- Kendaraan listrik menawarkan efisiensi biaya energi operasional sangat signifikan, menghemat hingga 60–70 persen dibanding BBM.
- Adopsi satu juta mobil dan lima juta motor listrik berpotensi menghemat impor minyak sekitar 3 juta kiloliter per tahun.
- Penghematan impor BBM akibat peralihan EV diperkirakan mampu menghemat devisa negara antara Rp30–40 triliun per tahun.
Suara.com - Penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dinilai semakin menarik seiring efisiensi biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).
Pengamat otomotif Martinus Pasaribu mengungkapkan, dari sisi biaya energi, kendaraan listrik menawarkan penghematan yang signifikan bagi masyarakat.
"Dari sisi efisiensi, kendaraan listrik jauh lebih hemat. Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya sekitar Rp 300-500 per km, dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp 1.000–1.500 per km, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM. Artinya, terdapat potensi penghematan biaya operasional hingga 60-70 persen bagi pengguna," ujar Martinus seperti dikutip, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi salah satu keunggulan utama kendaraan listrik di tengah tren kenaikan harga minyak global yang berdampak pada harga BBM di dalam negeri.
Selain memberikan keuntungan bagi pengguna, peralihan ke kendaraan listrik juga dinilai berdampak positif bagi perekonomian nasional. Penggunaan EV dapat menekan konsumsi BBM secara signifikan, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
"Diperkirakan, penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter," tegasnya.
Jika dikombinasikan, penghematan tersebut mencapai sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun. Angka ini setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah besar, yang berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp30–40 triliun per tahun.
Tak hanya itu, berkurangnya konsumsi BBM juga berpotensi menekan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga ruang fiskal pemerintah bisa dialihkan ke sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Martinus menilai, percepatan adopsi kendaraan listrik perlu terus didorong melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari pemberian insentif hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya.
"Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global," pungkasnya.