Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Pembatalan Konversi LPG ke Kompor Listrik, Analis: Rencana Mencla-mencle

Siswanto | BBC | Suara.com

Kamis, 29 September 2022 | 09:49 WIB
Pembatalan Konversi LPG ke Kompor Listrik, Analis: Rencana Mencla-mencle
BBC

Suara.com - Keputusan pemerintah Indonesia membatalkan program pengalihan kompor LPG tiga kilogram ke kompor listrik usai mendapat respon masyarakat, menurut pengamat, menyingkap proses perencanaan kebijakan yang dipaksakan, tergesa-gesa dan dilakukan secara elitis.

Seharusnya, kata pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah pemerintah terlebih dulu mendengar aspirasi masyarakat dan mencari tahu masalah-masalah apa yang akan muncul ketika rencana itu dilakukan, alih-alih mengaungkan kampanye “penghematan biaya” kompor listrik.

PLN, Selasa (27/09/2022), mengumumkan pembatalan konversi kompor LGP tiga kilogram ke kompor listrik dengan alasan “guna menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19”.

Program konversi itu dilakukan, di antaranya, karena beban subsidi LPG yang mencapai Rp70 triliun setiap tahunnya dan juga upaya untuk mengatasi kelebihan pasokan listrik PLN.

BBC News Indonesia telah menghubungi PLN dan Kementerian ESDM untuk menanyakan hal tersebut, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

Sebelumnya, pemerintah mengatakan akan memberikan 300.000 unit paket kompor listrik gratis ke masyarakat tahun ini.

Terdapat beberapa wilayah yang telah menerima kompor listrik sebagai uji coba.

Salah satunya adalah di Solo, Jawa Tengah. Beberapa warga yang menerima kompor itu menceritakan pengalamannya.

Kompor listrik: 'Mudah sih, tapi...'

Indrawati tampak meletakkan panci khusus di atas salah satu tungku kompor listrik.

Untuk menyalakan kompor listriknya itu, ia menggeser tuas miniatur circuit breaker (MCB) yang terpasang di dinding dekat kompor tersebut. 

“Kompor listik lebih nyaman, praktis dan cepat. Dibandingkan dengan kompor gas. pemakaian kompor listrik lebih santai karena [makanan] tidak cepat kosong. Kalau pakai gas ditinggal sedikit gosong,” kata Indrawati yang tinggal di pemukiman warga tanah hak pakai (HP) 00001 Mojo, Pasar Kliwon, Solo.

Setelah hampir dua bulan memakai kompor listrik, ia mengeluhkan kompor itu karena tidak bisa digunakan untuk membakar ataupun memanggang.

“Susahnya pakai kompor listrik tidak bisa bakar terasi, nggak ada apinya,” ujar dia.

Indrawati menambahkan, kompor listrik pun lebih hemat. Menurut perhitunganya, satu tabung LPG ukuran tiga kilogram hanya bisa digunakan dalam hitungan hari.

“Tabung ijo (LPG tiga kilogram) itu satu sampai dua hari. Sedangkan untuk kompor listrik itu saya beli voucher pulsa listrik Rp100.000 untuk satu bulan. Rumah saya termasuk listrik subsidi,” ujarnya.

Lain halnya dengan Sumarmi (50), salah satu warga penerima bantuan program kompor listrik dari PLN di Solo.

Ia mengaku penggunaan kompor listrik menyebabkan biaya listriknya melambung naik. Bahkan, setiap pekan harus mengisi voucher pulsa listrik sebesar Rp50.000.

“Ini kan listriknya belum subsidi jadi agak banyak abisnya. Apalagi listriknya belum dipakai untuk sehari-hari, kalau dipakai sehari-hari bisa Rp200.000 lebih setiap bulannya,” keluhnya.

Meski demikian, Sumarmi mengaku pengoperasian kompor listrik lebih mudah dibandingkan dengan kompor LPG. 

“Pakai listrik ebih enak dan nyaman. Tapi kalau untuk kesusu (tergesa-gesa) tidak bisa karena agak lambat,” kata dia.

Terkait keputusan PLN yang membatalkan rencana program konversi dari kompor LPG ke kompor listrik, Indrawati maupun Sumarmi mengaku pasrah jika kompor yang telah diterimanya akan ditarik kembali oleh PLN. 

Rencana yang 'mencla-mencle'

Beberapa waktu lalu, pemerintah bersama PLN berencana mengkonversi kompor gas LPG tiga kilogram ke kompor listrik.

