter oleh BI dapat dipakai sebagai pengamanan nilai cadangan devisa Indonesia dari pengaruh eksternal," katanya.

Data yang dilansir World Gold Council per Juni 2015 menunjukkan cadangan emas dunia mencapai 31.949 ton. Sebanyak 8113,5 ton atau 25,45 persen dari cadangan tersebut dimiliki AS.

Sebaliknya, Indonesia hanya memiliki 78,1 ton atau 0,24 persen dari cadangan emas dunia. Bahkan, di ASEAN, jumlah cadangan emas Indonesia lebih rendah daripada Thailand dan Singapura yang masing-masing berjumleh 152,4 ton dan 127,4 ton.

Mengingat bumi Indonesia memiliki deposit emas yang relatif besar, seharusnya BI tidak menghadapi kesulitan berarti dalam meningkatkan cadangan emas moneternya.

Dengan cadangan emas yang besar, menurut dia, BI bisa menjaga nilai cadangan devisa secara keseluruhan dan kestabilan rupiah dalam menghadapi dampak Brexit dan potensi terganggunya kondisi domestik AS. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Inggris Tolak Referendum Ulang PascaBrexit

Inggris Tolak Referendum Ulang PascaBrexit

News | Minggu, 10 Juli 2016 | 02:08 WIB

Inflasi Pascalebaran Diprediksi Lebih Rendah dari Ramadan

Inflasi Pascalebaran Diprediksi Lebih Rendah dari Ramadan

Bisnis | Kamis, 07 Juli 2016 | 19:01 WIB

BI Pastikan Bom Bunuh Diri di Solo Tak Pengaruhi Ekonomi

BI Pastikan Bom Bunuh Diri di Solo Tak Pengaruhi Ekonomi

News | Kamis, 07 Juli 2016 | 17:50 WIB

Stok BBM Habis di SPBU Brexit, Ini Klarifikasi Dirut Pertamina

Stok BBM Habis di SPBU Brexit, Ini Klarifikasi Dirut Pertamina

Bisnis | Kamis, 07 Juli 2016 | 14:37 WIB

Terkini

Alasan KAI Batal Impor KRL Bekas Jepang, Pilih Utamakan Produksi INKA?

Alasan KAI Batal Impor KRL Bekas Jepang, Pilih Utamakan Produksi INKA?

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 15:35 WIB

Jelang Laga Besok, Pelatih PSMS Medan Waspadai Kekuatan Persiraja

Jelang Laga Besok, Pelatih PSMS Medan Waspadai Kekuatan Persiraja

Sumut | Jum'at, 06 November 2026 | 15:30 WIB

Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik

Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik

Your Say | Jum'at, 06 November 2026 | 15:30 WIB

Teknologi Regeneratif Ubah Tren Kecantikan, Mengapa Kualitas Kolagen Kini Jadi Perhatian?

Teknologi Regeneratif Ubah Tren Kecantikan, Mengapa Kualitas Kolagen Kini Jadi Perhatian?

Lifestyle | Jum'at, 06 November 2026 | 15:29 WIB

Perdagangan Kripto Bakal Gunakan Single Orderbook, Begini Penjelasannya

Perdagangan Kripto Bakal Gunakan Single Orderbook, Begini Penjelasannya

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 15:28 WIB

PPPK Paruh Waktu Punya Dua Kabar Baik: Jadi Penuh Waktu Mulai 2027 dan Bisa Ikut Seleksi CPNS

PPPK Paruh Waktu Punya Dua Kabar Baik: Jadi Penuh Waktu Mulai 2027 dan Bisa Ikut Seleksi CPNS

News | Jum'at, 06 November 2026 | 15:27 WIB

Seleksi CPNS 2026 Dibuka Akhir November: Ini Hal yang Wajib Kamu Siapkan

Seleksi CPNS 2026 Dibuka Akhir November: Ini Hal yang Wajib Kamu Siapkan

News | Jum'at, 06 November 2026 | 15:22 WIB

MBG Prasmanan Dimulai, SD Islam Asy-Syakirin Pekanbaru Jadi Percontohan

MBG Prasmanan Dimulai, SD Islam Asy-Syakirin Pekanbaru Jadi Percontohan

Riau | Jum'at, 06 November 2026 | 15:21 WIB

Dituding Larang Suporter Pasang Spanduk Karhutla, Oki Rengga Ungkap Deal-dealan yang Ditawarkan

Dituding Larang Suporter Pasang Spanduk Karhutla, Oki Rengga Ungkap Deal-dealan yang Ditawarkan

Bola | Jum'at, 06 November 2026 | 15:17 WIB

Tahu Kesukaan Kakaknya, GPH Paundra Dapat Hadiah Tas saat Prosesi Langkahan dari GRAj Sura

Tahu Kesukaan Kakaknya, GPH Paundra Dapat Hadiah Tas saat Prosesi Langkahan dari GRAj Sura

Surakarta | Jum'at, 06 November 2026 | 15:15 WIB

×