Suara.com - Presiden Jokowi dikabarkan segera memanggil Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk meminta klarifikasi mengenai proposal perdamaian dalam konflik Ukraina. Pemanggilan tersebut direncanakan akan dilakukan hari ini atau besok.
Hal ini diungkapkan oleh Jokowi saat menjawab pertanyaan wartawan setelah Rapat Kerja Nasional III PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Prabowo sebelumnya mengajukan proposal perdamaian untuk konflik antara Ukraina dan Rusia. Penjelasan ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, pada hari Senin.
Prabowo mengemukakan gagasan perdamaian antara Rusia dan Ukraina dalam KTT pertahanan Shangri-La Dialog di Singapura, di mana ia menjadi pembicara pada akhir pekan sebelumnya. Dalam forum tersebut, ia mengusulkan beberapa ide, termasuk penghentian permusuhan dan gencatan senjata di posisi saat ini.
Selain itu, Prabowo juga mengusulkan pembentukan zona demiliterisasi yang akan diawasi oleh pengamat dan pasukan penjaga perdamaian PBB. Ia juga menyarankan adanya referendum di wilayah yang menjadi sengketa, dengan PBB bertindak sebagai penyelenggara.
Rudenko menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap setiap proposal perdamaian yang diajukan. Meskipun belum menerima proposal secara resmi, ia telah mendengar poin-poin proposal tersebut melalui media.
Namun, Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksii Reznikov, menolak dengan tegas proposal yang diajukan oleh Prabowo. Menurutnya, satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian adalah dengan Rusia menarik pasukannya dari Ukraina.
"Ide tersebut terdengar seperti rencana dari Rusia, bukan rencana dari Indonesia. Kami tidak membutuhkan mediator ini datang dengan rencana yang aneh seperti itu," ujar Nikolenko seperti yang dikutip oleh Reuters.
"Ingat, di wilayah yang diduduki, pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Saat ini, Rusia sedang berusaha menghalangi serangan balik Ukraina," tambahnya.