- Investor asing mencatatkan beli bersih signifikan pada saham sektor pertambangan, terutama PTBA, selama Maret 2026.
- PTBA mencetak kenaikan harga saham 14,6% sepekan, meski laba bersihnya terkoreksi 39,3% pada 2025.
- Proyeksi 2026 memprediksi harga batu bara naik akibat gangguan pasokan dan pemangkasan RKAB produksi nasional.
Suara.com - Pasar modal Indonesia mencatat pergerakan signifikan pada sektor pertambangan di pekan pertama Maret 2026. Emiten pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), muncul sebagai saham yang paling gencar diburu oleh investor mancanegara.
Strategi akumulasi ini terjadi di tengah dinamika harga komoditas yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas per Minggu (8/3/2026), investor asing membukukan beli bersih (net buy) pada saham PTBA senilai Rp308,5 miliar di pasar reguler selama periode 2-6 Maret.
Dominasi asing tidak hanya berhenti di PTBA, beberapa emiten energi lainnya juga mengekor di posisi teratas:
PTBA: Net Buy Rp308,5 Miliar.
ITMG (Indo Tambangraya Megah): Net Buy Rp263,5 Miliar.
BRPT (Barito Pacific): Net Buy Rp177,2 Miliar.
Meski secara keseluruhan pekan ini asing masuk sebesar Rp2,2 triliun, pada perdagangan Jumat (6/3) sempat terjadi aksi jual bersih (net sell) harian senilai Rp263 miliar, yang menggenapi akumulasi jual bersih sepanjang tahun berjalan (year to date) menjadi Rp7,2 triliun.
Analisis Teknikal dan Peluang Cuan Esok Hari
Bagi para pelaku pasar yang bersiap melakukan transaksi pada Senin (9/3/2026), KB Valbury Sekuritas memberikan panduan strategis untuk memaksimalkan keuntungan:
Rekomendasi: Trading Buy
Rentang Harga Masuk (Entry): Rp2.920 – Rp2.980
Target Harga (Take Profit): Rp3.020
Batas Bawah (Support): Rp2.920
Sebagai catatan, saham PTBA menunjukkan performa impresif dengan kenaikan 14,6% dalam sepekan dan melonjak drastis hingga 29% sejak awal tahun 2026. Pada penutupan Jumat lalu, harga bertengger di level Rp2.980 per lembar.
Meskipun harga saham melesat, laporan keuangan unaudited PTBA periode Januari-September 2025 menunjukkan tantangan pada sisi profitabilitas.
Pendapatan: Tumbuh 2,2% (YoY) menjadi Rp31,33 triliun, dengan kontribusi sektor batu bara mencapai 98,1%.
Laba Bersih: Mengalami koreksi sebesar 39,3% (YoY) menjadi Rp1,98 triliun. Penurunan ini dipicu oleh pembengkakan
beban pokok pendapatan dan biaya operasional lainnya.
Proyeksi 2026: Kelangkaan Pasokan dan Lonjakan Harga
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas melihat adanya "berkah" di balik musibah gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.
Konflik tersebut mendorong harga minyak dan LNG melambung, yang otomatis meningkatkan ketergantungan wilayah India, Asia Tenggara, dan Eropa pada batu bara termal.
Tiga Skenario Harga Batu Bara Newcastle (Akhir 2025: US$107,5/ton):
- Jangka Pendek: Permintaan naik 40-55 juta ton, harga diprediksi US$130 - US$150/ton.
- Jangka Menengah: Permintaan naik >91 juta ton, harga berpotensi US$150 - US$175/ton.
- Jangka Panjang: Permintaan melonjak >180 juta ton, harga bisa menembus US$200 - US$250/ton.
Situasi ini semakin diperketat oleh kebijakan domestik. Kementerian ESDM berencana memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara nasional tahun 2026 menjadi hanya sekitar 600 juta ton (turun dari 790 juta ton di 2025).
"Adanya potensi selisih pasokan sebesar 45–96 juta ton dari ekspor Indonesia akibat pembatasan produksi akan menciptakan risiko kenaikan harga yang jauh lebih besar di pasar global," tulis tim riset BRI Danareksa.