Suara.com - Banyak orang berpikir orang kaya harus selalu pakai pakaian mewah. Makannya di restoran mahal. Pokoknya yang mengeluarkan duit banyak. Memang, ada orang kaya seperti itu. Tapi, banyak juga yang nggak begitu. Lihat saja Presiden Joko Widodo yang terkenal sederhana.
Mark Zuckerberg juga. Lihat deh di setiap fotonya, hampir pasti dia pakai kaus oblong doang. Bukan merek elite. Dengan berpenampilan sederhana begitu, apa derajat kekayaannya berkurang? Nggak. Justru mereka malah bisa tambah kaya, karena nggak keluar duit untuk barang-barang yang dianggap gak penting-penting amat.
Nah, inilah yang keliru dipahami sebagian masyarakat. Oleh mereka, yang dianggap penting justru pengeluaran-pengeluaran tersebut. Mereka lebih mikir gengsi.
Sedikitnya ada 7 bentuk pengeluaran yang biasanya dilakukan oleh orang-orang tersebut. Padahal, jika sanggup buang gengsi, ada banyak duit yang bisa dihemat dari kebiasaan itu.
1. Makan di luar
Kalau bisa ngirit masak sendiri, ngapain makan di luar? Ya, bolehlah, sesekali makan di luar. Tapi, kalau makan di luar hanya untuk check in dan update status, ngapain? Mending duitnya dipakai buat beli sayur dan daging. Terus foto selfie pas masak. Lebih aduhai pastinya kalau foto itu dipampang di media sosial.
2. Yang penting bermerek
Hayo, siapa yang bela-belain makan sehari sekali doang hanya buat beli baju bermerek? Pakaian gunanya buat melindungi tubuh. Itu saja fokusnya. Merek hanyalah tambahan. Apalagi baju dalam. Rela ngeluarin ratusan ribu buat beli daleman yang nggak dilihat orang?
3. Asal punya tunggangan
Karena teman-teman pada naik motor keren, akhirnya pengin. Tapi belinya kredit, tanpa lewat perhitungan matang. Akhirnya, motor disita, duit cicilan amblas. Siapa yang salah?
4. Shopping di market
Pilih shopping di market atau belanja di pasar? Beda, lho. Shopping di market itu dingin, luas, nggak bau keringat. Kalau belanja di pasar, dempet-dempetan dan berisik. Tapi, belanja di pasar umumnya lebih hemat. Memang, shopping di market juga bisa ngirit berkat program-program diskon. Tapi kan nggak bisa ditawar barang-barangnya seperti di pasar.
5. Biar nggak gaptek
Perkembangan gadget kalau diikuti nggak akan ada habisnya. Tiap tahun keluar produk baru yang diklaim lebih cihui, dan lebih mahal. Kalau duitnya tinggal ambil di gentong gak berdasar sih santai saja tiap tahun beli.
Lha kalau nabung buat nikah saja nggak genap-genap? Apalagi gadget canggih nggak selalu pas dengan kebutuhan. Yang ditonjolkan fitur kameranya, misalnya. Lha ini mau beli hape apa kamera?