- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengajak investor membeli saham di pasar modal Indonesia karena adanya akselerasi pertumbuhan ekonomi.
- BPS melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
- Meski terjadi kontraksi kuartalan 0,77 persen, pemerintah tetap optimistis menjaga tren pertumbuhan positif melalui berbagai kebijakan strategis ke depan.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta para investor untuk segera 'serok' atau membeli saham Indonesia di pasar modal. Sebab saat ini RI diklaim mengalami akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Menkeu Purbaya mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Bendahara Negara menyebut angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi RI di triwulan keempat 2025 yang mencapai 5,39 persen.
"Dulu kan sebelumnya 5,39, sekarang 5,61. Dibanding sebelum-sebelumnya 5 atau di bawah 5 sedikit kan. Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi," kata Purbaya di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Purbaya menyayangkan kalau pertumbuhan ekonomi RI ini malah tidak disadari banyak investor. Walhasil mereka dinilainya takut dan keluar dari pasar modal Indonesia.
Padahal sebelumnya Purbaya meminta investor melakukan serok saham saat ini. Ia berani menjamin kalau mereka bakal untung banyak.
![Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Pada sesi pembukaan perdagangan Jumat (10/4) pagi, IHSG naik 44,921 poin (0,61 persen) ke level 7.352,510 pada hari pertama penerapan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/40172-ihsg.jpg)
"Kan saya kemarin-kemarin bilang serok-serok-serok saja. Kalau mereka ikut, mungkin nanti ke depan akan untung banyak. Namun jelas ekonomi sedang menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, dan akan kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan," jelasnya.
Diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan capaian tersebut tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Meski secara tahunan tumbuh kuat, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding triwulan IV 2025.
"Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” ujarnya.
Menurut BPS, kontraksi kuartalan tersebut merupakan pola musiman, sementara secara tahunan kinerja ekonomi menunjukkan penguatan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.