Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Ekonom Bongkar Strategi Perang Harga China, Rupanya Karena Upah Buruh Murah dan Dumping

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 01 November 2025 | 18:30 WIB
Ekonom Bongkar Strategi Perang Harga China, Rupanya Karena Upah Buruh Murah dan Dumping
Ilustrasi. Suasana bongkar-muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Di tengah derasnya investasi infrastruktur dan pertambangan yang memicu polemik utang dan tenaga kerja asing, kini muncul tantangan nyata berupa banjir barang murah asal China.
  • Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto, menegaskan bahwa fenomena serbuan barang China dengan harga sangat kompetitif ini bukan sekadar urusan pasar.
  • Ekonom dan Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha LPEM FEB UI, Mohammad Dian Revindo, membongkar strategi RRC menekan harga produknya hingga menjadi sangat murah.

Suara.com - Hubungan mesra Indonesia dan Republik Rakyat China (RRC) yang telah menginjak usia 75 tahun pada 2025 ternyata menyimpan duri tajam di sektor ekonomi.

Di tengah derasnya investasi infrastruktur dan pertambangan yang memicu polemik utang dan tenaga kerja asing, kini muncul tantangan nyata berupa banjir barang murah asal Negeri Tirai Bambu yang mengancam kemandirian ekonomi bangsa dan lapangan kerja lokal.

Isu krusial ini menjadi pembahasan utama dalam seminar bertajuk “Strategi Tiongkok Mencari Pasar: Tantangan dan Peluang Bagi Indonesia” di Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (31/10/2025).

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto, menegaskan bahwa fenomena serbuan barang China dengan harga sangat kompetitif ini bukan sekadar urusan pasar. Dampaknya berantai, mulai dari merontokkan industri lokal hingga berpotensi memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masif.

"Kehadiran barang dari China bukan hanya berdampak pada industri lokal dan tenaga kerja yang harus menghadapi kehilangan pekerjaan, tetapi juga pada potensi ketergantungan masyarakat Indonesia pada barang asal China. Ini pada gilirannya dapat mengganggu kemandirian bangsa,” ujar Johanes.

Ekonom dan Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha LPEM FEB UI, Mohammad Dian Revindo, membongkar strategi RRC menekan harga produknya hingga menjadi sangat murah. Ia menyoroti taktik nyeleneh yang dilakukan Tiongkok, salah satunya adalah pelemahan nilai mata uang (RMB) melalui intervensi pasar.

Seminar bertajuk “Strategi Tiongkok Mencari Pasar: Tantangan dan Peluang Bagi Indonesia” di Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Seminar bertajuk “Strategi Tiongkok Mencari Pasar: Tantangan dan Peluang Bagi Indonesia” di Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (31/10/2025).

"Tiongkok juga menekan biaya produksi melalui kebijakan pro-pekerja dan lemahnya serikat buruh. Ini aneh, karena di negara sosialis tetapi serikat buruh justru lemah,” kata Revindo.

Selain menahan apresiasi mata uang, Revindo juga menyebut Tiongkok gencar menerapkan praktik dumping pada produk-produk seperti garmen, lisin, dan kaca, membuat produk impor jauh lebih diminati konsumen Indonesia. Hal ini diperparah dengan dominasi e-commerce asing di Indonesia dan peningkatan impor ilegal.

Ancaman ini bukan isapan jempol. Data dari Kementerian Perindustrian yang disampaikan Laode Ikrar Hastomi menunjukkan adanya kesenjangan neraca perdagangan yang mencolok.

baca juga

Meskipun ekspor Indonesia ke China mencapai $62,44 miliar USD pada 2024, nilai impor dari China justru mencapai $72,73 miliar USD.

"Ini memperlihatkan kesenjangan neraca ekspor-impor Indonesia-China sebesar $10 miliar USD (sekitar Rp156 triliun) di tahun yang lalu,” ujar Hastomi.

Meski demikian, Kementerian Perindustrian optimis defisit ini berpotensi menurun berkat program hilirisasi, seperti yang terlihat pada kawasan industri berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.

Menanggapi dinamika ini, perwakilan dari Ikatan Pemuda Tionghoa (IPTI), Septeven Hwang, menegaskan posisi etnis Tionghoa di Indonesia.

"Secara etnis kita Tionghoa, tapi nasionalisme kita adalah Indonesia dan kita akan membela national interest Indonesia dalam hubungan bilateral Indonesia-China," tegas Septeven.

Senada dengan itu, Peni Hanggraini dari Paramadina Asia Pacific Institute (PAPI) mengingatkan bahwa Indonesia harus belajar dari disiplin strategis Tiongkok tanpa kehilangan jati diri. Ekonom UI, Dian Revindo, pun menekankan perlunya konsistensi kebijakan industri dan penguatan riset domestik agar produk Indonesia mampu bersaing melawan strategi harga Tiongkok.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sinopsis Speed and Love, Drama China Terbaru Esther Yu dan He Yu di iQiyi

Sinopsis Speed and Love, Drama China Terbaru Esther Yu dan He Yu di iQiyi

Your Say | Jum'at, 31 Oktober 2025 | 11:20 WIB

Tuntut Kenaikan Upah, KSPI Ancam Gelar Mogok Nasional Libatkan 5 Juta Buruh

Tuntut Kenaikan Upah, KSPI Ancam Gelar Mogok Nasional Libatkan 5 Juta Buruh

News | Kamis, 30 Oktober 2025 | 15:01 WIB

3 Fakta Pertemuan Xi Jinping-Trump: China dan AS 'Mesra', Perang Dagang Berakhir Damai?

3 Fakta Pertemuan Xi Jinping-Trump: China dan AS 'Mesra', Perang Dagang Berakhir Damai?

Bisnis | Kamis, 30 Oktober 2025 | 14:07 WIB

Terkini

Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara

Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:14 WIB

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:11 WIB

Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya

Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:44 WIB

Purbaya Kini Punya Alat Canggih buat Awasi Anggaran TKD Pemda

Purbaya Kini Punya Alat Canggih buat Awasi Anggaran TKD Pemda

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:43 WIB

Purbaya Pamer Pertumbuhan Ekonomi RI Kuat di Depan Akademisi China

Purbaya Pamer Pertumbuhan Ekonomi RI Kuat di Depan Akademisi China

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:33 WIB

Guncangan Ekonomi Imbas Perang Belum Reda, BI Waspada Dampaknya Pada Masyarakat

Guncangan Ekonomi Imbas Perang Belum Reda, BI Waspada Dampaknya Pada Masyarakat

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 15:37 WIB

Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun di Pertengahan Juni 2026, Naik 23,4%

Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun di Pertengahan Juni 2026, Naik 23,4%

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:59 WIB

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:05 WIB

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:58 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB