- IHSG ditutup menguat terbatas pada Rabu (7/1/2026) di level 8.944,81, didorong sektor industrial, namun tertahan pelemahan rupiah.
- Kekhawatiran global muncul akibat tekanan rupiah dan isu geopolitik, memicu potensi aksi profit taking investor.
- Sentimen positif domestik mencakup rencana pemangkasan target produksi mineral serta pengumuman swasembada beras pada 7 Januari.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat pada perdagangan Rabu (7/1), meski laju penguatannya terbilang terbatas.
Tekanan nilai tukar rupiah serta meningkatnya risiko geopolitik global membuat investor mulai bersikap lebih berhati-hati.
IHSG mengakhiri perdagangan di level 8.944,81, naik 0,13 persen, setelah sempat mencetak level intraday tertinggi baru di 8.970. Penguatan indeks ditopang oleh kinerja saham sektor industrial yang membukukan kenaikan terbesar pada perdagangan hari ini.
![Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (30/12/2024). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/12/30/43587-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-bursa-efek-ilustrasi-bursa-ilustrasi-ihsg.jpg)
Sementara itu, saham sektor transportasi justru mencatatkan koreksi paling dalam, sehingga menahan penguatan IHSG secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah di pasar spot pada level Rp 16.780 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi seiring melemahnya mayoritas mata uang Asia. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global kembali meningkat menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakuisisi Greenland.
Dilansir dari riset Phintraco Sekurita, secara teknikal, histogram positif MACD masih menunjukkan penguatan. Namun, momentum beli mulai melemah dan Stochastic RSI berada di area overbought.
Kondisi tersebut membuat potensi aksi profit taking perlu diwaspadai, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali memanas.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 8.850–8.900 dan resistance 8.970–9.000 pada perdagangan selanjutnya.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan pemerintah yang akan memangkas target produksi mineral dan batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Baca Juga: Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan, sehingga diharapkan mampu memulihkan harga mineral dan batu bara yang sempat tertekan akibat kelebihan pasokan pada tahun sebelumnya. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak positif terhadap saham-saham terkait.
Selain itu, Presiden Prabowo mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam waktu satu tahun pada 7 Januari.
Pemerintah juga berencana merealisasikan swasembada untuk komoditas pangan lainnya secara bertahap setiap tahun, sejalan dengan program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia bulan Desember 2025 yang dijadwalkan pada Kamis (8/1).
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 68,67 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 36,83 triliun, serta frekuensi sebanyak 4,54 juta kali.