Suara.com - Politis Rusia ramai-ramai menyambut lengsernya eks PM Inggris, Boris Johnson pada Kamis (7/7/2022) dan menyebutnya sebagai 'Badut Dungu' karena memberi senjata pada Ukraina untuk melawan Rusia.
Sosok yang menyuarakan Brexit itu menang pada 2019 sebelum memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa, mengumumkan pengunduran diri pada Kamis setelah dia ditinggalkan oleh para menteri dan sebagian besar anggota parlemen Konservatif karena serangkaian skandal.
"Dia tidak menyukai kami, kami juga tidak menyukai dia," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sesaat sebelum Johnson berdiri di Downing Street untuk mengumumkan pengunduran dirinya.
Johnson dalam pidatonya mengatakan, dia mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif tetapi berencana untuk tetap sebagai perdana menteri sampai penggantinya dipilih.
Dalam kesempatan itu ia juga berjanji kepada Ukraina akan terus memberikan dukungan sampai kapanpun.
Rusia memang cukup membenci Johnson yang berlum lama ini mengakui kepada koleganya bahwa dia ingin tetap berkuasa lebih lama daripada Margaret Thatcher - musuh abadi mantan Uni Soviet yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris dari 1979 hingga 1990.
Taipan Rusia Oleg Deripaska mengatakan di Telegram bahwa itu adalah "akhir yang memalukan" untuk "badut bodoh" yang akan dikutuk oleh "puluhan ribu nyawa dalam konflik tidak masuk akal di Ukraina ini".
"Badut itu telah pergi," kata Vyacheslav Volodin, ketua majelis rendah parlemen Rusia.
"Dia adalah salah satu tokoh utama perang melawan Rusia. Para pemimpin Eropa harus memikirkan ke mana arah kebijakan yang diambil," ujarnya lagi, dikutip dari Reuters.
Bahkan sebelum Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer 24 Februari, Johnson telah berulang kali mengkritik Putin dan menyebut pemimpin Rusia itu sebagai kepala Kremlin yang kejam dan mungkin tidak rasional yang membahayakan dunia dengan ambisi gila.
Johnson menegaskan bahwa Inggris mendukung Ukraina, bahkan menggelontorkan dana untuk mengirimkan senjata, menjatuhkan beberapa sanksi paling berat dalam sejarah modern terhadap Rusia dan mendesak Ukraina untuk mengalahkan angkatan bersenjata Rusia yang kuat.
Dikutip via Antara, Johnson sudah dua kali melakukan perjalanan ke Kiev untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Maria Zakharova, juru bicara utama di kementerian luar negeri Rusia, mengatakan kejatuhan Johnson adalah gejala kemunduran Barat, yang menurutnya terbelah oleh krisis politik, ideologis dan ekonomi.
"Moral cerita dari pesan ini adalah: jangan berusaha untuk menghancurkan Rusia," kata Zakharova. "Rusia tidak dapat dihancurkan. Anda hanya akan mematahkan gigi Anda sendiri - dan kemudian tersedak," ujarnya lagi.
Dukungan Johnson terhadap Ukraina begitu kuat sehingga dia dikenal sebagai "Borys Johnsoniuk" oleh beberapa orang di Kiev. Dia terkadang mengakhiri pidatonya dengan "Slava Ukraini" - atau "Kemenangan untuk Ukraina".