Bansos BBM Bersubsidi, Ibarat Semua Orang Digebuki, Sebagian Dikasih Permen

Siswanto, BBC

Rabu, 31 Agustus 2022 | 18:33 WIB
Bansos BBM Bersubsidi, Ibarat Semua Orang Digebuki, Sebagian Dikasih Permen
BBC

Suara.com - Pemerintah Indonesia memberi sinyal segera menaikkan harga Pertalite dan solar dengan menyiapkan bantuan sosial tambahan, namun sejumlah kalangan menilai langkah ini tak cukup meredam dampak negatif kenaikan harga BBM.

Di lapangan tak semua masyarakat miskin masuk ke dalam daftar penerima bantuan sosial terbaru, termasuk masih menyasar kepada kelompok mampu.

Sementara itu, pemerintah mengatakan tambahan bantuan sosial ini demi menjaga daya beli masyarakat dari tekanan kenaikan harga global, dan mengurangi angka kemiskinan.

Sampai berita ini dipublikasi, belum ada pengumuman resmi tentang kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Baca Juga:

Marthina Damimetou, 82 tahun, warga Kota Jayapura, Papua, mengaku sudah tidak lagi masuk dalam daftar penerima bantuan sosial sejak awal 2021. Padahal, selama ini ia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari bansos tersebut.

"Di kantor lurah, mereka juga bilang tidak ada [nama saya]. Jadi sudah, akhirnya saya setop tidak mau cari tahu lagi lebih jauh," katanya.

Sementara itu, Daeng Cayya, 62 tahun, warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan, juga tidak lagi mendapatkan bantuan sosial sejak 2021. Padahal, selama ini ia mengandalkan bantuan sosial dari pemerintah setidaknya "bisa menutupi membeli beras".

"Apalagi tiap bulan itu kan kita bayar juga lampu [listrik] lebih Rp100.000, air Rp50.000. Itu sudah Rp200.000 dan pendapatan kita tidak ada," kata Cayya.

baca juga

Ibu tiga anak yang menjadi tulang punggung keluarga, saat ini mengandalkan pendapatan dari hasil jualan kopi dan kue.

Cayya tak mempersoalkan namanya masuk atau tidak masuk dalam penerima bansos kali ini. Ia hanya berharap pemerintah mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok.

"Tapi sebenarnya yang kita mau untuk pemerintah, tidak usah ada yang seperti itu [bansos] tapi harga [kebutuhan pokok] yang kita bisa jangkau," kata Cayya.

Di Kota Medan, Sumatera Utara, Wagiem, 56 tahun mengatakan sejauh ini belum mendapat pemberitahuan adanya bansos terbaru. "Enggak ada [pemberitahuan]," katanya, yang mengaku terakhir menerima BLT tahun lalu.

Tapi menurutnya, BLT BBM yang akan disalurkan pemerintah per keluarga sebesar Rp600.000 nampaknya hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup "setengah bulan".

"Pusing lah, semua mahal kan. Suami nggak kerja-kerja. Macam mana," katanya.

Hal serupa dialami warga kota Medan lainnya, Sania, 52 tahun. Janda yang menanggung lima anak, bekerja sebagai tukang cuci panggilan belum mendapat bansos lagi sejak tahun lalu.

"Kerja sama memang kerja nyuci, rumah tangga. Jadi kadang berutang duit saya sama majikan. Jadi kalau dapat BLT, Alhamdulillah," katanya.

Evaluasi data sebelum penyaluran

Di sisi lain, analis kebijakan publik dari Universitas Indonesia yang BBC wawancarai, Lina Miftahul Jannah mengatakan suaminya masih terdaftar dalam sistem data penerima bantuan sosial.

"Diri saya pun dianggap orang miskin. Suami saya menerima BLT padahal punya penghasilan tetap. Dasarnya apa?," katanya bertanya-tanya.

Lebih lanjut, Lina menyerukan agar pemerintah memperbaiki data penerima sebelum menggelontorkan BLT BBM. "Artinya, evaluasi ini harus dilakukan, benahi data. Sehingga kemudian data ini menjadi data yang tepat sasaran," katanya.

Hingga berita ini dipublikasi, Sekjen Kementerian Sosial, Harry Hikmat yang dihubungi BBC, belum merespon.

Daftar bansos jelang kenaikan BBM bersubsidi

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk menyalurkan bansos sebesar Rp24,17 triliun sebagai bentuk pengalihan subsidi BBM mulai awal September.

Bansos pertama berupa bantuan langsung tunai (BLT).

"Jadi dalam hal ini Ibu Mensos akan membayarkannya dua kali yaitu Rp300 ribu pertama dan Rp300 ribu kedua. Nanti Ibu Mensos akan bisa menjelaskan secara lebih detail itu akan dibayarkan melalui berbagai saluran kantor pos di seluruh Indonesia untuk 20,65 juta keluarga penerima dengan anggaran Rp12,4 triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, Senin (29/08).

Kedua, bansos kepada 16 juta pekerja yang memiliki gaji maksimal Rp3,5 juta/bulan.

"Ini akan diberikan kepada 16 juta pekerja yang memiliki gaji maksimum Rp3,5 juta per bulan dengan total anggaran sebesar Rp9,6 triliun," tambah Menteri Sri Mulyani.

Selanjutnya, pemerintah daerah akan menggunakan anggaran sebesar 2 persen dari dana transfer umum yaitu Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH) dalam bentuk subsidi transportasi.

Rangkaian bansos ini diharapkan bisa menjaga daya beli masyarakat, termasuk mengurangi kemiskinan.

Bansos berupa BLT merupakan jurus pemerintah dalam meredam kenaikan harga BBM bersubsidi yang dilakukan sejak era Presiden SBY pada 2004. Saat itu, kebijakan tersebut mendapat kritik dari PDI Perjuangan yang saat ini menjadi partai penguasa.

Bagaimana pun sejumlah kalangan menilai rangkaian bansos ini sebagai sinyal kuat dari pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Narasi pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi

Dalam pelbagai kesempatan pernyataan kepada publik, Menteri Sri Mulyani juga menyinggung BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati masyarakat mampu, termasuk di dalam Instagramnya.

https://www.instagram.com/p/Chwz22bpGMM/

Ia juga memprediksi akan terjadi penambahan anggaran subsidi dan kompensasi sebesar Rp198 triliun tahun ini.

"Jumlah subsidi dan kompensasi ini diperkirakan akan habis dan bahkan terlampaui mencapai di atas Rp698 triliun hingga akhir tahun. Ini akan menjadi tambahan belanja RAPBN 2023," kata Menteri Sri Mulyani dalam rapat dengan Banggar DPR, Selasa (30/08) seperti dikutip Bisnis.

Di sisi lain, harga BBM bersubsidi juga akan dipengaruhi harga minyak mentah yang diprediksi mencapai US$105/barel pada akhir tahun, lebih tinggi dari asumsi makro pada Perpres 98/2022, yaitu US$100/barel. Nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah juga berada di angka Rp14.700, lebih tinggi dari asumsi sebesar Rp14.450.

Dan, kuota volume BBM bersubsidi yang dianggarkan dalam APBN 2022 diperkirakan akan habis pada Oktober 2022.

Pertaruhan reputasi Presiden Jokowi

Bagaimana pun, rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dengan dalih penghematan APBN masih "separuh-separuh," kata analis kebijakan publik, Lina Miftahul Jannah.

"Contoh, biaya perjalanan [pejabat] itu masih dibuka kerannya. Biaya rapat, itu hal-hal yang bisa dikurangi dengan cukup signifikan.

"Jadi dievaluasi perjalanan dinas yang harus dengan golongan sekian, di hotel bintang sekian. Dengan kamar kelas sekian. Bisa dikurangi, bisa menghemat banyak," kata Lina.

Sementara itu, Direktur Riset Senior dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah memperkirakan pemerintah bisa menghemat sebesar Rp76 triliun dari kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi.

Hitungan ini dengan asumsi menaikkan harga pertalite menjadi Rp10.000/liter dari sebelumnya Rp7.650/liter.

"Penghematannya terlalu sedikit untuk risiko yang terlalu besar," kata Piter.

Risiko besar tersebut adalah "lonjakan inflasi sangat besar" yang ia perkirakan tahun ini berada di angka 6 - 10%. Inflasi ini akan berdampak pada daya beli masyarakat yang menurun, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan investasi terhambat.

"Pembukaan lapangan kerja juga tidak akan maksimal, artinya pengangguran akan bertambah," kata Piter.

Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi juga bukan hanya menyasar kelompok miskin, tapi juga menengah, termasuk industri.

"Keputusan menaikkan BBM bersubsidi itu berisiko besar yang akan mempertaruhkan reputasi pemerintah, reputasi Pak Jokowi," tambah Piter.

BLT itu tidak mengurangi dampak negatif kenaikan harga BBM bersubsidi. Sakitnya tetap dirasakan, ibarat, "Semua orang digebuki, sebagian dikasih permen," kata Piter.

Piter mengatakan pemerintah masih bisa mengambil opsi lain dengan tidak menaikkan BBM bersubsidi. Di antaranya tetap menahan harga BBM bersubsidi seperti saat ini, karena pemulihan perekonomian masih berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. Menurutnya "pelebaran defisit [APBN] itu nggak besar-besar banget".

