Laporan Kearney Paparkan 5 Sektor Kunci Agar Indonesia Jadi Pemimpin Global dalam Transisi Hijau

Fabiola Febrinastri, Restu Fadilah

Jum'at, 06 Desember 2024 | 09:28 WIB
Laporan Kearney Paparkan 5 Sektor Kunci Agar Indonesia Jadi Pemimpin Global dalam Transisi Hijau
Kearney saat merilis kerangka kerja berupa lima pilar dan lima sektor pendorong yang akan mengarahkan Indonesia menuju emisi net-zero pada 2060. (Dok: Kearney)

Suara.com - Indonesia berada dalam posisi unik untuk menjadi pemimpin global dalam transisi hijau, menurut laporan terbaru Kearney, sebuah perusahaan konsultan manajemen global terkemuka. Berjudul "Jalur Indonesia Menuju Net Zero 2060", laporan ini menguraikan kerangka komprehensif untuk mencapai target emisi net-zero Indonesia yang ambisius pada tahun 2060, menampilkan potensinya untuk menjadi model global bagi pembangunan berkelanjutan.

Komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan sudah terlihat dalam beberapa inisiatif utama: penandatanganan rencana investasi energi terbarukan senilai $20 miliar; keberhasilan penyelenggaraan presidensi G20 pada tahun 2022; peluncuran dekrit FOLU Net Sink 2030 untuk mempromosikan pertanian berkelanjutan; dan partisipasi aktifnya dalam Just Energy Transition Partnership (JETP). Tindakan-tindakan ini menunjukkan pendekatan proaktif Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim dan komitmennya untuk berkolaborasi dengan mitra internasional guna mencapai tujuan keberlanjutan bersama.

"Indonesia berada pada momen penentuan. Negara ini memiliki komitmen yang jelas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK)," kata Shirley Santoso, Direktur Utama Kearney Indonesia.

Menurutnya, saat ini, fokus kita harus beralih untuk menunjukkan kemajuan yang nyata dalam pengurangan emisi sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Perjalanan ini menghadirkan tantangan besar sekaligus peluang yang luar biasa untuk diversifikasi ekonomi dan kemajuan teknologi.

"Laporan ini memberikan rencana strategis untuk menuntun kita," imbuhnya.

Penelitian Kearney mengidentifikasi lima sektor utama yang berkontribusi pada emisi GRK Indonesia: 55% berasal dari pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan (AFOLU), 26% dari energi, 8% dari transportasi, 8% dari sampah, dan 3% dari proses industri dan produksi (IPPU). Laporan ini menguraikan kerangka intervensi yang terarah di setiap sektor, dengan pendekatan dua arah: tindakan spesifik sektor dan pendorong lintas sektor yang penting.

Tindakan spesifik sektor adalah:

  • AFOLU (Agriculture, Forestry, and Land Use): Menciptakan penampung karbon neto dari kehutanan dan penggunaan lahan, menjalankan program restorasi, mencegah deforestasi, dan meningkatkan pertanian yang berkelanjutan.
  • Energi: Meningkatkan efisiensi energi, mempercepat penerapan energi terbarukan (termasuk solusi hibrida), dan memanfaatkan teknologi CCS untuk menghilangkan emisi yang tidak dapat dihindari.
  • Transportasi: Merevitalisasi transportasi perkotaan, meningkatkan standar efisiensi bahan bakar, berinvestasi besar-besaran pada kendaraan listrik, dan secara proaktif berinvestasi dalam mobilitas hidrogen.
  • Sampah: Mengelola limbah industri dengan ketat, mengurangi limbah padat di kota melalui penegakan hukum dan partisipasi aktif pemangku kepentingan, dan memastikan pengolahan air limbah domestik yang lengkap.
  • IPPU (Industrial Processes and Production Use): Modernisasi dan mendekarbonisasi industri berintensitas emisi tinggi dengan mengadopsi teknologi hijau dan menegakkan standar emisi.

Pendorong lintas sektor yang sangat penting untuk mempercepat transisi hijau:

  • Kebijakan Ekosistem Hijau: Membentuk kerangka regulasi yang efektif, termasuk teknologi bersih dan penetapan harga karbon. Kebijakan teknologi bersih harus mencakup seluruh rantai nilai. Penetapan harga karbon melalui pajak dan kredit akan memberikan insentif ekonomi untuk mengurangi emisi.
  • Pembiayaan Hijau (“Green Financing”): Mencapai net zero pada 2060 memerlukan investasi sebesar $2,4 triliun atau $62 miliar per tahun. Saat ini, ESG telah menjadi fokus utama bagi investor global. Indonesia harus mengurangi hambatan penanaman modal asing dan menyesuaikan pedoman pinjaman untuk menarik modal bagi investasi hijau.
  • Teknologi Hijau: Sangat penting untuk beralih dari teknologi yang berintensitas karbon tinggi, ke solusi hijau yang inovatif. R&D yang terfokus akan mendorong adopsi teknologi baru.
  • Kemitraan Transisi Energi yang Adil: Memastikan inklusivitas dengan mendukung kelompok-kelompok rentan, seperti UMKM di industri dengan karbon tinggi, petani kecil, dan tenaga kerja Indonesia secara menyeluruh.
  • Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran sangat penting, sebab 64% orang Indonesia masih ragu untuk mengalokasikan sumber daya mereka untuk perubahan iklim. Program komunitas dan kampanye media sosial dapat menciptakan pemahaman dan urgensi untuk bertindak nyata.

