alexametrics

Menteri ESDM Ramal Konsumsi Gas Bakal Naik Seiring Peralihan dari Batu Bara

Iwan Supriyatna | Novian Ardiansyah
Menteri ESDM Ramal Konsumsi Gas Bakal Naik Seiring Peralihan dari Batu Bara
Lapangan Migas Pangkah milik PGN Saka berhasil menambahkan produksi migas menjadi 13.000 BOEPD (Antara/HO-PGN)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan, lapangan-lapangan migas ke depan perlu dikembangkan.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan, lapangan-lapangan migas ke depan perlu dikembangkan. Sebab, industri hulu migas bakal menjadi penyokong pada masa transisi menuju energi baru dan terbarukan.

Bahkan industri gas ditargetkan dapat lebih berkembang untuk menggantikan energi batu bara.

"Selain memberikan dampak langsung, industri hulu migas terutama gas juga akan menjadi penyokong energi pada masa transisi. Selain untuk mendukung pertumbuhan permintaan energi, gas juga akan dikembangkan untuk menggantikan energi batubara yang lebih banyak menghasilkan karbon," ujar Arifin membuka 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 (IOG 2021), Senin (29/11/2021).

Melihat posisi industrinya, Arifin memprediksi konsumsi gas di masa depan akan meningkat signifikan.

Baca Juga: Catat Kinerja Positif Pekan Lalu, Emiten Batu Bara Bakal Cemerlang Lagi?

Kementerian ESDM sendiri sejak tahun lalu sudah berusaha memaksimalkan volume penyerapan gas di dalam negeri, antara lain melalui kebijakan harga khusus untuk sektor kelistrikan dan industri tertentu. Kebijakan diyakini akan mendorong penambahan konsumsi gas.

"Oleh karena itu lapangan-lapangan migas tetap perlu dikembangkan. Potensi yang ada juga harus digali untuk menjamin penyediaan energi di masa depan. Bahkan potensi lapangan-lapangan migas non konvensional juga harus digali, demi pemenuhan kebutuhan masa depan," kata Arifin.

Arifin mengatakan segala proses tersebut tidak sederhana dan membutuhkan dukungan serta kerja sama dari semua pihak untuk merealisasikan.

"Teknologi yang maju dan ramah lingkungan dibutuhkan untuk menjawab tantangan ini sehingga kekurangan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan, dapat dikurangi," ujar Arifin.

Sebelumnya, Arifin menyampaikan hasil studi dari Universitas Indonesia atas dampak kegiatan usaha hulu migas tahun 2003 - 2017. Ia berujar multiplier effect industri hulu migas terus meningkat. Padahal industri hulu migas mulanya hanya didesain untuk menghasilkan manfaat berupa penerimaan negara secara maksimal.

Baca Juga: Gelar IOG 2021, SKK Migas Selaraskan Visi Capai 1 Juta BOPD Di 2030

"Kemudian dikembangkan menjadi salah satu mesin penggerak kegiatan penunjangnya, seperti perbankan, perhotelan dan sebagainya. Dalam perhitungan umum, setiap investasi sebesar US$1, menghasilkan dampak senilai US$1,6 yang dapat dinikmati oleh industri penunjangnya," ujar Arifin.

Komentar