Gerakan Non Tunai Ancam Eksistensi Uang Kertas, Peruri Tanggapi Santai

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Gerakan Non Tunai Ancam Eksistensi Uang Kertas, Peruri Tanggapi Santai
Ilustrasi lembar uang kertas rupiah. (Shutterstock)

Selama dua tahun belakangan, order kebutuhan BI terhadap uang kertas terus meningkat.

Suara.com - Digital ekonomi berkembang sangat pesat termasuk dalam sektor sistem pembayaran. Gerakan non tunai (cashless society) sudah semakin akrab di kalangan masyarakat. Akibatnya, penggunaan uang kartal atau kertas menjadi berkurang.

Perum Peruri, BUMN yang mencetak uang kartal dan giral bagi Indonesia mengaku tak khawatir dengan fenomena maraknya transaksi non tunai tersebut.

Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri, Fajar Rizki mengatakan, fenomena cashless society memang jadi tantangan buat Perum Peruri, tapi kata dia saat ini transaksi non tunai masih tidak terlalu besar.

"Kalau di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Medan mungkin cashless pertumbuhannya cukup tinggi, tapi di daerah di kota kecil uang fisik permintaan masih tinggi sekali," kata Fajar di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Sebetulnya kata Fajar, Perum Peruri tidak terlalu khawatir dengan perkembangan cashless society bahkan kata dia Perum Peruri bisa mengambil keuntungan dari fenomena ini dengan membuat sistem keamanan digital yang memang menjadi salah satu produk andalan Perum Peruri.

"Kita tidak masuk dalam bisnis uang digital kita masuk digital security, saat ini sudah banyak sekali fintech yang menggunakan security digital yang kami buat," kata Fajar.

Fajar menuturkan, saat ini selama dua tahun belakangan, order kebutuhan BI terhadap uang kertas terus meningkat. Bahkan untuk beberapa tahun ke depan, ia meyakini, order kebutuhan uang baik kartal maupun giral oleh BI masih terus akan meningkat.

Meski begitu, Peruri telah mengantisipasi transaksi elektronik dengan membangun anak perusahaan yang mendukung era digitalisasi tersebut.

"Setiap 2 tahun kita dapat pesanan dari BI itu sekitar 8 miliar lembar uang yang kita produksi untuk BI," katanya.

Saat ini kata Fajar sekitar 60-70 persen pendapatan Perum Peruri berasal dari pencetakan uang baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Dengan pendapatan usaha mencapai Rp 3,9 triliun pada 2019, angka ini naik sekitar 23 persen dari sebelumnya Rp 3,1 triliun. Sementara itu untuk laba usaha sekitar Rp 595 miliar di 2019.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS