Suara.com - Di kota-kota besar yang padat seperti Jakarta, transportasi berbasis rel menjadi pahlawan untuk menembus kemacetan. Kita sering mendengar istilah Monorel dan LRT (Light Rail Transit).
Jika dilihat sekilas, keduanya tampak mirip: sama-sama melayang di atas jalan raya dan terlihat modern. Namun, jika kita membedah "jeroannya", kedua transportasi ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar, mulai dari bentuk rel hingga kapasitas angkutnya.
Mari kita ulas perbedaannya agar Anda tidak tertukar lagi saat mengobrol di tongkrongan.
1. Bentuk Lintasan (Rel)
Perbedaan paling mencolok terletak pada kakinya, alias relnya.
- Monorel: Sesuai namanya (Mono berarti satu), kereta ini hanya berjalan di atas satu rel tunggal yang biasanya terbuat dari beton. Posisi keretanya bisa "menunggangi" rel tersebut (seperti duduk di atas balok) atau "menggelantung" di bawahnya.
- LRT: Menggunakan dua bilah rel baja, persis seperti kereta api biasa atau Commuter Line, hanya saja ukurannya lebih ramping dan teknologinya lebih ringan. Karena menggunakan dua rel, LRT jauh lebih stabil dan mudah berpindah jalur dibandingkan monorel.
2. Kapasitas Penumpang
Jika diibaratkan kendaraan di jalan raya, monorel itu seperti minibus, sedangkan LRT adalah bus besar.
- Monorel: Umumnya dirancang untuk jarak pendek dengan kapasitas penumpang yang terbatas. Sangat cocok sebagai penghubung antar gedung atau di dalam area wisata (seperti monorel di TMII dulu).
- LRT: Memiliki kapasitas yang jauh lebih besar. Satu rangkaian LRT biasanya terdiri dari beberapa gerbong yang mampu mengangkut ratusan orang sekaligus dalam satu perjalanan. Ini menjadikannya solusi efektif untuk transportasi massal perkotaan.
3. Kecepatan dan Fleksibilitas
- LRT unggul dalam hal kecepatan. Karena berjalan di atas dua rel baja, LRT bisa dipacu lebih kencang dan lebih stabil saat menikung. Selain itu, rel LRT bisa terhubung dengan jaringan rel kereta api konvensional jika ukurannya disesuaikan (standar gauge).
- Monorel cenderung lebih lambat. Kelebihannya hanya pada kemampuannya mendaki tanjakan curam dan melewati tikungan yang sangat tajam di tengah gedung-gedung tinggi karena bodinya yang lebih ramping.
4. Biaya dan Perawatan
Baca Juga: Teknis Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said: Mulai Jam 11 Malam, Tak Perlu Tutup Jalan
Inilah alasan mengapa banyak kota sekarang lebih memilih LRT daripada monorel.
- LRT menggunakan teknologi rel standar yang suku cadangnya mudah ditemukan di seluruh dunia. Jika ada kerusakan, perbaikannya lebih simpel.
- Monorel bersifat eksklusif. Jika Anda membeli sistem monorel dari satu merek, maka seluruh suku cadang dan teknologinya harus dari merek tersebut selamanya. Ini membuat biaya perawatan monorel cenderung sangat mahal dalam jangka panjang.
Monorel menang dari segi estetika yang terlihat futuristik dan hemat ruang di lahan sempit, namun LRT jauh lebih unggul dalam hal kapasitas, kecepatan, dan keberlanjutan operasional.
Itulah sebabnya Indonesia akhirnya lebih memilih mengembangkan LRT Jabodebek daripada melanjutkan proyek monorel yang sempat terbengkalai.
Kontributor : Rizqi Amalia