Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi ini anjlok 4 persen. Bahkan Rupiah sempat menembus level Rp13.731 per dolar AS. Ini merupakan penurunan terbesar sejak September 2011.
Menanggaapi hal tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencaaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menjelaskan, pelemahan tersebut lantara adanya isu kenaikan suku bunga The Fed. Bukan karena terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.
"Rupiah melemah karena The Fed mau menaikkan tingkat suku bunganya (Fed Fund Rate). The Fed kan mau menaikkan setelah pilpres selesai," kata Bambang saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (11/11/2016).
Ia menjelaskan, munculnya isu kenaikan suku bunga The Fed ini bukan karena kondisi perekonomian negeri Paman Sam ini telah pulih, melainkan berdasarkan perhitungan, The Fed sudah saatnya menaikkan suku bunganya.
"Mereka punya hitungan sendiri, memang setelah Pilpres mereka mau menaikan suku bunganya," katanya.
Namun, pihaknya memperkirakan, pengaruh sentimen kepada kurs hanya sementara. Pemerintah akan tetap menjaga fundamental ekonomi Indonesia sehingga dapat memberikan kepercayaan bagi investor.