Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.890.000
Beli Rp2.760.000
IHSG 7.279,209
LQ45 733,624
Srikehati 347,649
JII 498,161

CORE Indonesia: Ada Ancaman Inflasi dan Anjloknya Daya Beli Orang RI

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Kamis, 03 Juli 2025 | 19:44 WIB
CORE Indonesia: Ada Ancaman Inflasi dan Anjloknya Daya Beli Orang RI
Ilustrasi. Suasana kemacetan di sepanjang ruas jalan tol dalam kota MT Haryono, Cawang, Jakarta, Senin (7/8/2017), di mana sementara itu BPS mencatat adanya penurunan daya beli otomotif pada semester I-2017. [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah bukan lagi sekadar berita di televisi. Efeknya, seperti peringatan keras dari para ekonom, kini diprediksi bakal menciptakan gelombang kejut berlapis yang mengancam stabilitas ekonomi Indonesia.

Tak hanya ancaman fiskal, lonjakan tensi ini diperkirakan akan memicu inflasi pangan meroket dan daya beli masyarakat merosot tajam.

Laporan terbaru dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia bertajuk "Meredam Guncangan Ekonomi Dari Gejolak Timur Tengah", yang dirilis Kamis (3/7/2025), secara gamblang menyoroti potensi disrupsi pasokan energi. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global, disebut-sebut dapat mengerek biaya impor pangan dan logistik hingga ke titik kritis.

"Biaya logistik yang tinggi menciptakan efek ganda terhadap inflasi pangan, baik dari sisi impor maupun distribusi dalam negeri," tulis CORE dalam keterangan resminya, Rabu (2/7/2025). Ini berarti, siap-siap saja harga bahan pangan di pasar akan terkerek naik dua kali lipat; dari ongkos pengiriman dari luar negeri, hingga biaya distribusi di dalam negeri.

CORE menjelaskan, komoditas strategis seperti gandum, kedelai, dan gula menjadi perhatian utama. Mengapa? Karena tingkat ketergantungan impor Indonesia terhadap komoditas-komoditas ini sangat tinggi. Gandum dan kedelai nyaris 100 persen diimpor, sementara gula berkisar antara 30 hingga 40 persen. Jika harga minyak global melonjak, otomatis ongkos distribusi juga ikut naik, mengingat sistem transportasi darat dan laut Indonesia masih sangat bergantung pada BBM.

Lembaga riset ini bahkan memprediksi dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi akan terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama adalah tekanan langsung terhadap sektor-sektor padat energi seperti logistik, pertanian, dan perikanan. Selanjutnya, gelombang kedua muncul ketika seluruh pelaku usaha dalam rantai pasok mulai menyesuaikan harga jual mereka sebagai respons terhadap biaya produksi yang membengkak.

"Pada akhirnya, kondisi ini melemahkan daya beli masyarakat dan mendorong pergeseran pola konsumsi ke produk yang lebih murah dan kurang bergizi," terang CORE. Jika ini terjadi, bukan hanya dompet yang tipis, tapi juga kualitas gizi masyarakat bisa terancam.

Pengalaman pahit inflasi tinggi pada 2022 akibat perang Rusia-Ukraina menjadi cermin yang relevan. Saat itu, lonjakan harga komoditas global dan BBM domestik mendorong inflasi tahunan Indonesia menembus angka 5 persen. CORE menggarisbawahi, situasi serupa bisa kembali terjadi jika harga minyak global menembus angka USD 100–130 per barel pada kuartal ketiga hingga keempat 2025.

Analisis CORE terhadap data Indeks Penjualan Riil (IPR) dan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode 2014–2023 mengungkap pola yang konsisten: inflasi yang tinggi langsung berdampak negatif terhadap konsumsi rumah tangga. "Lonjakan inflasi menyebabkan penurunan konsumsi rumah tangga secara tajam dalam tiga bulan pertama," kata mereka. Pemulihan baru terjadi secara bertahap dan kembali normal pada bulan ke-20 setelah guncangan.

