Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.778.000
Beli Rp2.653.000
IHSG 6.162,045
LQ45 620,444
Srikehati 309,367
JII 386,908
USD/IDR 17.712

Sengkarut Tarif Impor AS, RI Diminta Tarik Rem Darurat Soal Perjanjian Dagang

Mohammad Fadil Djailani | Fakhri Fuadi Muflih | Suara.com

Senin, 23 Februari 2026 | 16:05 WIB
Sengkarut Tarif Impor AS, RI Diminta Tarik Rem Darurat Soal Perjanjian Dagang
Prabowo Subianto dan Donald Trump [USTradeRep]
  • Ekonom minta RI tunda perjanjian dagang dengan AS demi amankan posisi tawar nasional.
  • Putusan MA Amerika Serikat batalkan tarif impor Trump jadi celah RI hitung ulang kesepakatan.
  • Pemerintah disarankan jadi last mover karena kebijakan dagang AS dinilai tidak stabil.

Suara.com - Kebijakan tarif impor global Amerika Serikat (AS) yang kian tak menentu memaksa Indonesia untuk menghitung ulang langkah strategisnya.

Pemerintah diminta tidak gegabah dalam mengeksekusi komitmen dagang dengan Negeri Paman Sam, mengingat peta politik dan hukum di sana sedang bergejolak.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mewanti-wanti pemerintah agar tidak terburu-buru mengekor pada kesepakatan dagang yang telah dibahas sebelumnya. Menurutnya, posisi Indonesia harus lebih dinamis mengikuti situasi di AS yang masih cair.

Apalagi, Mahkamah Agung (Supreme Court) AS baru saja menganulir kebijakan tarif tersebut karena dinilai melampaui kewenangan Presiden Donald Trump. Momentum ini, kata Huda, harus dimanfaatkan Indonesia untuk meninjau ulang komitmen yang ada.

"Maka, pemerintah kita sebaiknya membatalkan dahulu perjanjian dagang kemarin yang sudah dibuat," ujar Huda kepada Suara.com, Senin (23/2/2026).

Huda menjelaskan, pembatalan atau penundaan ini sangat dimungkinkan secara hukum. Pasalnya, kesepakatan dagang yang dibahas belum memiliki kekuatan hukum final dan masih memerlukan proses ratifikasi di dalam negeri.

"Masih ada kesempatan bagi pemerintah untuk bernegosiasi ulang karena perjanjian ini baru berlaku setelah diratifikasi melalui UU atau Perppu," jelasnya.

Lebih lanjut, Huda menilai putusan Mahkamah Agung AS memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi Jakarta. Indonesia tidak perlu merasa tertekan untuk mengikuti poin-poin kesepakatan yang mungkin merugikan di masa depan.

Mengingat gaya kepemimpinan Donald Trump yang kerap berubah-ubah (unpredictable), Huda menyarankan Indonesia untuk bermain cantik dengan mengambil posisi sebagai pengamat terakhir sebelum bertindak.

"Keputusan Trump sangat bisa berubah sewaktu-waktu. Indonesia akan lebih baik menjadi last mover karena tekanan sekarang justru berada di pihak Trump," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Impor Pikap India untuk Kopdes Perlu Pertimbangkan Manufaktur Lokal

Impor Pikap India untuk Kopdes Perlu Pertimbangkan Manufaktur Lokal

Otomotif | Senin, 23 Februari 2026 | 15:05 WIB

Ancaman Impor Mobil India Terhadap Nasib Ribuan Buruh Komponen Otomotif Lokal

Ancaman Impor Mobil India Terhadap Nasib Ribuan Buruh Komponen Otomotif Lokal

Otomotif | Senin, 23 Februari 2026 | 13:34 WIB

Pengamat Ungkap 7 Poin Perjanjian Indonesia-AS Berpotensi Ancam Ekonomi Nasional

Pengamat Ungkap 7 Poin Perjanjian Indonesia-AS Berpotensi Ancam Ekonomi Nasional

Bisnis | Senin, 23 Februari 2026 | 08:34 WIB

Terkini

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:01 WIB

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:46 WIB

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:39 WIB

Prabowo Diminta Evaluasi Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!

Prabowo Diminta Evaluasi Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:35 WIB

Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital

Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:28 WIB

Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?

Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:16 WIB

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:05 WIB

Harga Minyak DIproyeksi Bergejolak dalam 60 Hari ke Depan Usai Sanksi Iran Dicabut

Harga Minyak DIproyeksi Bergejolak dalam 60 Hari ke Depan Usai Sanksi Iran Dicabut

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 16:57 WIB

Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF

Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 16:24 WIB

NCKL Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham, Cek Jadwalnya

NCKL Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham, Cek Jadwalnya

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:55 WIB