alexametrics

Sri Mulyani Ngaku Makin Sibuk Jelang Akhir Tahun

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Sri Mulyani Ngaku Makin Sibuk Jelang Akhir Tahun
Menkeu Sri Mulyani dalam konfrensi pers APBN Kita, Senin (23/9/2021). [Tangkapan layar]

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku menjelang tutup tahun 2021 yang tinggal satu bulan lagi.

Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku menjelang tutup tahun 2021 yang tinggal satu bulan lagi, kesibukan dirinya sebagai menteri justru semakin meningkat.

Dia bilang sejumlah direktorat yang berada dibawah naungan Kementerian Keuangan seperti Dirjen Bea Cukai hingga Pajak akan sibuk untuk melakukan perhitungan satu tahun anggaran.

"Jelang tutup tahun, dirjen bea dan cukai, dirjen kekayaan negara, dirjen pajak, dan lainnyaakan bekerja di front line untuk selesaikan satu tahun anggaran," katanya dalam acara Groundbreaking Rusunara di Jayapura secara virtual, Jumat (26/11/2021).

Ia pun optimistis kinerja keuangan pada tahun 2021 akan jauh lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Kondisi Keuangan Membaik, Menkeu Sri Mulyani Janji Tak Tarik Utang Lagi Tahun Depan

"APBN kita bisa tutup sangat baik, tingkat penerimaan bagus, belanjanya bagus, artinya kita bisa menguatkan lagi perekonomian Indonesia dari dampak Covid-19. Serta berupaya sehatkan lagi APBN," katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penerimaan pajak hingga bulan Oktober 2021 makin menunjukkan pertumbuhan yang positif.

“Secara total penerimaan pajak mencapai Rp 953,6 triliun atau 77,6 persen dari target tahun ini," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (25/11/2021).

Capaian ini kata Sri meningkat drastis 15,3 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dimana pada saat ini penularan virus Covid-19 masih cukup tinggi sehingga pemerintah melakukan pemberlakuan PPKM.

Sri Mulyani merinci PPh Migas tumbuh 55,7 persen karena harga migas meningkat. Kemudian PPh non migas tumbuh 8,9 persen akibat aktivitas ekonomi mulai pulih berbagai sektor.

Baca Juga: UU Cipta Kerja Disebut Inkonstitusional, Sri Mulyani Memilih Bungkam

Selanjutnya PPN tumbuh 20,4 persen yang menandakan aktivitas produksi dan kegiatan impor mulai membaik. Kemudian PBB tumbuh 1,2 persen dan pajak lainnya 91,5 persen karena penyesuaian tarif bea materai.

Komentar