Donald Trump Geram: Seret George Soros dan Anaknya ke Pengadilan Federal!

M Nurhadi Suara.Com
Jum'at, 29 Agustus 2025 | 13:22 WIB
Donald Trump Geram: Seret George Soros dan Anaknya ke Pengadilan Federal!
George Soros. [Shutterstock]
Kesimpulan
  • Trump minta George Soros dan putranya didakwa federal.
  • Trump menuduh keduanya membiayai protes kekerasan.

Suara.com - Presiden AS Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah secara terbuka menuntut agar filantropis terkemuka dan penyumbang dana besar Partai Demokrat, George Soros, bersama putranya, Alexander, menghadapi dakwaan federal.

Dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, pada Rabu pekan ini, Trump secara spesifik menyebut keduanya harus didakwa dengan undang-undang RICO (Undang-Undang Organisasi yang Terpengaruh dan Korup oleh Pemeras), menuduh mereka mendukung "protes kekerasan" di seluruh Amerika Serikat.

Serangan ini bukanlah hal baru bagi Soros, yang telah lama menjadi target kritik dari kelompok Republikan MAGA (Make America Great Again) karena dukungannya yang besar terhadap Partai Demokrat dan berbagai gerakan liberal.

Menanggapi ancaman ini, Open Society Foundations, lembaga nirlaba yang didanai oleh keluarga Soros, mengecam pernyataan Trump sebagai "ancaman keterlaluan" terhadap pendiri dan ketuanya.

Mereka mengklaim, misi mereka adalah untuk "memajukan hak asasi manusia, keadilan, dan prinsip-prinsip demokrasi di Amerika Serikat dan di seluruh dunia."

Namun, pola ini sudah terlihat sejak lama. Sejak masa kepresidenan pertamanya, Trump telah berulang kali menyerukan agar lawan-lawan politiknya diproses hukum, dimulai dari rivalnya di tahun 2016, Hillary Clinton.

Selama masa jabatan keduanya ini, kritikus terkemuka seperti Senator Adam Schiff dan mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton telah menghadapi investigasi atau dakwaan dari pemerintah federal.

Aksi ini kontras dengan perlakuan dari pemerintahan sebelumnya, di mana mantan Presiden Joe Biden justru menganugerahi George Soros dengan Presidential Medal of Freedom—penghargaan sipil tertinggi di AS—sesaat sebelum meninggalkan Gedung Putih. 

Ancaman hukum yang dilontarkan Trump semakin meningkat dalam beberapa minggu terakhir, menargetkan tidak hanya Soros tetapi juga mantan sekutu yang kini menjadi kritikusnya.

Baca Juga: Pemerintah Korbankan Data WNI? Ini Kata Pakar Soal Kesepakatan Dagang dengan AS

Dikutip via Politico, pekan ini, Trump menyarankan agar penyelidik dilatih untuk menargetkan mantan Gubernur New Jersey Chris Christie, menuduhnya berbohong tentang skandal “Bridgegate” tahun 2013 setelah Christie mengkritik Departemen Kehakiman di bawah Trump dalam sebuah wawancara.

Pada Jumat pekan lalu, agen federal melakukan penggeledahan di rumah John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional yang kini menjadi penentang keras kebijakan luar negeri Trump.

Pada pekan yang sama, Senator Schiff membentuk dana pembelaan hukum menyusul penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap keuangannya, yang disebut oleh juru bicaranya sebagai "fitnah tak berdasar" yang datang dari Trump dan sekutunya.

Trump juga mengumumkan pemecatan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, mengutip tuduhan penipuan hipotek yang dipublikasikan oleh seorang pejabat politik.

Cook sendiri membantah tuduhan tersebut dan berjanji akan melawan langkah Trump di pengadilan.

Meskipun Departemen Kehakiman menolak berkomentar langsung, ancaman yang semakin sering dilontarkan oleh Presiden Trump ini menunjukkan penggunaan kekuatan federal yang berani untuk menekan para penentangnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?