Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.351,139
LQ45 633,989
Srikehati 307,930
JII 383,125
USD/IDR 17.932

Masalah Klasik dan di Balik Kelangkaan Garam di Indonesia

Pebriansyah Ariefana, Erick Tanjung

Kamis, 22 Februari 2018 | 14:38 WIB
Masalah Klasik dan di Balik Kelangkaan Garam di Indonesia
Diskusi dan bedah buku 'Hikayat Si Induk Bumbu' ‎di Resto Bebek Bengil, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018). (suara.com/Erick Tanjung)

Suara.com - Antara tahun 2010 sampai 2017, Indonesia mengalami kelangkaan garam. Produksi garam dalam negeri menurun.

Kelangkaan terparah terjadi tahun 2010, lalu berlanjut di 2014, 2016 sampai tahun lalu. Parahnya, Indonesia adalah negara yang punya garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada.

Penulis 'Hikayat Si Induk Bumbu', Misri Gozan mengatakan salah satu faktornya adalah cara produksi garam di Indonesia yakni di pulau Jawa dan Madura masih tradisional. ‎Sehingga jika terjadi hujan, para penambak garam gagal panen.

"Di Indonesia lebih banyak produksi garam secara tradisional dan nyaris tanpa teknologi. Selain itu faktor alam mempengaruhi produksi garam," kata Misri dalam diskusi dan bedah bukunya ‎di Resto Bebek Bengil, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

Dia menjelaskan garam tak hanya penyedap rasa belaka. Namun juga bahan baku utama aneka produksi industri.

Persoalannya nyaris tidak ada perubahan fundamental dalam cara pembuatan garam di negeri ini. Petani garam mengalirkan air ke ladang, lalu mengandalkan panas matahari untuk mengucapkan air laut yang akan membentuk kristal garam.

"Cara ini sudah dipakai lebih dari 500 tahun. Cara membuat garam Indonesia itu rendah secara kualitas dan kuantitas, lalu kalah saing dari garam luar negeri. Kualitas garam dalam negeri sama sekali belum bisa memenuhi standar kebutuhan industri," ujar dia.

‎Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia Faizal Basri yang juga sebagai penulis buku 'Hikayat Si Induk Bumbu' ini menilai panjang pantai sebuah negara belum tentu penghasil garam terbanyak.

"Salah satu negara produsen garam yang paling besar adalah Cina.‎ Padahal dia bukan negara yang garis pantainya masuk 10 besar di dunia, justru Indonesia garis pantainya jauh lebih panjang," kata Faizal.

baca juga

‎Selain itu, lanjutnya, ada India sebagai negara yang produksi garamnya nomor tiga terbesar di dunia. India juga mengimpor garam. 

"Jadi ekspor dan impor garam ini biasa, hampir semua negara melakukannya. India garis pantainya nomor 20 terpanjang, namun produksinya nomor tiga terbesar di dunia, India juga mengimpor," ujar dia.‎

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

2020, Luhut Ingin Indonesia Berhenti Impor Garam

2020, Luhut Ingin Indonesia Berhenti Impor Garam

Bisnis | Sabtu, 10 Februari 2018 | 12:03 WIB

Garam Industri Tak Bisa Diperjual Belikan Ke Pasar Konsumsi

Garam Industri Tak Bisa Diperjual Belikan Ke Pasar Konsumsi

Bisnis | Kamis, 08 Februari 2018 | 09:29 WIB

Resah Soal Impor Garam, Masyarakat Dinilai Salah Kaprah

Resah Soal Impor Garam, Masyarakat Dinilai Salah Kaprah

Bisnis | Selasa, 06 Februari 2018 | 08:33 WIB

Protes Impor Garam Industri Disebut Bentuk Kegelisahan Tengkulak

Protes Impor Garam Industri Disebut Bentuk Kegelisahan Tengkulak

Bisnis | Selasa, 06 Februari 2018 | 04:15 WIB

Luhut Sebut Perputaran Uang di NTT dari Garam Bisa Rp30 Triliun

Luhut Sebut Perputaran Uang di NTT dari Garam Bisa Rp30 Triliun

Bisnis | Rabu, 01 November 2017 | 10:59 WIB

Terkini

Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan

Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Eks Ketua Yayasan Sekolah Swasta di Jakarta Selatan Buka Suara Soal Temuan 995 Pucuk Senjata Api

Eks Ketua Yayasan Sekolah Swasta di Jakarta Selatan Buka Suara Soal Temuan 995 Pucuk Senjata Api

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:09 WIB

Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?

Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:03 WIB

Ratusan Dapur MBG Tangerang Belum Layak Sanitasi, BGN Ancam Tutup Permanen

Ratusan Dapur MBG Tangerang Belum Layak Sanitasi, BGN Ancam Tutup Permanen

Banten | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:03 WIB

Tangis Bayi yang Mendadak Senyap: Tragedi di Kamar Kos Mahasiswi Kedokteran Hewan Surabaya

Tangis Bayi yang Mendadak Senyap: Tragedi di Kamar Kos Mahasiswi Kedokteran Hewan Surabaya

Jatim | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:01 WIB

Lelang Batubara Ilegal Hasilkan Rp20,97 Miliar untuk Kas Negara

Lelang Batubara Ilegal Hasilkan Rp20,97 Miliar untuk Kas Negara

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:00 WIB

ADA Band Genap 30 Tahun, Siap-Siap Nostalgia di Remember Fest x Cube Concert November Nanti

ADA Band Genap 30 Tahun, Siap-Siap Nostalgia di Remember Fest x Cube Concert November Nanti

Entertainment | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:58 WIB

Jaga Warisan Perjuangan, Bupati Bogor Lakukan Revitalisasi Total Cagar Budaya SDN Cileungsi 02

Jaga Warisan Perjuangan, Bupati Bogor Lakukan Revitalisasi Total Cagar Budaya SDN Cileungsi 02

Bogor | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:56 WIB

Pakar Hukum Tata Negara Ungkap Inpres Kopdes Merah Putih Keliru

Pakar Hukum Tata Negara Ungkap Inpres Kopdes Merah Putih Keliru

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Buntut Kasus Yurizal, Nakes Jakarta Dilarang Keras Cibir Pasien BPJS

Buntut Kasus Yurizal, Nakes Jakarta Dilarang Keras Cibir Pasien BPJS

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:53 WIB

×