Pemerintah pun melakukan uji coba di beberapa daerah dengan membagikan ribuan paket kompor listrik gratis ke masyarakat dengan harga Rp1,8 juta. Targetnya tahun ini adalah 300.000 rumah tangga dengan anggaran sekitar Rp540 miliar.

PLN telah membagikan masing-masing seribu kompor listrik ke warga di Solo dan Denpasar.

Selain uji coba, pemerintah juga mengkampanyekan bahwa kompor listrik lebih hemat dalam memasak dibandingkan kompor LPG. PLN mengeklaim kompor listrik akan menghemat 10-15%.

Masyarakat merespons beragam rencana itu, ada yang mendukung dan menolak.

Proses tersebut, menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menunjukkan kelemahan pemerintah dalam merencanakan suatu kebijakan.

“Rencana kebijakan konversi yang mencla-mencle dan seumur jagung ini mengindikasikan tidak adanya perencanaan yang terstruktur dan sistematis. Ini jadi terlihat testing the water dan dipaksakan saja dan saya melihat ada kepentingan politik di balik itu,” kata Trubus kepada BBC News Indonesia, Rabu (28/09).

Menurutnya, ke depan, pemerintah harus menghindari pola pengambilan kebijakan konversi itu yang bersifat elitis, dari atas ke bawah yang tanpa mendengar apa kebutuhan masyarakat.

“Ketika merancang kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus bertahap dari bawah, dari dialog ke masyarakat, melibatkan ahli hingga pengambilan kebijakan, tidak bisa top-down, tapi harus dari bawah, dari kebutuhan masyarakat,” katanya.

Rencana yang tergesa-gesa di balik ‘kelebihan kapasitas listrik’

Senada, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai rencana konversi ini menunjukkan ketergesa-gesaan tanpa melakukan riset terlebih dahulu.

Ia mencurigai, salah satu tujuan rencana itu adalah untuk mengalihkan beban dari kelebihan pasokan listrik PLN yang kemudian ditanggung oleh masyarakat.

“Rencana ini begitu cepat, dari sosialisasi, bagi-bagi kompor listrik, lalu menunjuk perusahan untuk menyediakan kompor listrik. Saya curiga ini terkait beban oversupply, take or pay. Harusnya negosiasi ulang dengan IPP, bukan masyarakat yang jadi menanggung,” katanya.

“PLN harus berani negosiasi bahwa yang dibayarkan ke IPP adalah yang digunakan. Kalau tidak dipakai, jangan bayar. Itu bisa dan umum terjadi,” kata Fahmy.

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui konversi itu terkait dengan kelebihan pasokan PLN.

Kontrak listrik PLN dengan produsen listrik swasta (IPP) menerapkan skema take or pay. Artinya, PLN tetap membayar kelebihan listrik walaupun tidak terserap oleh masyarakat.

Diperkirakan, surplus listrik PLN mencapai enam gigawatt hingga akhir 2022, dengan biaya tanggungan sekitar Rp3 triliun setiap satu gigawattnya.

Selain itu, rencana konversi ini juga dipengaruhi oleh besarnya subsidi terhadap LPG yang mencapai Rp70 triliun per tahun.

Hal itu disebabkan karena Indonesia mengimpor LPG sebanyak 5,5-6 juta ton per tahun. Pemerintah harus membayar selisih dari harga beli sekitar Rp19.000 dan harga jual di pasar Rp4.250 per kg.

Masalah-masalah di balik rencana konversi

Fahmy dan Trubus juga mencatat beragam masalah yang muncul jika rencana konversi ini dilaksanakan.

Menurut Fahmy yang pertama adalah penggunaan kompor listrik berpotensi menghapus pelanggan dengan daya 450 VA yang disubsidi pemerintah. Masyarakat terpaksa harus menaikan dayanya karena konsumsi kompor listrik berkisar 800 hingga 1.000 watt.

Sebelumnya, PLN telah menjelaskan bahwa pelanggan 450 VA dan 900 VA tidak perlu menaikan daya listrik karena akan menyediakan jalur khusus kompor listrik.

Masalah kedua adalah belum ratanya distribusi listrik di wilayah Indonesia, “di daerah yang mengalami pemadaman hingga berjam-jam, masak pakai apa?”.

Ditambah lagi, ujar Fahmy, listrik yang dihasilkan PLN 60% menggunakan batu bara, energi kotor.

