- BPS mencatat inflasi bulanan Februari 2026 sebesar 0,68 persen, didorong kenaikan harga pangan jelang Ramadan.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 1,54 persen pada periode tersebut.
- Inflasi Februari 2026 didominasi komponen harga bergejolak 2,50 persen; Sulawesi Selatan alami inflasi tertinggi 1,04 persen.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Februari 2026 mencapai 0,68 persen. Kenaikan harga pangan jelang ramadan menjadi penyumbang inflasi pada bulan Februari.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
"Pada bulan Februari tahun 2026, terjadi inflasi sebesar 0,68 persen secara bulanan atau month-to-month," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 1,54 persen dan andil 0,45 persen terhadap inflasi nasional.

"Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 1,54 persen," kata Ateng.
Ia merinci sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok tersebut, antara lain daging ayam ras dengan andil 0,09 persen, cabai rawit 0,08 persen, ikan segar 0,05 persen, cabai merah 0,04 persen, serta tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing 0,02 persen.
Diketahui, harga ayam ras dan cabai rawit merah meroket dalam beberapa pekan terakhir selama awal bulan Ramadan. Daging ayam sempat menembus harga Rp 45 ribu per kilogram, dan cabai rawit merah di angka Rp 80 ribu per kg.
Ateng menyebut kenaikan harga selama bulan ramadan memang sudah sering terjadi dalam beberapa tahun ke belakang.
"Berdasarkan historis 5 tahun terakhir, ini terjadi inflasi setiap momen Ramadan," tuturnya.
Baca Juga: Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Turun Tajam, Daging Sapi dan Ikan Kembung Masih Menguat
Namun demikian, tingkat inflasi Februari 2026 disebut lebih rendah dibanding Ramadan 2022 dan 2025.
Selain pangan, emas perhiasan juga memberi andil inflasi cukup besar, yakni 0,19 persen. Sementara tarif angkutan udara menyumbang andil 0,02 persen.
Ateng menambahkan, dari sisi komponen, inflasi Februari terutama didorong oleh komponen harga bergejolak yang mengalami inflasi 2,50 persen dengan andil 0,41 persen.
"Inflasi yang terjadi pada bulan Februari tahun 2026 sebesar 0,68% utamanya didorong oleh inflasi pada kelompok komponen bergejolak," ucap Ateng.
Komponen inti tercatat mengalami inflasi 0,42 persen dengan andil 0,27 persen. Sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi 0,03 persen, dengan bensin menjadi komoditas yang memberi andil deflasi.
Secara spasial, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi dan lima provinsi mengalami deflasi pada Februari 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Papua Barat sebesar 0,65 persen.