KTNA Mart Solusi Tambah Nilai Produk Pertanian

Fabiola Febrinastri

Jum'at, 22 Maret 2019 | 09:12 WIB
KTNA Mart Solusi Tambah Nilai Produk Pertanian
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir. (Dok : Kementan)

Suara.com - Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir,menyatakan, berbagai dukungan pemerintah di atas membuat jumlah produksi berbagai komoditas terus merangkak naik. Untuk membantu memasarkannya dengan nilai jual yang lebih baik, KTNA terus berinovasi, salah satunya dengan menyiapkan KTNA Mart.

Ide ini bermula dari kegelisahan KTNA melihat kurang dipasarkannya olahan hasil pertanian Indonesia di pasar ritel. KTNA Mart diminta menjajakan minimal 30 persen produk pertanian lokal dan terus dinaikkan secara bertahap.

Sebagai contoh, produk lokal yang potensial dipasarkan, KTNA menghadirkan sejumlah UMKM yang mengolah hasil produk pertanian.

Salah satunya, Ibu Lasmi dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Jakarta Selatan, yang sangat terkenal keberhasilannya mengembangkan jamu gendong. Sayangnya, ia merasa kesulitan meluaskan pasar jamu racikannya, yang ia jamin keaslian dan kemurnian penggunaan bahan-bahannya, karena menggunakan bahan pengawet.

"Salah satu racikan saya uang mulai populer adalah sanapis, yaitu campuran sawi, nanas, dan jeruk nipis. Ini berkhasiat untuk melancarkan pencernaan, mencegah osteoporosis, menurunkan kadar kolesterol, dan bisa meredakan batuk. Tapi saya kesulitan masuk ke pasar ritel karena ada biaya-biaya yang memberatkan untuk UMKM," ujar Lasmi, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Ia berharap peningkatan produksi yang telah dicapai dengan segenap dukungan pemerintah melalui Kementan, dapat disinergikan dengan membuatkan sebuah wadah untuk memasarkan produk-produk hasil olahan hasil pertanian.

Bendungan bagi Para Petani
Sementara itu, sejumlah bendungan dan embung kini sudah berfungsi di seluruh Indonesia. Hal ini merupakan jaminan bagi para petani untuk bisa menjalani aktivitas pertaniannya dengan lebih mudah dan menguntungkan.

"Penyediaan air dari bendungan yang berjumlah 65 buah, ada yang sudah selesai, ada juga yang belum. Embung yang jumlahnya bisa mencapai 30 ribu di seluruh Indonesia dibuatkan untuk menghadapi El Nino. Jumlah ini bisa mengairi lahan pertania hingga empat juta hektare," ujarnya, dalam Sarasehan KTNA di Wisma Yampi, Jaksel.

Ia menambahkan, untuk sistem irigasi, pemerintah membantu memperbaiki saluran air yang rusak, membuatkan embung (waduk kecil), karena selama ini, lahan pertanian tidak sepenuhnya mendapat pengairan yang ideal. Sejak 2015, petani juga mendapatkan bantuan berupa subsidi benih.

baca juga

Untuk meningkatkan indeks pertanaman, dibantu dengan mekanisasi pertanian dari yang kecil hingga yang besar, termasuk dryer (mesin pengering) bagi petani jagung.Jumlahnya mencapai puluhan ribu unit. Winarno mengakui belum semua kelompok tani mendapatkan bantuan dalam bentuk alat mesin pertanian (alsintan), namun tak dipungkiri bahwa bantuan ini efektif menekan biaya tenaga kerja.

"Juga mesin panen. Potensi kehilangan saat panen sekarang berhasil diturunkan menjadi 3-4 persen. Ke depan, kita targetkan 2-3 persen, bahkan seperti di Jepang, 1-2 persen saja. Kita optimalkan di operatornya, nanti diberi pelatihan dan pembekalan lagi," jelas Winarno.

Ia menggambarkan, dulu saat panen masih menggunakan cara tradisional menggunakan arit, kehilangan saat panen mencapai 10 persen karena rontok. Berapa persen yang terselamatkan setelah adanya bantuan mekanisasi bisa dengan mudah dihitung, dan menurutnya, ini menjadi keutungan langsung bagi petani.

"Untuk menghadapi El Nino tahun ini, kita juga Insya Allah lebih siap dengan bantuan perbaikan irigasi dan embung. Harapannya, El Nino 2019 tidak terlalu berdampak pada pertanian," tambahnya optimistis.

