Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.835.000
Beli Rp2.707.000
IHSG 7.106,520
LQ45 686,739
Srikehati 332,564
JII 477,320
USD/IDR 17.222

Inovasi dan Komitmen Bambu Tresno dalam Meningkatkan Kesejahteraan Pengrajin Lewat BRI UMKM EXPO(RT) 2025

Fabiola Febrinastri | RR Ukirsari Manggalani | Suara.com

Rabu, 19 Februari 2025 | 14:14 WIB
Inovasi dan Komitmen Bambu Tresno dalam Meningkatkan Kesejahteraan Pengrajin Lewat BRI UMKM EXPO(RT) 2025
Margareta Ade Oktarina Wardani, owner Bambu Tresno, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (Dok: BRI)

Suara.com - Bambu Tresno, yang didirikan Margareta Ade Oktarina Wardani adalah usaha kerajinan bambu yang terletak di Bantul, Yogyakarta. Usaha ini lebih dari sekadar bisnis biasa. Margareta memiliki visi untuk membangun ekosistem kerajinan bambu yang menghasilkan produk berkualitas sekaligus memastikan pengrajin bambu mendapatkan upah yang layak. Bambu Tresno berkomitmen untuk meningkatkan apresiasi terhadap kerajinan bambu dan memastikan pengrajin menerima bayaran yang adil atas kerja keras mereka.

Nama Bambu Tresno memiliki makna personal bagi Margareta. "Tresno" dalam bahasa Jawa berarti cinta, dan nama ini dipilih untuk mencerminkan rasa cintanya kepada keluarga, masyarakat, serta budaya kerajinan bambu yang telah diwariskan turun-temurun. Nama ini juga mencerminkan komitmennya untuk terus melestarikan kerajinan bambu sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Awalnya, sang owner ini melihat ketimpangan dalam pasar kerajinan bambu, di mana banyak produk dijual dengan harga sangat rendah yang merugikan pengrajin. Harga yang ditekan ini membuat pengrajin hanya mendapatkan upah sekitar Rp45.000 hingga Rp50.000 per hari, meskipun mereka bekerja dengan tekun dan memiliki keterampilan khusus. Hal ini menjadi salah satu alasan Margareta mendirikan Bambu Tresno, dengan tujuan menciptakan sistem yang lebih adil, di mana produk bambu dihargai dengan wajar dan pengrajin mendapatkan penghasilan yang layak.

Bambu Tresno tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga menjembatani pengrajin dan konsumen. Margareta bekerja sama dengan berbagai toko besar di kota-kota seperti Malang dan Surabaya, di mana permintaan produk bambu sangat tinggi, namun sering kali harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan kualitas yang dihasilkan. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara memenuhi permintaan pasar dan memastikan pengrajin mendapatkan bayaran yang sesuai. Ia percaya bahwa dengan menghargai karya pengrajin, hubungan yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen dapat tercipta.

Bambu Tresno didirikan pada awal 2020, di tengah pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Meski banyak sektor bisnis yang terpuruk, Bambu Tresno justru menemukan peluang baru.

"Pandemi memberikan berkah bagi pengrajin karena permintaan hampers meningkat pesat, yang biasanya digunakan sebagai hadiah dalam acara hajatan," kata Margareta.

Dengan banyaknya acara yang dilarang, hampers menjadi alternatif untuk memberi hadiah, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan produk kerajinan bambu dan memberi kesempatan bagi Bambu Tresno untuk berkembang.

Tantangan terbesar yang dihadapi Bambu Tresno adalah mencari pengrajin, karena banyak dari mereka sudah berusia lanjut, sehingga sulit menemukan tenaga kerja muda yang terampil. Untuk mengatasinya, Margareta memutuskan untuk memperluas kesempatan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitar desa yang memiliki keterampilan menganyam bambu. Ia membeli hasil anyaman mereka untuk diproses menjadi produk siap jual. Dengan cara ini, Bambu Tresno tidak hanya menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi juga membantu melestarikan keterampilan tradisional yang semakin langka.

Seiring waktu, pengrajin yang bergabung dengan Bambu Tresno semakin beragam, mulai dari remaja SMA hingga pengrajin berusia 60-70 tahun. Keberagaman ini menunjukkan bahwa kerajinan bambu tidak hanya diminati oleh generasi tua, tetapi juga oleh generasi muda yang tertarik mempelajari keterampilan itu. Margareta merasa bangga melihat tradisi ini terus berkembang meski tantangan zaman semakin besar.

Meskipun Bambu Tresno menghadapi persaingan harga yang ketat dan kebutuhan untuk menjaga kualitas produk, usaha ini terus berkembang. Mereka menjual berbagai produk kerajinan bambu, mulai dari hampers yang dihargai sekitar Rp30.000 hingga dekorasi yang bisa dihargai hingga Rp200.000. Permintaan terhadap produk ini dipengaruhi oleh musim, dengan penjualan yang meningkat menjelang hari raya seperti Lebaran dan Natal.

