- Pemerintah menargetkan penghentian impor solar pada tahun 2026 didorong surplus produksi domestik pasca perluasan kilang.
- Penyebab historis impor solar adalah keterbatasan kapasitas kilang nasional dibandingkan kebutuhan energi negara.
- Penghentian impor dimulai dari solar CN 48 pada 2026, disusul CN 51 pada semester kedua tahun yang sama.
Sementara itu, solar dengan spesifikasi CN 51 yang digunakan untuk kebutuhan tertentu masih akan ditangani pada tahap berikutnya.
![Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/06/79158-laode-sulaeman-dirjen-migas-esdm.jpg)
Ia menyebut, kebutuhan solar CN 51 relatif kecil dan selama ini masih dipenuhi melalui impor. Namun pemerintah menargetkan pada semester kedua 2026, impor untuk jenis ini juga dapat ditekan hingga berhenti.
“Dengan data tadi, kita sudah petakan untuk CN 48 sudah bisa kita… kita stop impor solar,” kata Laode.
Dalam implementasinya, pemerintah telah berkoordinasi dengan Pertamina terkait kesiapan kilang dan tata niaga. Setelah masa transisi kuota, badan usaha didorong melakukan skema bisnis langsung untuk penyesuaian pasokan.