Efek Beragun Asetnya Dibekukan BEI, Ini Tanggapan Dirut Garuda

Chandra Iswinarno | Achmad Fauzi | Suara.com

Senin, 27 Juli 2020 | 16:20 WIB
Efek Beragun Asetnya Dibekukan BEI, Ini Tanggapan Dirut Garuda
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. (Suara.com/Achmad Fauzi)

Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan Efek Beragun Aset (EBA) Mandiri PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yakni GIAA01. Penghetian perdagangan ini sesuai dengan surat Peng-SPT-00015/BEI.PP2/07-2020.

Dalam surat yang ditandatangani oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida, penghentian perdagangan EBA milik Garuda Indonesia itu karena adanya penundaan pembayaran amatortisasi pokok EBA Mandiri GIAA01.

Sehinga, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara Perdagangan MGIA01 di sistem perdagangan Bursa terhitung sejak Sesi I Perdagangan tanggal 27 Juli 2020, hingga pengumuman Bursa lebih lanjut.

BEI juga meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan, saat ini perseroan memang tengah menghadapi tekanan likuiditas. Namun, ia memastikan, Garuda Indonesia berkomitmen untuk tetap memenuhi kewajiban pembayaran KIK EBA tersebut.

"Sebagai bentuk keseriusan atas komitmen tersebut, Garuda Indonesia telah melakukan pembayaran sebagian kewajiban pokok EBA kelas A beserta hasil investasi EBA kelas A  periode Juli 2020 yang disesuaikan dengan kondisi likuiditas Perseroan saat ini," ujar Irfan dalam keterangannya, Senin (27/7/2020).

Mantan Direktur Utama PT INTI (Persero) inin mengungkapkan, pandemi ini juga membawa dampak signifikan terhadap kinerja operasional Garuda Indonesia.

"Pendapatan Perseroan turun hingga 90 persen sebagai imbas dari penurunan demand layanan penerbangan dan kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat maupun penerbangan di masa pandemi, salah satunya dengan adanya penutupan layanan penerbangan umrah sejak Maret 2020 lalu," jelas Irfan.

Mengacu pada Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Mandiri GIAA01 – Surat Berharga Hak Atas Pendapatan Penjualan Tiket mengenai pemenuhan kewajiban pembayaran EBA, maka pembayaran sisa pembayaran EBA periode Juli 2020 tersebut dapat diselesaikan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 90 hari.

Lebih lanjut, Garuda Indonesia juga tengah membuka komunikasi bersama pemegang EBA melalui PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) selaku manajer investasi, terkait rencana penyelesaian sisa kewajiban pembayaran KIK EBA periode Juli 2020 tersebut.

"Ditengah berbagai tekanan kinerja yang dihadapi Perseroan tersebut, kami meyakini Garuda Indonesia akan dapat terus bertahan melewati masa yang sangat menantang bagi industri penerbangan saat ini," jelas Irfan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Garuda Indonesia Kirim Hasil Laut dari Ambon ke China

Garuda Indonesia Kirim Hasil Laut dari Ambon ke China

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2020 | 11:25 WIB

Citilink Pindah ke Terminal 3 Soekarno Hatta Mulai Kamis 23 Juli 2020

Citilink Pindah ke Terminal 3 Soekarno Hatta Mulai Kamis 23 Juli 2020

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2020 | 08:11 WIB

Gairah Perusahaan untuk IPO Masih Ada di Tengah Pandemi

Gairah Perusahaan untuk IPO Masih Ada di Tengah Pandemi

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2020 | 08:49 WIB

Terkini

Hari Raya Nyepi 1948 Saka: BRI Hadirkan 2.000 Paket Sembako untuk Masyarakat Bali

Hari Raya Nyepi 1948 Saka: BRI Hadirkan 2.000 Paket Sembako untuk Masyarakat Bali

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 14:09 WIB

Harga Pangan Masih Meroket Jelang Lebaran, Cabai Rawit Merah Sentuh Rp125.850 Per Kilogram

Harga Pangan Masih Meroket Jelang Lebaran, Cabai Rawit Merah Sentuh Rp125.850 Per Kilogram

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 13:00 WIB

Pemerintah Diminta Terapkan Tarif Dinamis di Penyeberangan untuk Tekan Antrean Mudik

Pemerintah Diminta Terapkan Tarif Dinamis di Penyeberangan untuk Tekan Antrean Mudik

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 12:40 WIB

CBDK Genjot Produk Margin Tinggi, Profitabilitas Terdongkrak di 2025

CBDK Genjot Produk Margin Tinggi, Profitabilitas Terdongkrak di 2025

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 12:10 WIB

Harga Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Segini Kisarannya

Harga Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Segini Kisarannya

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 11:35 WIB

HSBC Siap PHK Massal hingga 20.000 Karyawan

HSBC Siap PHK Massal hingga 20.000 Karyawan

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 11:20 WIB

Gak Perlu Panik Cari Kartu ATM, Kini Tarik Tunai Saldo Digital Makin Praktis Jelang Lebaran

Gak Perlu Panik Cari Kartu ATM, Kini Tarik Tunai Saldo Digital Makin Praktis Jelang Lebaran

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 10:37 WIB

BI Bakal Siaga Pelototi Rupiah saat Libur Lebaran 2026

BI Bakal Siaga Pelototi Rupiah saat Libur Lebaran 2026

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 09:18 WIB

Mudik Naik Motor Tahun Ini? Baca Ini Dulu Sebelum Berangkat

Mudik Naik Motor Tahun Ini? Baca Ini Dulu Sebelum Berangkat

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 09:00 WIB

Harga Minyak Dunia Makin Melonjak, Nilainya Tembus Rp1,8 Juta per Barel

Harga Minyak Dunia Makin Melonjak, Nilainya Tembus Rp1,8 Juta per Barel

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 08:38 WIB