Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.206,349
LQ45 631,211
Srikehati 317,836
JII 386,032
USD/IDR 17.738

Bali di Tengah Gelombang Bisnis Properti, Surga Investasi dan Risiko di Masa Depan

M Nurhadi | Suara.com

Selasa, 20 Mei 2025 | 20:51 WIB
Bali di Tengah Gelombang Bisnis Properti, Surga Investasi dan Risiko di Masa Depan
Ilustrasi Bali - Rangkaian acara G20 (Sebastian Pena/Unplash)

Suara.com - Pandemi COVID-19 memang sempat mengguncang berbagai sektor ekonomi global, tak terkecuali industri properti di Indonesia. Namun, di balik badai tantangan tersebut, pasar properti Tanah Air justru menemukan jalan untuk beradaptasi dan membuka lembaran baru.

Pergeseran fundamental dalam gaya hidup masyarakat, perubahan preferensi konsumen yang kian selektif, dan akselerasi adopsi teknologi telah melahirkan peluang-peluang properti yang sebelumnya tak banyak dilirik. Tren kerja dari rumah (work from home), meningkatnya kebutuhan akan ruang hijau yang asri, serta kesadaran yang lebih tinggi terhadap kesehatan dan kesejahteraan, kini menjadi faktor penentu dalam keputusan konsumen memilih hunian dan ruang kerja.

Menurut data dari Mordor Intelligence, proyeksi pasar properti Indonesia menunjukkan angka yang mengesankan.

Diprediksi mencapai USD 68,55 miliar pada tahun 2025, pasar ini diharapkan akan terus merangkak naik hingga menyentuh angka USD 90,96 miliar pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 5,82% selama periode perkiraan 2025-2030.

Sektor properti di Indonesia sendiri telah lama menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi, dengan kontribusi PDB dari kegiatan properti mencapai Rp 488,31 triliun (setara USD 31 miliar) pada tahun 2022, sebagaimana dilaporkan oleh Statistik Indonesia. Angka-angka ini menunjukkan resiliensi dan potensi besar industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah optimisme pasar properti nasional, Bali muncul sebagai bintang yang bersinar terang, mencatatkan kenaikan signifikan pada harga dan okupansi properti. Masifnya kedatangan wisatawan ke Pulau Dewata pascapandemi menjadi daya dorong utama bagi geliat pembangunan properti di sana.

Fenomena ini tak hanya menarik minat investor lokal, tetapi juga memikat hati para investor asing dari berbagai belahan dunia. Warga negara asing (WNA) asal Rusia, Ukraina, Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika, kini berbondong-bondong melirik dan meraup keuntungan dari bisnis properti di Bali.

Daya pikat tak terbantahkan dari Bali tentu saja terletak pada keindahan alamnya yang memukau. Dari hamparan pantai berpasir unik, deretan sawah hijau yang artistik, hingga kemegahan pura-pura kuno yang kaya filosofi, semuanya berpadu harmonis dengan budaya lokal yang memesona dan sulit ditemukan di tempat lain.

Lebih dari sekadar pemandangan menakjubkan, Bali juga menawarkan pengalaman hidup yang autentik dan spiritual—sebuah nilai yang semakin dicari banyak orang di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Ditambah dengan keramahan penduduk lokal dan kekayaan seni yang terus hidup dan berkembang, tak heran jika Bali terus menjadi primadona dunia.

"Pandemi telah mengubah prioritas masyarakat secara fundamental. Kini, orang mencari hunian yang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga mampu menunjang produktivitas kerja dan kesehatan keluarga mereka. Bali, dengan segala keunikan dan pesonanya, telah menjadi salah satu destinasi utama yang merangkul tren baru ini,” ungkap Shanny Poijes, Founder & CEO CORE Concept Living, sebuah pengembang properti.

Geliat bisnis properti di Bali pascapandemi mendorong para pengembang untuk beradaptasi dengan inovasi dan menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. Hal ini mencakup integrasi teknologi smart home untuk kenyamanan dan efisiensi, desain properti yang lebih ramah lingkungan (eco-friendly), serta pemanfaatan layanan digital secara menyeluruh dalam setiap tahapan, mulai dari proses pembelian hingga pengelolaan kepemilikan properti.

