Inflasi Tahun 2025 Tembus 0,64%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pemicu Utama

Senin, 05 Januari 2026 | 18:09 WIB
Inflasi Tahun 2025 Tembus 0,64%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pemicu Utama
Ilustrasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan tekanan harga pada penghujung tahun 2025. Foto Antara.
Baca 10 detik
  • Inflasi Desember 2025 naik 0,64% mtm; inflasi tahunan tembus 2,92%.
  • Cabai rawit dan daging ayam jadi pendorong utama inflasi pangan di akhir tahun.
  • Harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara turut sumbang kenaikan IHK Desember.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan tekanan harga pada penghujung tahun 2025.

Laju inflasi bulanan pada Desember 2025 tercatat mengalami kenaikan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, didorong oleh lonjakan harga komoditas pangan dan barang konsumsi selama masa libur akhir tahun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Desember 2025 mencapai 0,64 persen. Kenaikan ini mengerek Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,22 pada November menjadi 109,92.

"Inflasi year-on-year (yoy) dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen," jelas Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Senin (5/1/2026).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama inflasi dengan andil mencapai 0,48 persen. Secara spesifik, cabai rawit menjadi komoditas paling dominan yang memicu kenaikan harga dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen.

Beberapa komoditas lain yang turut menekan kantong masyarakat antara lain:

  • Daging ayam ras: andil 0,09%
  • Bawang merah: andil 0,07%
  • Emas perhiasan: andil 0,07% (masuk komponen inti)
  • Ikan segar: andil 0,04%
  • Bensin & Tarif Angkutan Udara: andil gabungan sekitar 0,05%

Di tengah tren kenaikan harga, cabai merah justru memberikan kabar baik dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, sehingga sedikit menahan laju inflasi yang lebih tinggi.

Pudji memaparkan bahwa komponen harga bergejolak (volatile food) merupakan pendorong utama dengan inflasi sebesar 2,74 persen. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan masih menjadi tantangan besar di akhir tahun.

Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi tipis 0,20 persen yang dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan dan minyak goreng. Untuk komponen harga yang diatur pemerintah, inflasi tercatat sebesar 0,37 persen akibat penyesuaian harga bensin serta kenaikan tarif angkutan udara dan antarkota selama periode mudik dan liburan.

Baca Juga: Bali Dituding Sepi, Begini Data Pelancong Asing di RI

Dengan capaian inflasi tahunan sebesar 2,92 persen, posisi Indonesia pada akhir 2025 ini masih berada dalam rentang sasaran pemerintah, meskipun tekanan pada kelompok pangan tetap memerlukan perhatian ekstra di awal tahun 2026.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI