- RI jajaki impor minyak dari Brunei capai 110 ribu barel/hari guna pasokan aman.
- Brunei minati teknologi EOR Pertamina untuk genjot produksi minyak sumur tua.
- Bahlil tawarkan investasi infrastruktur listrik di wilayah terpencil ke Brunei.
Suara.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergerak cepat mengamankan pasokan energi nasional. Terbaru, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang besar untuk melakukan impor minyak mentah dari negara tetangga, Brunei Darussalam.
Langkah strategis ini mencuat dalam pertemuan bilateral antara Bahlil dengan Deputy Minister Energy Brunei, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah, di sela agenda Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).
Bahlil mengungkapkan, kapasitas produksi Brunei yang mencapai 100.000 hingga 110.000 barel per hari menjadi potensi yang sangat menarik untuk memperkuat stok dalam negeri. "Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap aman," tegas Bahlil dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Menariknya, kerja sama ini tidak hanya sebatas jual-beli komoditas. Brunei dilaporkan sangat tertarik mengadopsi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) milik PT Pertamina (Persero). Teknologi ini dinilai ampuh untuk memeras kembali produksi minyak dari sumur-sumur tua, transisi dari metode water flooding yang selama ini digunakan Brunei.
Selain urusan minyak, Indonesia juga menyodorkan peluang investasi kepada Brunei melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI). Fokusnya adalah pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah terpencil yang kaya sumber daya alam, hingga program pelatihan SDM di sektor hulu migas serta audit energi terbarukan.