YES 2025: Ajak Anak Muda Berani Memulai Usaha, Waktu Menjadi Modal Utama

Sabtu, 15 November 2025 | 22:46 WIB
YES 2025: Ajak Anak Muda Berani Memulai Usaha, Waktu Menjadi Modal Utama
Youth Economic Talk menghadirkan tema "Empowering Youth: Smart Finance, Strategic Investment, Sustainable Business" (Suara.com/Tantri Amela Iskandar)

Suara.com - Dunia kewirausahaan disarankan untuk ditekuni selagi masih muda dan diwujudkan dengan melaksanakannya segera.  Sehingga bukan sebatas angan-angan saja. Inilah pemaparan yang disampaikan Arky Gilang, CEO Green Prosa dalam talkshow Youth Economic Talk, bertajuk "Empowering Youth: Smart Finance, Strategic Investment, Sustainable Business". Salah satu mata acara dalam rangkaian Youth Economic Summit 2025 atau YES 2025 yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) di Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta Pusat, dari kolaborasi CORE Indonesia dengan Suara.com.

Dalam sesinya, Arky Gilang menyampaikan uraian mengenai dunia kewirausahaan dan tantangan yang sering dialami generasi muda saat memulai bisnis dalam sesi Pelaku Usaha.

Ia menekankan bahwa banyak anak muda terjebak dalam fase bercita-cita tanpa benar-benar memulai langkah nyata. Padahal, modal awal terpenting yang dimiliki semua orang bukanlah uang, melainkan waktu.

"Sekarang ini kita banyak berangan-angan, jadi bercita-cita, jadi hanya sampai di sebuah cita-cita," tandas Arky Gilang.

Sementara yang dibutuhkan sebagai modal awal terpenting bagi calon pelaku usaha bukan uang, melainkan waktu. Serta investasi diri sendiri.

RRI, CORE Indonesia, dan Suara.com menggelar YES 2025 (Suara.com/Tantri Amela Iskandar)
RRI, CORE Indonesia, dan Suara.com menggelar YES 2025 (Suara.com/Tantri Amela Iskandar)

"Yang pertama teman-teman investasikan itu modal awalnya adalah yang semua orang punya. Yaitu waktu. Bagaimana kita investasikan waktu untuk menjadi sesuatu yang produktif," tandasnya.

Risiko Masih Minim Saat Masih Muda

Arky Gilang menyebutkan bahwa ketakutan berlebihan justru membuat banyak anak muda ragu memulai bisnis.

"Sebenarnya risiko masih minim. Bila teman-teman start untuk berbisnis ketika sudah berkeluarga, maka akan lebih crowded lagi," urainya.

Baca Juga: YES 2025: Berbagi Tips Investasi Bagi Generasi Muda Termasuk Sandwich Generation

Menurutnya, risiko minim antara lain adalah investasi, karena sebatas merisikokan diri kita sendiri. Waktu menjadi instrumen investasi awal.

"Ketika gagal, sebuah kegagalan pun juga investasi. Menjadi pelajaran yang luar biasa. Jadi itu juga investasi untuk kita belajar dalam posisinya sebagai pengusaha. Jadi kalau menurut saya, jangan takut untuk memulai, yang penting tahu tujuannya, visinya seperti apa. Lantas dijalankan, direncanakan atau planning dengan baik," lanjutnya.

Di sisi lain, Arky Gilang menambahkan bahwa zona nyaman adalah penghambat utama produktivitas anak muda.

"Teman-teman ini dalam zona yang sangat nyaman. Nah, zona ini yang bikin problem," jelasnya.

Sebagai contoh, ia menunjuk dirinya sendiri, dengan kondisi terbiasa berpindah ke tantangan baru ketika salah satu bisnisnya sudah stabil. Disebutkannya, ia akan "mencari perkara" agar lebih produktif.

"Apabila perusahaan yang saya jalankan sudah mulai stabil, saya serahkan kepada teman, kemudian mulai lagi yang baru," tandasnya.

Dari pengalamannya sendiri, Arky Gilang merasakan passion luar biasa saat menjalankan bisnis mengelola sampai setelah memulung. Padahal latar belakangnya adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Geodesi, yang sama sekali tidak terkait.

"Saya senang bisa mengurus teman-teman pemulung, dan ikut membersihkan lingkungan. Setelah sekian kali bangkrut berbisnis lainnya. Ada naik turunnya. Jadi bila mau melakukan sebuah bisnis, ambil di titik-titik yang memang dipikirkan dari awal. Cari yang kompetitornya paling sedikit," demikian sarannya.

"Dulu sebelum saya bisnis waste management, saya ingin bisnis berbau alam. Lalu membuka usaha agrobisnis di Bandung. Membuat taman-taman organik, marketnya menengah ke atas. Nah, saat pulang ke kampung halaman di Banyumas, wah biaya produksinya ternyata lebih rendah dari biaya petani. Saya pun mengurungkan bisnis ini. Apalagi kompetitor banyak. Coba lagi, sampai akhirnya ketemu bisnis mengelola sampah tadi. Karena sampai kapanpun selama ada manusia, pasti ada sampah. Kecuali bila manusia tidak makan lagi atau tidak beraktivitas lagi. Jadi model bisnisnya akan bertahan, tinggal bagaimana kita mengelolanya," jelas Arky Gilang secara detail.

Serunya, bisnis mengelola sampah yang dijalannya ini selaras dengan pemerintah yang mulai peduli soal persampahan.

"Jadi silakan cari bisnis-bisnis yang memang cukup aneh, dan ide-ide baru. Tapi kalau teman-teman posisinya masih sulit, lakukan apa yang kalian ada, yang sudah kalian rencanakan. Jalankan saja dulu, karena teman-teman tengah melakukan profil investasi. Ketika teman-teman masih single, masih kuliah, itu minim risiko. Lakukan saja dulu," sarannya penuh semangat.

Kontributor: Tantri Amela Iskandar

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI