Suara.com - Sejumlah perusahaan BUMN dikabarkan akan melakukan Intial Public Offering (IPO) pada tahun 2023 mendatang. Keputusan untuk menjual saham ke publik ini juga ditengah ancaman resesi ekonomi yang akan datang.
Diketahui empat BUMN bersiap melantai di bursa saham, keempatnya adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina Hulu Energi (PHE), PalmCo, dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
Lantas bagaimana nasib saham perusahaan BUMN tersebut, apakah menarik atau tidak?
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan keputusan IPO tentunya telah mempertimbangkan berbagai aspek.
"Timing yang tepat menjadi salah satu komponen penting dalam pengambilan keputusan," kata Nyoman kepada media ditulis, Senin (12/12/2022).
Terkait ancaman kondisi krisis pada tahun depan, Nyoman menyebutkan bahwa berdasarkan data yang ada, Indonesia telah mengalami berbagai krisis dan terakhir dialami saat terjadinya pandemic Covid-19 pada 2020. Pandemi Covid-19 telah melanda hampir seluruh wilayah di dunia dan telah meluluh lantakkan perekonomian negara-negara di dunia.
Berdasarkan data BPS lanjut Nyoman ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen dibandingkan tahun 2019. Dan pada triwulan ketiga 2022 terhadap triwulan ketiga 2021, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,72 persen.
Tahun 2020 saat pendemi Covid-19, perusahaan yang menerbitkan saham berjumlah 51 perusahaan dengan total perolehan dana sebesar Rp5,6 triliun. Tahun 2021 meningkat menjadi 54 perusahaan atau naik 5,9 persen.
"Sedangkan pada 2022 ini, sampai dengan 9 Desember 2022 perusahaan yang menerbitkan dan mencatatkan saham di BEI telah mencapai 107 persen dibandingkan tahun 2021, yaitu dari 54 perusahaan menjadi 58 perusahaan, pada sistem e-IPO juga masih terdapat 1 perusahaan yang sedang dalam proses penawaran umum," katanya.
Sedangkan data KSEI, ditinjau dari jumlah investor di pasar modal pada 2020 jumlahnya naik 56,2 persen dibandingkan 2019, dan pada 2021 naik tajam 92,9 persen. Pada November 2022, jumlah investor pasar modal telah menembus angka 10,2 juta investor atau naik 35,4 persen dibandingkan tahun 2021. Hal tersebut tentunya mengindikasikan kepercayaan investor dalam berinvestasi di pasar modal masih terjaga baik.
Sementara di tahun 2023 dapat menjadi tahun yang penuh tantangan. Hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi para pelaku usaha untuk bertumbuh mengembangkan bisnis. Prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kondisi yang ada.
"Kita telah mengalami situasi yang sulit pada saat pandemic Covid-19 terjadi dan diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua," pungkasnya.