- Penggunaan AI untuk memodelkan skenario aset global semakin masif oleh perusahaan manajemen aset pada tahun 2026.
- Model AI terkemuka menguji proyeksi harga kripto 2026 berdasarkan data pelatihan di pertengahan Desember 2025.
- Bitcoin diprediksi didorong institusi dan Ethereum oleh matangnya ekosistem Layer-2 untuk tahun 2026.
Suara.com - Kecerdasan Buatan (AI) kini bukan lagi sekadar alat riset bagi investor, melainkan telah bertransformasi menjadi "peramal pasar" yang canggih.
Memasuki tahun 2026, penggunaan AI untuk memodelkan skenario harga, rentang nilai, hingga pergeseran sektor aset global semakin masif dilakukan oleh perusahaan manajemen aset dan analis kripto.
Sepanjang tahun 2025, adopsi AI di pasar kripto berakselerasi cepat. Para ahli menggunakan Large Language Models (LLM) untuk menginterpretasikan sinyal makro, data on-chain, hingga perkembangan regulasi.
Untuk melihat bagaimana sistem ini memandang masa depan, Cointelegraph melakukan uji coba terhadap model AI terkemuka seperti ChatGPT, Gemini, Grok, dan Copilot mengenai proyeksi harga kripto di tahun 2026.
Uji coba ini dilakukan pada pertengahan Desember 2025 dengan meminta model AI memberikan skenario dasar (base-case), bukan skenario terbaik atau terburuk.
Perlu dicatat bahwa prediksi ini bersifat probabilistik berdasarkan data pelatihan dan tren dominan, bukan kepastian mutlak. AI cenderung mengikuti narasi pasar saat ini dan tidak dapat memprediksi peristiwa tak terduga (black swan).
Berikut adalah rangkuman proyeksi harga untuk dua aset kripto terbesar:
Proyeksi Bitcoin (BTC) 2026
Bitcoin dipandang sebagai aset makro yang semakin matang dengan peran sebagai "emas digital". Berikut rentang harga yang diprediksi oleh berbagai model AI:
ChatGPT: US$ 85.000 – US$ 180.000
Gemini: US$ 100.000 – US$ 220.000
Grok (xAI): US$ 100.000 – US$ 250.000
Copilot (Microsoft): US$ 85.000 – US$ 135.000
Faktor Pendorong (Bullish):
Adopsi Institusi Berkelanjutan: Aliran dana dari ETF spot, perbendaharaan korporasi, dan penggunaan BTC dalam neraca perusahaan menjadi jangkar utama harga.
Kondisi Makro Global: Kebijakan moneter yang lebih longgar di tahun 2026, keterbatasan pasokan pasca-halving, dan potensi akumulasi oleh negara (sovereign accumulation) memperkuat narasi kelangkaan Bitcoin.
Risiko Penghambat (Bearish):
Pengetatan Moneter: Inflasi yang membandel atau kejutan ekonomi global dapat menekan likuiditas dan mengurangi minat pada aset berisiko.