Pada tahun 2022, Indonesia adalah negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar kelima secara absolut, setelah China, Amerika Serikat, India, dan Rusia. Ekonomi Indonesia juga secara historis bergantung pada industri yang menggunakan sumber daya bahan bakar fosil negara ini, yang tinggi emisi.

baca juga

"Perencanaan yang efektif dan pelaksanaan yang ketat sangat penting untuk mempercepat transisi dan memastikan hasil yang adil dan inklusif," jelas Som Panda, Principal di Kearney Indonesia.

Lebih jauh dia mengatakan, perubahan iklim menghadirkan tantangan ekonomi dan lingkungan yang signifikan yang tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Masa depan net zero hanya dapat dicapai melalui upaya kolektif dari semua pihak yang terlibat, termasuk pemerintah, bisnis dan korporasi, investor, dan masyarakat.

"Dengan momentum yang diperbarui ini, sekarang saatnya untuk bertindak, melaksanakan, dan mentransformasi negara ini," tukasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PLN Siapkan Teknologi CCS/CCUS, Untuk Tekan Emisi di Sisi Pembangkitan Hingga 19 GW di 2060

PLN Siapkan Teknologi CCS/CCUS, Untuk Tekan Emisi di Sisi Pembangkitan Hingga 19 GW di 2060

Bisnis | Kamis, 05 Desember 2024 | 22:05 WIB

Dukung Transisi Energi Berkelanjutan, PLN Gelar Touring EVenture dengan Kendaraan Listrik

Dukung Transisi Energi Berkelanjutan, PLN Gelar Touring EVenture dengan Kendaraan Listrik

Bisnis | Rabu, 04 Desember 2024 | 11:47 WIB

Transisi Energi Listrik dalam Mendukung Swasembada Energi Khususnya di Daerah Pedesaan

Transisi Energi Listrik dalam Mendukung Swasembada Energi Khususnya di Daerah Pedesaan

Bisnis | Minggu, 24 November 2024 | 14:12 WIB

Electricity Connect 2024 Siap Digelar, Momentum Kolaborasi untuk Transisi Energi

Electricity Connect 2024 Siap Digelar, Momentum Kolaborasi untuk Transisi Energi

News | Selasa, 19 November 2024 | 20:05 WIB

Dari COP29 Azerbaijan, PLN Boyong 5 Kerja Sama Strategis untuk Transisi Energi di Tanah Air

Dari COP29 Azerbaijan, PLN Boyong 5 Kerja Sama Strategis untuk Transisi Energi di Tanah Air

News | Senin, 18 November 2024 | 14:15 WIB

BRI Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif Lewat Pembiayaan Rp764,8 Triliun

BRI Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif Lewat Pembiayaan Rp764,8 Triliun

Bri | Senin, 18 November 2024 | 13:19 WIB

Terkini

Akibat Pasokan Seret, Harga Cabai di Banyumas Tembus Rp80 Ribu!

Akibat Pasokan Seret, Harga Cabai di Banyumas Tembus Rp80 Ribu!

Jawa Tengah | Minggu, 27 September 2026 | 11:46 WIB

Korban KM Virgo Transport 8, Jenazah Taruno Akhirnya Pulang ke Madiun, Adik Masih Dicari

Korban KM Virgo Transport 8, Jenazah Taruno Akhirnya Pulang ke Madiun, Adik Masih Dicari

Jatim | Minggu, 27 September 2026 | 11:36 WIB

Shio Ciong vs Shio Hoki, Apa Bedanya dalam Ramalan Feng Shui?

Shio Ciong vs Shio Hoki, Apa Bedanya dalam Ramalan Feng Shui?

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:30 WIB

Waspada! Gunung Semeru Erupsi Lagi, Kolom Abu Vulkanik Tembus 1,3 Kilometer

Waspada! Gunung Semeru Erupsi Lagi, Kolom Abu Vulkanik Tembus 1,3 Kilometer

Jatim | Minggu, 27 September 2026 | 11:29 WIB

7 Cara Menghilangkan Bau Apek saat AC Pertama Kali Dinyalakan di Pagi Hari

7 Cara Menghilangkan Bau Apek saat AC Pertama Kali Dinyalakan di Pagi Hari

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:25 WIB

Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta

Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 11:20 WIB

Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat

Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:20 WIB

Indonesia Kembali Bidik Kursi DK PBB 2029-2030, Sugiono Ungkap Komitmen yang Dibawa

Indonesia Kembali Bidik Kursi DK PBB 2029-2030, Sugiono Ungkap Komitmen yang Dibawa

News | Minggu, 27 September 2026 | 11:19 WIB

Sammy Simorangkir Bawakan Lagu-Lagu Kerispatih, Pestapora 2026 Larut dalam Nostalgia

Sammy Simorangkir Bawakan Lagu-Lagu Kerispatih, Pestapora 2026 Larut dalam Nostalgia

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 11:08 WIB

3D Printing Kini Bisa Bikin Mainan hingga Barang Medis

3D Printing Kini Bisa Bikin Mainan hingga Barang Medis

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:07 WIB

×