- Desa Tebara, Sumba Barat, mengalami peningkatan ekonomi signifikan sepanjang 2025 berkat pengembangan desa wisata.
- Peningkatan kunjungan wisatawan mencapai 67 persen, menghasilkan pendapatan desa senilai Rp1,414 miliar dari satu kampung.
- Pengembangan didukung penataan tata kelola dan penguatan SDM oleh program BCA, membawa desa menuju status mandiri.
Suara.com - Pengembangan desa wisata menjadi dorongan dalam meningkatkan ekonomi. Seperti contoh pada ekonomi lokal Desa Tebara, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur yang melesat sepanjang 2025.
Kunjungan wisatawan meningkat 67 persen, dengan pendapatan mencapai Rp1,414 miliar hanya dari satu kampung.
Kepala Desa Tebara Marthen Ragowinobira mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil pembenahan tata kelola desa wisata dan penguatan sumber daya manusia yang dilakukan secara terarah.
“Sebelumnya, masyarakat sering menerima dana tanpa tahu harus berbuat apa, potensi desa apa yang perlu diperbaiki dan dibiayai. Di sinilah peran BCA sangat bermanfaat karena langsung to the point: penataan SDM, sistem, dan tata kelola desa wisata,” kata Marthen dalam sesi diskusi Bakti BCA – Local Champions rangkaian dari BCA Expoversary di ICE BSD Tangerang, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, pengelolaan desa wisata dibangun dari hulu ke hilir, mulai dari pembentukan kelompok sadar wisata, penyusunan paket wisata, hingga pelatihan local tour guide. Pendekatan tersebut mengubah struktur ekonomi desa yang sebelumnya bertumpu pada pertanian.
“Program Bakti Desa BCA membantu, terutama menyasar anak muda. Sebelumnya, anak muda banyak keluar daerah karena lapangan kerja terbatas. Dengan kompetensi wisata, mereka bisa menjadi pelaku wisata di desanya sendiri. Ini memperkuat desa,” ujarnya.

Menurut Marthen, perbaikan tata kelola dan peningkatan kapasitas masyarakat ikut mengangkat status Desa Tebara menjadi desa maju dan tinggal satu tahap menuju desa mandiri.
“Saat ini desa kami berada di kategori majusatu tingkat lagi menuju mandiri dan itu sejalan dengan masuknya program BCA,” katanya.
Dampak ekonomi desa wisata Tebara juga mendapat pengakuan di tingkat regional. Desa ini meraih ASEAN Sustainable Tourism Award 2026 kategori Rural Product setelah melalui proses penguatan kelembagaan dan pengemasan potensi lokal.
Baca Juga: BCA Wanti-wanti Gen Z: Hati-hati Beli Rumah Pakai KPR
“Penghargaan ini hasil perjalanan panjang. Dimulai dari penataan SDM, kelembagaan wisata, local tour guide, paket wisata, dan pengemasan potensi lokal. Tidak instan,” ujar Marthen.
Ia menekankan, manfaat ekonomi desa wisata tidak hanya dirasakan oleh pemuda, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
“Bukan hanya pemuda. Masyarakat kampung juga terlibat. Termasuk yang berpendidikan rendah pun tetap bisa bekerja dan berdaya,” tandasnya.