“Masalah-masalah itu yang belum teratasi sehingga realistis untuk membatalkan rencana ini,” ujarnya.

Trubus menambahkan, kompor listrik juga menciptakan masalah bagi para pedagang keliling yang mengantungkan sumber energi dari gas LPG tiga kilogram.

“Pedagang keliling seperti mie ayam, bakso, bagaimana caranya pakai kompor listrik? Tidak akan bisa. Rencana ini tidak substansial, tidak ada urgensinya dan hanya membebani masyarakat, khususnya kelompok bawah,” katanya.

Lantas apa solusinya? Fahmy mengatakan, konversi kompor gas ke listrik merupakan hal yang perlu dilakukan, namun, harus secara bertahap dan jangan dijadikan kewajiban yang memaksa.

“Pemerintah harus melakukan bauran energi, dari jaringan gas, kompor listrik dan juga gas tiga kilogram. Jadi memberikan pilihan kepada masyarakat untuk memilih sambil melakukan sosialisasi penggunaan kompor listrik bagi rumah tangga yang sadar dan mampu,” ujarnya.

PLN batalkan konversi

PLN memutuskan untuk membatalkan program pengalihan kompor LPG 3kg ke kompor listrik.

Langkah ini dilakukan guna menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Selain itu, PLN juga memastikan tarif listrik tidak naik, “Tidak ada kenaikan tarif listrik. Ini untuk menjaga peningkatan daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam siaran pers.

PLN juga memastikan tidak ada penghapusan golongan pelanggan dengan daya 450 VA dan pengalihan ke 900 VA .

Sebelumnya, pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto, Jumat (23/09) telah menegaskan bahwa program konversi tidak akan diberlakukan tahun 2022.

“Dapat saya sampaikan bahwa pemerintah belum memutuskan, sekali lagi pemerintah belum memutuskan terkait program konversi kompor LPG tiga kilogram menjadi kompor listrik induksi,” ujar Airlangga.

Dia menjelaskan, program kompor listrik induksi saat ini masih merupakan uji coba atau prototipe sebanyak 2.000 unit dari rencana 300.000 unit yang akan dilaksanakan di Bali dan di Solo, Jawa Tengah.

“Hasil dari uji coba ini akan dilakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan,” ujarnya.

Walau uji coba masih dilakukan, PLN mengeklaim kompor listrik lebih hemat Rp8.000 atau 10-15% dibandingkan kompor listrik.

Ditarik ke skala nasional, konversi ini disebut akan menghemat APBN hingga Rp330 miliar per tahun jika digunakan oleh 300.000 keluarga penerima manfaat atau Rp5,5 triliun dengan lima juta keluarga.

BBC News Indonesia telah menghubungi PLN dan Kementerian ESDM terkait pembatalan konversi tersebut, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

-

Kontributor di Solo, Fajar Sodiq berkontribusi dalam artikel ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengamat Desak DPR Panggil Zulhas Soal Keterlibatan Kerusakan Lingkungan

Pengamat Desak DPR Panggil Zulhas Soal Keterlibatan Kerusakan Lingkungan

News | Selasa, 09 Desember 2025 | 18:05 WIB

Trubus: Hasto Jadi Beban, PDIP Ambil Jalan Aman

Trubus: Hasto Jadi Beban, PDIP Ambil Jalan Aman

News | Minggu, 03 Agustus 2025 | 19:05 WIB

Pengamat: Hasto Jadi Beban PDIP Jika Kembali Menjadi Sekjen

Pengamat: Hasto Jadi Beban PDIP Jika Kembali Menjadi Sekjen

News | Minggu, 03 Agustus 2025 | 18:36 WIB

Buruh Diingatkan Tetap Fokus Pada Tuntutan saat May Day

Buruh Diingatkan Tetap Fokus Pada Tuntutan saat May Day

News | Kamis, 01 Mei 2025 | 06:04 WIB

Janji Kampanye Pramono Sarapan Bergizi Gratis Batal, Pengamat: Ada Kecemasan MBG Kalah Pamor

Janji Kampanye Pramono Sarapan Bergizi Gratis Batal, Pengamat: Ada Kecemasan MBG Kalah Pamor

News | Jum'at, 14 Maret 2025 | 20:42 WIB

e-Meterai Pendaftaran CPNS 2024 Tuai Polemik, Motif Pemerintah Raup Cuan dari Calon Pekerja?

e-Meterai Pendaftaran CPNS 2024 Tuai Polemik, Motif Pemerintah Raup Cuan dari Calon Pekerja?