Tak hanya itu, tekanan inflasi juga berdampak pada sisi produksi industri. CORE mencatat bahwa ketika IHK melonjak, IPR turun signifikan. Penurunan terdalam terjadi pada bulan ketiga pasca-inflasi, dengan kontraksi hampir mencapai -10 poin. Ini mencerminkan tekanan berat terhadap dunia usaha yang menghadapi biaya input produksi yang lebih tinggi dan permintaan yang melemah.

Meski demikian, ada secercah optimisme. Tren pemulihan IPR mulai terlihat dari bulan ke-5 hingga ke-12, meskipun belum pulih sepenuhnya. Pada bulan ke-20, indeks kembali ke titik netral, menandakan bahwa aktivitas produksi mulai stabil seiring penyesuaian ekonomi terhadap tekanan harga.

Namun, yang jelas, wilayah terpencil seperti Papua dan Indonesia Timur diprediksi akan menjadi yang paling terdampak akibat tingginya ongkos logistik dan ketergantungan pada energi fosil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

CORE Ungkap Gencatan Senjata Iran-Israel Bakal Buntu? Ekonomi RI dalam Ancaman Serius!

CORE Ungkap Gencatan Senjata Iran-Israel Bakal Buntu? Ekonomi RI dalam Ancaman Serius!

Bisnis | Kamis, 03 Juli 2025 | 19:38 WIB

Prabowo Apresiasi Kapolri: Bantu Produksi Pangan hingga Terjun Beri Makan Bergizi

Prabowo Apresiasi Kapolri: Bantu Produksi Pangan hingga Terjun Beri Makan Bergizi

News | Selasa, 01 Juli 2025 | 13:44 WIB

Harga Beras Picu Inflasi 0,19 Persen di Mei 2025

Harga Beras Picu Inflasi 0,19 Persen di Mei 2025

Bisnis | Selasa, 01 Juli 2025 | 13:28 WIB

Terkini

Harga Emas Antam Turun Drastis, Kembali Dibanderol Rp 2,85 Juta/Gram

Harga Emas Antam Turun Drastis, Kembali Dibanderol Rp 2,85 Juta/Gram

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 09:41 WIB

Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Tapi di Bawah USD 100/Barel

Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Tapi di Bawah USD 100/Barel

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 09:23 WIB

IHSG Terkoreksi Pagi Ini ke Level 7.238, Tapi Diproyeksi Menguat

IHSG Terkoreksi Pagi Ini ke Level 7.238, Tapi Diproyeksi Menguat

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 09:14 WIB

Presiden Prabowo Akan Bentuk Pusat Finansial Khusus di Bali, Tarik Investasi Asing

Presiden Prabowo Akan Bentuk Pusat Finansial Khusus di Bali, Tarik Investasi Asing

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 09:05 WIB

Marak Investor Bodong, SIPF Ingin Perluas Kewenangan dan Jaga Dana Pemodal

Marak Investor Bodong, SIPF Ingin Perluas Kewenangan dan Jaga Dana Pemodal

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 09:02 WIB

Tak Cukup Satu Gaji, Fenomena 'Side Hustle' Picu Geliat Bisnis Franchise di FLEI 2026

Tak Cukup Satu Gaji, Fenomena 'Side Hustle' Picu Geliat Bisnis Franchise di FLEI 2026

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:50 WIB

BI : Uang Primer Tumbuh Melambat Jadi Rp2.386,5 Triliun Akhir Maret 2026

BI : Uang Primer Tumbuh Melambat Jadi Rp2.386,5 Triliun Akhir Maret 2026

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:49 WIB

Bidik Sektor Strategis, Anthony Leong Siap Tarung di Bursa Calon Ketum HIPMI

Bidik Sektor Strategis, Anthony Leong Siap Tarung di Bursa Calon Ketum HIPMI

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:28 WIB

Bahlil Sebut Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Masih Dikalkulasi

Bahlil Sebut Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Masih Dikalkulasi

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:24 WIB

BRI Life Incar Pasar Kesehatan Premium

BRI Life Incar Pasar Kesehatan Premium

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 08:19 WIB