- Konfrontasi AS-Israel melawan Iran mengancam pasar komoditas global, memicu prediksi lonjakan harga minyak mentah dunia.
- Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital seperlima konsumsi minyak global, berpotensi mendorong harga melewati ambang psikologis $100.
- OPEC+ sepakat meningkatkan kuota produksi mulai April untuk meredam kepanikan pasar, meskipun dampaknya diragukan jika terjadi pemblokiran fisik.
Suara.com - Konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar komoditas global.
Para analis ekonomi kini memberikan peringatan serius mengenai potensi lonjakan harga minyak mentah yang sulit terbendung seiring dengan meningkatnya intensitas serangan di kawasan Timur Tengah.
Meskipun kontribusi Iran hanya berkisar 3-4% dari total produksi minyak dunia, posisi geografisnya yang menguasai Selat Hormuz menjadi faktor krusial.
Selat ini merupakan titik nadi distribusi minyak paling vital di planet ini, sehingga gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut akan langsung mendongkrak proyeksi harga pasar.
Selat Hormuz: Jalur Hidup yang Terancam Lumpuh
Selat Hormuz merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional. Seperlima dari konsumsi minyak global melewati jalur sempit di antara Iran dan Oman ini.
Jika jalur ini mengalami hambatan berkepanjangan, harga minyak mentah diprediksi akan melewati ambang psikologis US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa arus lalu lintas di Selat Hormuz praktis terhenti. Banyak perusahaan pelayaran dan pedagang energi memilih untuk menunda pengiriman demi alasan keamanan.
"Baik selat ditutup secara paksa maupun menjadi tidak dapat diakses karena penghindaran risiko, dampaknya terhadap arus pasokan pada dasarnya sama," tulis Jorge Leon, Wakil Presiden Senior Rystad Energy, seperti yang dikutip via DW.
Tanpa adanya sinyal deeskalasi yang cepat, pasar dunia harus bersiap menghadapi penyesuaian harga yang sangat signifikan.
Sebagai produsen minyak terbesar keempat di dalam organisasi OPEC, Iran memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata:
- Produksi Harian: Iran menghasilkan sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph).
- Cadangan Global: Memiliki sekitar 12% dari total cadangan minyak dunia dan seperempat cadangan di Timur Tengah.
- Pendapatan Negara: Pada 2023, ekspor minyak Iran menyumbang pendapatan bersih sebesar US$53 miliar (sekitar Rp890,4 triliun).
- Mitra Utama: Tiongkok menjadi pembeli utama, menyerap sekitar 90% dari total ekspor minyak mentah Iran.
Meskipun ekonomi Iran mulai terdiversifikasi, sektor energi tetap menjadi tulang punggung finansial pemerintah dalam membiayai operasional negara maupun militer.
Reaksi Pasar dan Langkah Strategis OPEC+
Menjelang pecahnya perang pada akhir Februari 2026, harga minyak sebenarnya sudah merangkak naik akibat kekhawatiran spekulatif. Minyak mentah jenis Brent tercatat berada di level US$73 (sekitar Rp1,22 juta) per barel pada 27 Februari.
Guna meredam kepanikan pasar, kelompok negara produsen minyak OPEC+ dalam pertemuannya pada Minggu (01/03) telah sepakat untuk meningkatkan kuota produksi mulai April mendatang.