News | Rabu, 04 September 2024 | 17:56 WIB

Anggap Anies Menepuk Air di Dulang Soal Pernyataan Ordal Saat Debat, Pengamat Ingkatkan Soal TGUPP

Anggap Anies Menepuk Air di Dulang Soal Pernyataan Ordal Saat Debat, Pengamat Ingkatkan Soal TGUPP

Kotak Suara | Rabu, 13 Desember 2023 | 21:59 WIB

Sadikin Rusli Dinilai Bukan Sosok Sembarangan, Pengamat: Kalau Orang Biasa, Nggak akan Berani Pakai Nama BPK

Sadikin Rusli Dinilai Bukan Sosok Sembarangan, Pengamat: Kalau Orang Biasa, Nggak akan Berani Pakai Nama BPK

News | Selasa, 17 Oktober 2023 | 12:17 WIB

Pemerintah Disarankan Siapkan Kompensasi untuk Perusahaan Swasta yang Terapkan Imbauan WFH

Pemerintah Disarankan Siapkan Kompensasi untuk Perusahaan Swasta yang Terapkan Imbauan WFH

News | Selasa, 15 Agustus 2023 | 17:23 WIB

Rumah Dinas Lurah yang Tak Ditempati dan Jadi Gudang Penyimpanan, Pengamat Minta Pemprov Tegas Beri Sanksi ke Lurah

Rumah Dinas Lurah yang Tak Ditempati dan Jadi Gudang Penyimpanan, Pengamat Minta Pemprov Tegas Beri Sanksi ke Lurah

News | Senin, 15 Agustus 2022 | 20:20 WIB

Terkini

Misi Dagang ke Beijing, RI Bidik Investasi dan Rantai Pasok Global

Misi Dagang ke Beijing, RI Bidik Investasi dan Rantai Pasok Global

Bisnis | Sabtu, 04 April 2026 | 09:39 WIB

Genjot Inovasi dan Layanan, Perusahaan Dessert Ini Perkuat Dominasi Pasar Ritel

Genjot Inovasi dan Layanan, Perusahaan Dessert Ini Perkuat Dominasi Pasar Ritel

Bisnis | Sabtu, 04 April 2026 | 09:24 WIB

Begini Strategi MyFundAction Ciptakan Multiplier Effect Ekonomi

Begini Strategi MyFundAction Ciptakan Multiplier Effect Ekonomi

Bisnis | Sabtu, 04 April 2026 | 09:11 WIB

Bulog Tindaklanjuti Aspirasi Petani dan Pastikan Serap Tebu Petani Blora Sesuai Harga Pemerintah

Bulog Tindaklanjuti Aspirasi Petani dan Pastikan Serap Tebu Petani Blora Sesuai Harga Pemerintah

Bisnis | Sabtu, 04 April 2026 | 06:17 WIB

Hadapi Gejolak Energi Global, Pertamina Percepat Pengembangan Energi Terbarukan

Hadapi Gejolak Energi Global, Pertamina Percepat Pengembangan Energi Terbarukan

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 21:57 WIB

Pertamina NRE dan USGBC Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol Berbasis Knowledge Exchange

Pertamina NRE dan USGBC Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol Berbasis Knowledge Exchange

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 19:58 WIB

Menkeu Purbaya Lantik Fauzi Ichsan Jadi Dewan Pengawas INA

Menkeu Purbaya Lantik Fauzi Ichsan Jadi Dewan Pengawas INA

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 18:20 WIB

Dua Pekan Lagi OJK Mau Geruduk Kantor MSCI, Apa yang Dibahas?

Dua Pekan Lagi OJK Mau Geruduk Kantor MSCI, Apa yang Dibahas?

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 16:59 WIB

Airlangga: Prabowo Mau Kirim Tim ke Korea Selesaikan Proyek Jet Tempur KF-21

Airlangga: Prabowo Mau Kirim Tim ke Korea Selesaikan Proyek Jet Tempur KF-21

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 16:55 WIB

Anggota DPR Ingin Adanya Perubahan Polam Konsumsi Energi dari BBM ke EV

Anggota DPR Ingin Adanya Perubahan Polam Konsumsi Energi dari BBM ke EV

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 16:51 WIB