Suara.com - Meski sejumlah negara saat ini menghadapi laju inflasi yang sangat luar biasa tinggi, tapi pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tak gentar menghadapi ancaman tersebut.
Kepala Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu mengatakan pemerintah optimistis bahwa laju inflasi pada tahun ini akan berada di bawah 5 persen.
"Akan tetapi mendekati akhir tahun harusnya bisa cukup kita kendalikan di bawah 5 persen," kata Febrio dalam acara taklimat media secara daring, Senin (8/8/2022).
Meski demikian lanjut Febrio, sikap hati-hati dan waspada mesti dilakukan mengingat saat ini sejumlah harga bergerak sangat volatilitas, terutama terkait pangan.
"Ini yang dengan warning dari data-data yang kita lihat harus terus kita pantau, arah ini harus terus kita jaga, memastikan komoditas pangan yang juga langsung terkait kantong masyarakat," katanya.
Contoh paling jelas kata Febrio seperti halnya harga beras yang hingga Juli 2022 masih terjaga di angka 1 persen.
"Karena memang kita mendapatkan suplai yang cukup berlimpah. Tidak hanya tahun ini, tapi dalan 2 tahun terakhir dengan curah hujan yang memang luar biasa," ungkapnya.
Menariknya, komoditas beras ini jadi salah satu dari kontributor yang paling besar sumbangsihnya dalam indeks harga konsumen (IHK). Sehingga kalau dijaga harga beras tidak bergejolak, Febrio berharap dari sisi makanan akan bisa menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
"Karena kita tahu, sumber inflasinya yang cukup volatile adalah dari bahan makanan," katanya.
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi peningkatan inflasi pada bulan Juli 2022 sebesar 0,64 persen, sementara untuk tahun kalender sudah mencapai 3,85 persen.
Sehingga secara tahunan atau year on year (yoy) laju inflasi sudah mencapai 4,94 persen.
Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan bahwa laju inflasi ini didorong oleh kenaikan sejumlah harga pengeluaran masyarakat, seperti cabai merah, tarif angkutan udara bawang merah, bahan bakar rumah tangga dan cabai rawit.
"Pada Juli 2022, terjadi inflasi sebesar 0,64 persen atau terjadi peningkatan indeks harga konsumen (IHK) dari 111,09 pada Juni 2022 menjadi 111,80," ucap Margo dalam konferensi persnya di Jakarta, Senin (1/8/2022).
Sementara itu menurut Margo, inflasi secara yoy yang sebesar 4,94 persen merupakan inflasi tertinggi sejak Oktober 2015 atau 6 tahun terakhir.
"Kalau kita lihat inflasi tahunan, ini merupakan inflasi tertinggi sejak Oktober 2015 dimana saat ini terjadi inflasi sebesar 6,25 persen," ungkap Margo.