Untuk mengatasi tantangan penjualan, Bambu Tresno memanfaatkan platform media sosial. Margareta menjelaskan bahwa mereka mulai berjualan melalui Instagram dan mendapat respons positif dari konsumen. Suaminya juga mencoba menggunakan TikTok dengan melakukan live streaming, yang ternyata sangat efektif dalam menarik perhatian konsumen dan memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.

Selain memanfaatkan platform online, Bambu Tresno juga aktif mengikuti berbagai pameran UMKM, seperti BRI UMKM EXPO(RT) 2025, yang memberi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka. Menurut Margareta, pameran sangat penting karena selain membuka peluang jual beli, juga memberikan kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan sesama pelaku usaha.

"Melalui pameran, saya bisa bertemu banyak orang, memperluas jaringan, dan mendapatkan inspirasi baru," ujar Margareta.

Pameran-pameran ini telah membantu Bambu Tresno meningkatkan penjualan dan menemukan banyak peluang untuk berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Bambu Tresno semakin dikenal masyarakat. Meskipun keuntungan yang diperoleh masih terbilang kecil, sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan, Margareta merasa puas karena usahanya memberikan dampak positif bagi banyak orang. Ia berharap Bambu Tresno dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin bambu dan agar kerajinan bambu Indonesia semakin dihargai, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Revolusi Digital BRI: Kredit Lebih Cepat, Layanan Makin Efektif

Revolusi Digital BRI: Kredit Lebih Cepat, Layanan Makin Efektif

Bri | Rabu, 19 Februari 2025 | 13:57 WIB

Penggemarnya Tak Cuma dari Indonesia, Ini Kisah Sukses Cokelat Ndalem

Penggemarnya Tak Cuma dari Indonesia, Ini Kisah Sukses Cokelat Ndalem

Bisnis | Rabu, 19 Februari 2025 | 13:33 WIB

Dari Angkut Hasil Panen Hingga Akses Kesehatan, BRI Peduli Hadir di Desa Keyongan

Dari Angkut Hasil Panen Hingga Akses Kesehatan, BRI Peduli Hadir di Desa Keyongan

Bri | Rabu, 19 Februari 2025 | 12:51 WIB

BRI Expo UMKM 2025 Bantu Songket PaSH Perluas Pasar dan Tingkatkan Penjualan

BRI Expo UMKM 2025 Bantu Songket PaSH Perluas Pasar dan Tingkatkan Penjualan

Bisnis | Rabu, 19 Februari 2025 | 12:44 WIB

BRI Peduli Dukung Masa Depan Berkelanjutan dengan Energi Terbarukan di Desa Jatihurip

BRI Peduli Dukung Masa Depan Berkelanjutan dengan Energi Terbarukan di Desa Jatihurip

Bisnis | Rabu, 19 Februari 2025 | 11:50 WIB

Dirut Telkom: Pelaku UMKM bisa Manfaatkan AI untuk Lakukan Leapfrog

Dirut Telkom: Pelaku UMKM bisa Manfaatkan AI untuk Lakukan Leapfrog

Bisnis | Rabu, 19 Februari 2025 | 07:17 WIB

Terkini

Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman

Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 17:16 WIB

IHSG Terus Terjun ke Zona Merah, Nyaris ke Level 6.900

IHSG Terus Terjun ke Zona Merah, Nyaris ke Level 6.900

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 17:07 WIB

TelkomGroup Dukung Menkomdigi, Ciptakan Ruang Digital Aman Bagi Anak Melalui PP Tunas

TelkomGroup Dukung Menkomdigi, Ciptakan Ruang Digital Aman Bagi Anak Melalui PP Tunas

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 17:03 WIB

Telkom Luncurkan Agentic AI by BigBox, Lompatan Baru AI Otonom untuk Percepat Transformasi

Telkom Luncurkan Agentic AI by BigBox, Lompatan Baru AI Otonom untuk Percepat Transformasi

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 16:46 WIB

ESDM Mulai Uji Coba B50 ke Kereta Api

ESDM Mulai Uji Coba B50 ke Kereta Api

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 16:37 WIB

Rencana 100 Gudang Pangan Disorot, Salah Lokasi Bisa Jadi Mubazir

Rencana 100 Gudang Pangan Disorot, Salah Lokasi Bisa Jadi Mubazir

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 16:28 WIB

Rupiah Loyo Lagi, Masih Betah di Level Rp 17.242/USD

Rupiah Loyo Lagi, Masih Betah di Level Rp 17.242/USD

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 16:22 WIB

YLKI Pertanyakan Infrastruktur dan Sistem Keselamatan PT KAI dalam Kecelakaan KRL di Bekasi

YLKI Pertanyakan Infrastruktur dan Sistem Keselamatan PT KAI dalam Kecelakaan KRL di Bekasi

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 16:12 WIB

Santunan Korban Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek Harus Dipercepat dan Dipermudah

Santunan Korban Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek Harus Dipercepat dan Dipermudah

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 15:46 WIB

Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?

Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 15:46 WIB