Pembangkit Listrik dari Nuklir Dinilai Bisa Jadi Andalan RI Capai Ketahanan Energi

Achmad Fauzi

Kamis, 01 Mei 2025 | 16:23 WIB
Pembangkit Listrik dari Nuklir Dinilai Bisa Jadi Andalan RI Capai Ketahanan Energi
Ilustrasi fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir. [Shutterstock]

Suara.com - Anggota Komisi XII DPR RI, Gandung Pardiman, meminta pemerintah serius dalam terhadap pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hal ini sebagai upaya dari strategi jangka panjang ketahanan energi nasional.

Menurutnya, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), telah menunjukkan keseriusan untuk menghadirkan energi nuklir sebagai solusi atas tantangan kebutuhan energi nasional ke depan.

"PLTN adalah jawaban atas kebutuhan energi yang bersih, stabil, dan berdaya saing tinggi. Ini langkah besar yang harus kita dukung bersama," ujar Gandung di Jakarta, Kamis (1/5/2025).

Pemerintah menargetkan PLTN pertama mulai beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas awal sebesar 250 megawatt (MW). Kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 4,3 gigawatt (GW) pada tahun 2040.

Proyeksi ini sesuai dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang mencanangkan kontribusi energi nuklir mencapai 14,2% dari total bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 73,6 persen pada tahun 2060.

Gandung Pardiman menekankan bahwa PLTN memiliki sejumlah keunggulan strategis yang menjadikannya pilihan ideal untuk menggantikan pembangkit berbasis batu bara yang selama ini mendominasi. Selain mampu menjadi sumber base load yang besar dan stabil, energi nuklir juga memiliki emisi karbon yang sangat rendah sehingga sangat sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE).

"PLTN bukan cuma soal energi, tapi juga katalis industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja baru. Ini momentum besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," imbuh dia,

Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan PLTN bukan tanpa tantangan. Ada tiga isu krusial yang menurutnya harus menjadi perhatian utama pemerintah agar program ini dapat berjalan optimal dan mendapatkan legitimasi dari masyarakat luas.

Pertama adalah dukungan publik. Meski survei Kementerian ESDM menunjukkan bahwa 70% masyarakat Indonesia mendukung pembangunan PLTN, Gandung menilai bahwa sosialisasi harus diperluas. Edukasi dan pelibatan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang berpotensi menjadi lokasi tapak PLTN, menjadi penting guna membangun kepercayaan dan meminimalisasi resistensi.

baca juga

Kedua, Gandung menyoroti pentingnya sistem pengelolaan limbah radioaktif yang ketat dan aman. Menurutnya, aspek ini sangat menentukan keberlangsungan dan keamanan PLTN jangka panjang. Regulasi, teknologi, serta sistem pengawasan harus dirancang sebaik mungkin agar tidak menjadi ancaman bagi generasi mendatang.

Ketiga, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi hal yang tak kalah penting. Untuk mengoperasikan dan mengelola teknologi nuklir secara aman dan efisien, dibutuhkan tenaga ahli yang kompeten dan terlatih.

Gandung mendorong agar pemerintah mulai menyiapkan program pendidikan dan pelatihan secara terstruktur untuk mencetak SDM unggul di sektor energi nuklir.

Sebagai bentuk komitmen konkret, Gandung mendesak pemerintah agar segera membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) sebagai badan pelaksana khusus yang akan mengawal dan mengeksekusi seluruh tahapan program pengembangan PLTN nasional.

"Kalau mau maju, kita harus berani masuk ke energi masa depan. Dan nuklir adalah salah satunya," kata dia.

Masyarakat Setuju RI Bangun PLTN

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, antusiasme masyarakat kini kian tinggi, terlihat dari hasil survei yang dilakukan dari tahun ke tahun.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, mengatakan bahwa pengembangan PLTN kini telah masuk dalam prioritas utama pemerintah, termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2024 dan revisi Kebijakan Energi Nasional.

"Berdasarkan survei tahun 2016, dukungan masyarakat terhadap PLTN mencapai 77,53 persen secara nasional. Tahun berikutnya, angkanya naik menjadi 73,7 persen," kata Dadan

Menariknya, di wilayah Kalimantan Barat, angka dukungan terhadap proyek energi nuklir ini bahkan menembus 88 persen. "Di Kalbar, dukungan publik sangat tinggi," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Komitmen Tingkatkan Produksi Energi Nasional, Menteri ESDM Tinjau Operasional Hulu Migas PHM

Komitmen Tingkatkan Produksi Energi Nasional, Menteri ESDM Tinjau Operasional Hulu Migas PHM

Bisnis | Kamis, 01 Mei 2025 | 14:43 WIB

Kuartal I 2025, PGN Jaga Kinerja Operasional dan Ketahanan Energi Nasional

Kuartal I 2025, PGN Jaga Kinerja Operasional dan Ketahanan Energi Nasional

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 16:04 WIB

PLN IP Penuhi Kebutuhan Masyarakat Wilayah Terluar dengan Energi Bersih

PLN IP Penuhi Kebutuhan Masyarakat Wilayah Terluar dengan Energi Bersih

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 15:12 WIB

Terkini

Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!

Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:35 WIB

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:31 WIB

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:30 WIB

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:23 WIB

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:18 WIB

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:13 WIB

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:05 WIB

×