Kedua, membuat produk bahan bakar baru antara Pertalite dan Pertamax. Cara ini pernah dilakukan saat pemerintah menghapus produk BBM Premium dengan RON 88. "Dengan cara ini, orang tidak berbondong-bondong belinya Pertalite, karena ada pilihan yang lebih baik," katanya.

Wartawan Dedi Hermawan di Medan, Muhammad Aidil di Makassar, dan Yuliana Lantipo di Jayapura berkontribusi atas artikel ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sinyal Kenaikan Harga BBM Pertamax Cs di Bulan Oktober 2026

Sinyal Kenaikan Harga BBM Pertamax Cs di Bulan Oktober 2026

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 11:18 WIB

Pajero Modifikasi Tampung 700 Liter BBM Subsidi, Bahlil Geram

Pajero Modifikasi Tampung 700 Liter BBM Subsidi, Bahlil Geram

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 17:18 WIB

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 18:29 WIB

CORE Soroti Rencana Pembatasan Pertalite, Data BPS Diminta Jadi Patokan

CORE Soroti Rencana Pembatasan Pertalite, Data BPS Diminta Jadi Patokan

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Bahlil Jawab Isu Pembatasan Pertalite: Masih Dikaji, Belum Ada Perubahan!

Bahlil Jawab Isu Pembatasan Pertalite: Masih Dikaji, Belum Ada Perubahan!

Video | Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:15 WIB

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:31 WIB

Pertalite Belum Dibatasi, Bahlil: Masih Dikaji untuk Sasar Orang Kaya

Pertalite Belum Dibatasi, Bahlil: Masih Dikaji untuk Sasar Orang Kaya

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:31 WIB

Pertalite Dibatasi, Motor Tetap Bebas Beli: Mobil Mewah Mulai Dipantau

Pertalite Dibatasi, Motor Tetap Bebas Beli: Mobil Mewah Mulai Dipantau

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:37 WIB

Purbaya-Bahlil Sepakat! Pembelian Pertalite Mau Dibatasi, Tanda-tanda Mau Dihapus?

Purbaya-Bahlil Sepakat! Pembelian Pertalite Mau Dibatasi, Tanda-tanda Mau Dihapus?

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:30 WIB

BBM Subsidi Tak Naik, Prabowo: Banyak Negara Panik, Indonesia Masih Cool

BBM Subsidi Tak Naik, Prabowo: Banyak Negara Panik, Indonesia Masih Cool

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:03 WIB

Terkini

Soroti Proyek MBG hingga Militerisasi Sipil, Forum Cik Ditiro Desak Revisi Ulang UU TNI

Soroti Proyek MBG hingga Militerisasi Sipil, Forum Cik Ditiro Desak Revisi Ulang UU TNI

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 21:11 WIB

Panja Komisi IX Rampungkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Draf Akhir 23 Bab 313 Pasal

Panja Komisi IX Rampungkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Draf Akhir 23 Bab 313 Pasal

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Biar Mata Panda Nggak Bikin Makeup Abu-Abu, Catat Trik Pakai Corrector Orange Ini

Biar Mata Panda Nggak Bikin Makeup Abu-Abu, Catat Trik Pakai Corrector Orange Ini

Lifestyle | Senin, 05 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Harga Bahan Makanan Naik Drastis, Emak-emak di Siak: Benar-benar Harus Ngirit

Harga Bahan Makanan Naik Drastis, Emak-emak di Siak: Benar-benar Harus Ngirit

Riau | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:58 WIB

Aktivis BEM UI Diserang Orang Tak Dikenal, Amnesty Singgung Kapolri Baru

Aktivis BEM UI Diserang Orang Tak Dikenal, Amnesty Singgung Kapolri Baru

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:53 WIB

Pembiayaan Kendaraan Listrik Melonjak 34,67 Persen

Pembiayaan Kendaraan Listrik Melonjak 34,67 Persen

Otomotif | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:44 WIB

Timnas Indonesia Masih 0-0, Presiden Prabowo Senyum Tipis, Muka Erick Thohir Tegang

Timnas Indonesia Masih 0-0, Presiden Prabowo Senyum Tipis, Muka Erick Thohir Tegang

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Yusril Buka Suara Soal Dugaan Pesta Sabu di Rutan Depok

Yusril Buka Suara Soal Dugaan Pesta Sabu di Rutan Depok

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:36 WIB

Indosat 5G di Pekanbaru, Bikin Streaming hingga Gaming Lancar Jaya

Indosat 5G di Pekanbaru, Bikin Streaming hingga Gaming Lancar Jaya

Riau | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:34 WIB

Dipimpin Dasco, DPR Gelar Rapat Khusus Bahas RUU Perlindungan Ketenagakeraan Malam Ini

Dipimpin Dasco, DPR Gelar Rapat Khusus Bahas RUU Perlindungan Ketenagakeraan Malam Ini

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:29 WIB

×