Nilai Tukar Rupiah Rp17.000 per Dolar, APBN Terancam Tertekan Harga Minyak

M Nurhadi

Senin, 09 Maret 2026 | 13:41 WIB
Nilai Tukar Rupiah Rp17.000 per Dolar, APBN Terancam Tertekan Harga Minyak
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Rupiah melemah signifikan pada Senin (9/3/2026), mencapai Rp17.010 per USD akibat sentimen konflik militer Timur Tengah.
  • Eskalasi militer di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia melampaui US$100 per barel, mengancam logistik energi.
  • Defisit APBN berisiko melebihi batas aman 3% jika harga minyak tetap tinggi, memerlukan langkah darurat pemerintah.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026).

Mata uang Garuda sempat terjungkal ke level psikologis baru di angka Rp17.010 per dolar AS, melemah 0,5% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Meski sempat melakukan perlawanan dan menguat tipis ke posisi Rp16.950 pada siang hari, posisi rupiah dinilai masih sangat rentan.

Sentimen negatif utama bersumber dari eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik ini telah melumpuhkan jalur logistik energi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pasar saat ini sedang dalam kondisi waspada tinggi menyusul sinyal perang darat antara militer AS dan Iran.

Selain itu, transisi kepemimpinan di Iran kepada Muqtaba Khomeini menambah ketidakpastian politik di kawasan tersebut.

"Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor krusial karena jalur ini adalah urat nadi distribusi minyak dari produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan UEA. Jika krisis ini tidak segera mereda dalam satu bulan, harga minyak mentah dunia berpotensi meroket hingga US$200 per barel," ujar Ibrahim di Jakarta.

Saat ini, harga minyak dunia telah melampaui US$100 per barel. Kondisi ini membangkitkan memori kelam krisis ekonomi 2008, di mana gangguan distribusi minyak memicu inflasi global yang tidak terkendali.

Ancaman Defisit Anggaran di Atas 3%

baca juga

Lonjakan harga komoditas energi ini menjadi alarm bahaya bagi kesehatan fiskal nasional. Berdasarkan asumsi makro APBN 2026, harga minyak ditetapkan sebesar US$70 per barel. Namun, kenyataan di lapangan kini jauh melampaui angka tersebut.

Terpisah, Ekonom Indef, Abdul Hakam Naja, memperingatkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 dapat menambah beban defisit anggaran sebesar Rp6,8 triliun.

"Jika harga minyak terus bertahan di level US$100, defisit APBN Indonesia terhadap PDB bisa membengkak mendekati 4%. Angka ini sangat berisiko karena melanggar batas aman 3% yang diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara," jelas Hakam.

Menghadapi potensi krisis ini, Indef menyarankan pemerintah segera mengambil empat langkah darurat:

Efisiensi Anggaran Ketat: Memangkas belanja non-prioritas dan memfokuskan dana pada perlindungan sosial, pangan, dan layanan dasar.

Transisi Energi Masif: Mempercepat migrasi dari pembangkit berbahan bakar fosil (PLTD) ke energi terbarukan (PLTS, PLTA, PLTB) serta memperluas ekosistem kendaraan listrik.

Deregulasi Ekonomi: Menyederhanakan aturan birokrasi guna memberikan stimulus bagi dunia usaha agar ekonomi tetap bergerak di tengah inflasi.

Tinjauan Perjanjian Dagang: Mempertimbangkan pembatalan kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat guna melindungi kepentingan tarif nasional di bawah kebijakan proteksionisme Donald Trump.

Kewaspadaan tinggi menjadi keharusan, mengingat Selat Hormuz menampung sekitar 20% suplai minyak dunia. Gangguan di titik ini tidak hanya memukul rupiah, tetapi juga mengancam ketahanan energi nasional secara jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Sakit Parah Dibuka ke Level Rp17.017

Rupiah Sakit Parah Dibuka ke Level Rp17.017

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 09:30 WIB

Rupiah Kian Tak Berdaya, Cadangan Devisa RI Kian Menyusut

Rupiah Kian Tak Berdaya, Cadangan Devisa RI Kian Menyusut

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 16:07 WIB

Cadangan Devisa Mengkerut untuk Stabilkan Rupiah

Cadangan Devisa Mengkerut untuk Stabilkan Rupiah

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 12:34 WIB

Harga Dolar AS Dijual Rp17,000 di Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA

Harga Dolar AS Dijual Rp17,000 di Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 10:37 WIB

Rupiah Melemah, Dolar AS Naik ke Level Rp16.920

Rupiah Melemah, Dolar AS Naik ke Level Rp16.920

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 09:40 WIB

Penutupan Pasar Hari Ini: IHSG Comeback ke Level 7.710, Rupiah Tertahan di Rp16.880

Penutupan Pasar Hari Ini: IHSG Comeback ke Level 7.710, Rupiah Tertahan di Rp16.880

Bisnis | Kamis, 05 Maret 2026 | 16:43 WIB

Terkini

3 Rekomendasi Warna Hijau yang Tidak Norak untuk Cat Tembok Rumah, Beri Kesan Elegan dan Estetik

3 Rekomendasi Warna Hijau yang Tidak Norak untuk Cat Tembok Rumah, Beri Kesan Elegan dan Estetik

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:06 WIB

Puting Beliung Terjang Padalarang, 520 Rumah dan 9 Fasilitas Umum Rusak

Puting Beliung Terjang Padalarang, 520 Rumah dan 9 Fasilitas Umum Rusak

Jabar | Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:03 WIB

Hutan Menjadi Neraka: Nasib Satwa Liar yang Kehilangan Tempat Berlindung

Hutan Menjadi Neraka: Nasib Satwa Liar yang Kehilangan Tempat Berlindung

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:00 WIB

2 Tahun Prabowo - Gibran, Mahfud MD: Hukum Dibuat untuk Benarkan Kehendak yang Salah

2 Tahun Prabowo - Gibran, Mahfud MD: Hukum Dibuat untuk Benarkan Kehendak yang Salah

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:59 WIB

MAKI Sebut KPK Panggil Nusron Wahid Besok

MAKI Sebut KPK Panggil Nusron Wahid Besok

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:59 WIB

Terkam CCTV! Perawat Puskesmas Kwanyar Laporkan Kades ke Polisi atas Dugaan Penganiayaan

Terkam CCTV! Perawat Puskesmas Kwanyar Laporkan Kades ke Polisi atas Dugaan Penganiayaan

Jatim | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:53 WIB

Hadapi Lonjakan Kebutuhan AI, NeutraDC Ungkap Strategi di Sovereign Tech Summit 2026

Hadapi Lonjakan Kebutuhan AI, NeutraDC Ungkap Strategi di Sovereign Tech Summit 2026

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:51 WIB

Dukung LKPP, Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Melalui SPSE V5

Dukung LKPP, Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Melalui SPSE V5

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Salah Kaprah Budaya Nrimo dan Hilangnya Kesadaran atas Hak Hidup Layak

Salah Kaprah Budaya Nrimo dan Hilangnya Kesadaran atas Hak Hidup Layak

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:45 WIB

Hair Removal Device vs Alat Cukur Elektrik: Mana yang Lebih Worth To Buy untuk Self Treatment?

Hair Removal Device vs Alat Cukur Elektrik: Mana yang Lebih Worth To Buy untuk Self Treatment?

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:43 WIB

×