Risiko bertani kini juga relatif lebih kecil setelah ada bantuan asuransi pertanian. Saat ini memang baru sebatas petani padi dan ternak, ke depan, ia mendapat kepastian akan dilebarkan juga ke petani jagung dan komoditas lainnya.

"Manakala petani menghadapi risiko pertanaman, ini berguna untuk meminimalisir kerugian. Dengan membayar Rp 36 ribu saja, saat gagal panen mendapat penggantian 36 juta rupiah," tambahnya.

Ada pula permasalahan dulu selalu menghantui petani, tetapi kini sudah ada solusinya. Panen di musim hujan selalu mengakibatkan hasil tani tidak terjual bahkan busuk.Kini pemerintah mengarahkan petani agar panen di waktu yang tidak bersamaan.

Dalam hal stabilisasi harga, Winarno berharap pada peran penting Bulog, agar dapat menyerap hasil panen, untuk melindungi petani dari kerugian besar.

"Satu lagi, kami juga merasa dilindungi dari serbuan produk impor. Kami apresiasi hal ini sebagai keberanian Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk membatasi impor hasil produk pertanian," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kementan : Anggaran DIPA 2019 Rp 4,927 Triliun

Kementan : Anggaran DIPA 2019 Rp 4,927 Triliun

News | Senin, 11 Februari 2019 | 11:07 WIB

Kementan Fokus Genjot Produksi Beras dalam Negeri

Kementan Fokus Genjot Produksi Beras dalam Negeri

News | Senin, 04 Februari 2019 | 07:15 WIB

Kementan Luncurkan Buku Panduan Hadapi Penyakit Infeksi Baru dan Zoonosis

Kementan Luncurkan Buku Panduan Hadapi Penyakit Infeksi Baru dan Zoonosis

Health | Selasa, 29 Januari 2019 | 16:15 WIB

Awasi Peredaran Daging Celeng, Kementan Gunakan GPS

Awasi Peredaran Daging Celeng, Kementan Gunakan GPS

Bisnis | Sabtu, 05 Januari 2019 | 13:00 WIB

Terkini

Fadia Dituntut 5 Tahun, KPK Justru Buka Penyidikan Baru dari Kasus Pekalongan

Fadia Dituntut 5 Tahun, KPK Justru Buka Penyidikan Baru dari Kasus Pekalongan

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 15:05 WIB

Cara Ampuh Pudarkan Flek Hitam dalam 1-2 Minggu ala Dokter Gio, Wajib Coba Urutan Skincare Ini!

Cara Ampuh Pudarkan Flek Hitam dalam 1-2 Minggu ala Dokter Gio, Wajib Coba Urutan Skincare Ini!

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 15:05 WIB

Pemilik Makin Hemat, Penggantian Ban Mobil Banyak Ditunda Akibat Daya Beli Melemah

Pemilik Makin Hemat, Penggantian Ban Mobil Banyak Ditunda Akibat Daya Beli Melemah

Otomotif | Kamis, 24 September 2026 | 15:04 WIB

Air Menetes di Bawah Kulkas dan Dalam Rak Penampungan? Ini Solusinya

Air Menetes di Bawah Kulkas dan Dalam Rak Penampungan? Ini Solusinya

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 15:04 WIB

Apakah Rambut Rontok karena Stres Bisa Tumbuh Kembali? Ini Penjelasannya

Apakah Rambut Rontok karena Stres Bisa Tumbuh Kembali? Ini Penjelasannya

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 15:03 WIB

Kejagung Geledah Rumah Eks Bupati Nunukan Terkait Kasus Batubara di Kaltara

Kejagung Geledah Rumah Eks Bupati Nunukan Terkait Kasus Batubara di Kaltara

News | Kamis, 24 September 2026 | 15:01 WIB

Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!

Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 15:00 WIB

5 Cara Memilih Sneakers dengan Bantalan Terbaik agar Nyaman untuk Jalan Jauh

5 Cara Memilih Sneakers dengan Bantalan Terbaik agar Nyaman untuk Jalan Jauh

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 15:00 WIB

YGMD Laporkan Kemendikdasmen ke APH Terkait Dugaan KKN Proyek Digitalisasi Sekolah

YGMD Laporkan Kemendikdasmen ke APH Terkait Dugaan KKN Proyek Digitalisasi Sekolah

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 14:58 WIB

BYAN Cabut Force Majeure Usai RKAB Terbit

BYAN Cabut Force Majeure Usai RKAB Terbit

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 14:57 WIB

×