Namun, di balik geliat investasi dan pesona tak terbantahkan ini, pembangunan properti yang semakin masif di Bali juga membawa tantangan tersendiri dan potensi ancaman serius. Pertumbuhan yang tak terkendali dapat mengancam keseimbangan ekosistem Pulau Dewata, mulai dari tekanan pada sumber daya air, masalah pengelolaan limbah, hingga perubahan lanskap budaya yang menjadi ciri khas Bali.

Infrastruktur yang ada, seperti jalan raya dan fasilitas publik, berpotensi kewalahan menampung laju pertumbuhan penduduk dan wisatawan yang semakin meningkat.

Ancaman lain adalah potensi komersialisasi berlebihan dan hilangnya esensi budaya Bali. Jika pembangunan tidak diimbangi dengan regulasi yang kuat dan perencanaan yang matang, keautentikan Bali yang menjadi daya tarik utama bisa terkikis.

Kenaikan harga properti yang drastis juga dapat menyebabkan masyarakat lokal kesulitan memiliki hunian di tanah kelahiran mereka sendiri, memicu kesenjangan sosial dan ekonomi.

Dinamika pasar properti Indonesia pascapandemi memang menunjukkan potensi pemulihan yang kuat, sekaligus membuka babak baru bagi investor dan konsumen yang siap berinovasi. Namun, khusus untuk Bali, penting bagi semua pemangku kepentingan—pemerintah, pengembang, masyarakat lokal, dan investor—untuk duduk bersama. Diperlukan perencanaan yang visioner, regulasi yang ketat, dan implementasi prinsip pembangunan berkelanjutan agar keindahan alam dan kekayaan budaya Bali tetap lestari di tengah gelombang investasi.

Tanpa pengelolaan yang bijak, surga investasi ini bisa berubah menjadi ladang masalah yang mengancam keberlanjutan Pulau Dewata di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Resmi Diluncurkan, Navara Hadirkan Hunian Mewah 3 Lantai untuk Keluarga Besar

Resmi Diluncurkan, Navara Hadirkan Hunian Mewah 3 Lantai untuk Keluarga Besar

Lifestyle | Selasa, 20 Mei 2025 | 20:06 WIB

Sri Mulyani Kritik SDM Indonesia Rendah, Pendidikan dan Budaya Kerja Jadi Biangkerok?

Sri Mulyani Kritik SDM Indonesia Rendah, Pendidikan dan Budaya Kerja Jadi Biangkerok?

News | Selasa, 20 Mei 2025 | 18:51 WIB

Membongkar Sisi Kreatif Fandom K-Pop di Tengah Stigma Sosial

Membongkar Sisi Kreatif Fandom K-Pop di Tengah Stigma Sosial

Your Say | Selasa, 20 Mei 2025 | 16:42 WIB

Etika yang Hilang, Mengapa Tim Kompak Bisa Saling Menikam?

Etika yang Hilang, Mengapa Tim Kompak Bisa Saling Menikam?

Your Say | Selasa, 20 Mei 2025 | 14:10 WIB

PLN Diminta Ganti Rugi Warga Bali Terdampak Mati Listrik Massal

PLN Diminta Ganti Rugi Warga Bali Terdampak Mati Listrik Massal

Bisnis | Selasa, 20 Mei 2025 | 08:15 WIB

Elkan Baggott Masih di Bali Ditunggu Bisa Gabung Last Minute ke Timnas Indonesia

Elkan Baggott Masih di Bali Ditunggu Bisa Gabung Last Minute ke Timnas Indonesia

Bola | Selasa, 20 Mei 2025 | 07:34 WIB

Terkini

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:27 WIB

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:16 WIB

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:28 WIB

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:05 WIB

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:04 WIB

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:57 WIB

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:51 WIB

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:31 WIB

Buruh Indomaret Tuntut Upah Lembur Dibayar Penuh, Begini Respon Menaker

Buruh Indomaret Tuntut Upah Lembur Dibayar Penuh, Begini Respon Menaker

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:22 WIB

Emiten MDLA Mulai Ekspansi, Cari Cuan Bisnis Healthcare di Kamboja

Emiten MDLA Mulai Ekspansi, Cari Cuan Bisnis Healthcare di Kamboja

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:01 WIB