- Nilai pasar EPC energi surya Indonesia diproyeksikan tumbuh signifikan, dari Rp24,3 triliun menjadi Rp133,5 triliun pada 2030.
- Peningkatan adopsi PLTS didorong kebutuhan energi bersih dan efisiensi biaya oleh pelaku usaha di berbagai sektor.
- Sektor EPC menjadi tulang punggung vital dalam merealisasikan dan menopang pertumbuhan investasi serta implementasi PLTS nasional.
Suara.com - Pertumbuhan industri energi surya di Indonesia kian membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) yang diproyeksikan melonjak signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Nilai pasar EPC bahkan diperkirakan bisa menembus ratusan triliun rupiah, seiring meningkatnya adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di berbagai sektor industri.
Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan energi bersih sekaligus tuntutan efisiensi biaya operasional di kalangan pelaku usaha.
Di tengah transisi energi, sektor EPC menjadi salah satu tulang punggung industri yang berperan langsung dalam menggerakkan investasi hijau serta membuka peluang ekonomi baru di sektor energi terbarukan.
Pertumbuhan industri ini tercermin dari peningkatan kapasitas PLTS yang cukup pesat. Untuk PLTS atap, kapasitas terpasang melonjak dari 86 MW pada 2021 menjadi 773 MW.
Sementara itu, PLTS non-atap juga meningkat dari 25,5 MW pada 2021 menjadi 1019,5 MW pada 2025.
Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Harris, menegaskan peran penting sektor EPC dalam menopang pertumbuhan industri ini.
“EPC memiliki peran penting dalam memastikan setiap tahap proyek dari desain hingga konstruksi dijalankan dengan baik, sehingga sistem energi surya yang tangguh ini benar-benar terealisasi dan mendorong pertumbuhan industri secara nyata," ujar Harris kepada wartawan, Jumat (27/3/2026).
Perusahaan energi surya seperti Xurya Daya Indonesia melihat momentum ini sebagai peluang strategis. Dengan proyeksi pertumbuhan pasar yang agresif, kebutuhan terhadap mitra EPC berkualitas dipastikan akan terus meningkat hingga beberapa tahun mendatang.
"Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mendorong inovasi dan kolaborasi dalam pengembangan energi surya. Kami berharap penghargaan, seperti EPC Appreciation 2026 oleh Xurya, dapat memotivasi pelaku industri untuk terus berkontribusi dalam percepatan transisi energi nasional,“ ucap Harris.
Dari sisi utilitas, PT PLN (Persero) juga melihat tren ini sebagai sinyal positif bagi percepatan transisi energi nasional. Senior Manager Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Ryfki Rahman, menyebut adopsi energi surya terus meningkat di berbagai sektor.
“Hingga kini, baik kapasitas PLTS Atap maupun PLTS Non-Atap terus mengalami pertumbuhan, menunjukkan adopsi energi surya yang semakin luas di sektor komersial, industri, dan pelanggan non-subsidi," ucap Ryfki.
Ryfki menilai, setiap instalasi PLTS yang berhasil diselesaikan tidak hanya menambah pasokan energi bersih, tetapi juga memperkuat kualitas, efisiensi, dan dampak nyata bagi masyarakat
"Dengan kolaborasi ini, kami optimistis transisi energi nasional akan semakin cepat, berkelanjutan, dan inklusif,“ tutur Ryfki.
Dari sisi bisnis, Xurya mengungkapkan nilai pasar EPC saat ini berada di kisaran 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp24,3 triliun. Angka tersebut diproyeksikan melonjak drastis dalam beberapa tahun ke depan.
“Market size EPC saat ini diperkirakan berada di kisaran 1,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp24,3 triliun. Dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 76 persen, kami proyeksikan market size EPC dapat mencapai 7,9 miliar dolar AS setara dengan Rp133,5 triliun pada 2030," jelas Vice President Operations Xurya, Philip Effendy.
![Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Sengkol di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat [SuaraSulsel.id/KSP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/11/21/82267-energi-surya.jpg)
Menurutnya, angka ini meningkat sekitar lima kali lipat dan hal ini mencerminkan besarnya potensi teknis akan kebutuhan mitra EPC yang berkualitas dan menjadi lokomotif penggerak pertumbuhan industri PLTS Atas dan Non-Atap.
EPC sendiri terdiri dari tiga pilar utama, yakni engineering, procurement, dan construction. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam memastikan proyek energi surya berjalan efisien, tepat waktu, serta memenuhi standar keselamatan dan kualitas.
Sejauh ini, Xurya telah bekerja sama dengan lebih dari 180 mitra EPC dan menangani lebih dari 300 proyek dengan total kapasitas melampaui 200 MW.
Di sisi lain, Xurya juga memberikan apresiasi kepada para mitra EPC melalui ajang EPC Appreciation 2026. Penghargaan diberikan dalam sejumlah kategori, mulai dari kapasitas proyek terbesar hingga kinerja keselamatan dan efisiensi proyek.
“Hal ini tidaklah mungkin tanpa kerja sama yang solid dengan mitra EPC lokal. Mereka menjadi penghubung utama antara perencanaan dan implementasi proyek, memastikan inovasi teknologi tidak hanya berhenti di tahap konsep, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dan berkelanjutan. Tanpa peran mereka, pengembangan sistem energi surya tidak akan berjalan optimal,“ pungkas Philip.