- Iran mewajibkan kapal komersial membayar tarif satu dolar per barel minyak menggunakan Bitcoin saat melintasi Selat Hormuz.
- Kebijakan ini merupakan langkah strategis Iran untuk menghindari sanksi internasional melalui sistem keuangan di luar jangkauan Amerika.
- Otoritas Iran menggunakan verifikasi data digital untuk memantau muatan kapal serta mencegah penyelundupan senjata di Selat Hormuz.
Suara.com - Iran mulai memberlakukan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz untuk membayar tarif transit atau "tol" menggunakan aset kripto Bitcoin.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan; ini adalah langkah strategis Teheran untuk menjaga napas aktivitas ekonominya di tengah tekanan sanksi internasional yang kian mencekik dari blok Barat.
Melalui keterangan Hamid Hosseini, Juru Bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, tarif yang ditetapkan adalah senilai 1 Dollar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp17.122 untuk setiap barel minyak yang diangkut oleh kapal-kapal tersebut.
Mekanisme Operasional: Verifikasi Ketat dan Antispionase
Proses pembayaran ini tidak dilakukan secara serampangan. Iran telah menyiapkan sistem birokrasi digital yang mengharuskan setiap operator kapal mengirimkan detail muatan mereka melalui surat elektronik (email) kepada otoritas terkait sebelum memasuki area Selat Hormuz.
Setelah data diverifikasi, tarif akan dihitung dan pembayaran wajib dikirimkan dalam bentuk Bitcoin ke dompet digital yang ditunjuk.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa kapal hanya diizinkan melanjutkan pelayaran setelah transaksi Bitcoin tersebut terkonfirmasi di jaringan blockchain.
Namun, skema ini tidak hanya soal pundi-pundi uang kripto. Teheran memanfaatkan proses penilaian muatan ini sebagai alat pemantauan keamanan yang ketat.
Tujuannya jelas: memastikan tidak ada penyelundupan senjata yang melewati jalur perairan strategis tersebut.
Meski pengawasan diperketat, komoditas energi seperti minyak tetap diberikan lampu hijau untuk melintas selama kewajiban pembayaran tol dipenuhi.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Iran untuk tetap berdaulat atas wilayah perairannya tanpa harus melakukan blokade fisik yang bisa memicu konflik terbuka lebih luas.
Penggunaan Bitcoin dipilih secara sadar sebagai instrumen perlawanan finansial. Hamid Hosseini menjelaskan bahwa aset kripto memungkinkan Iran beroperasi di luar sistem keuangan tradisional yang didominasi oleh perbankan internasional dan dolar AS.
"Penggunaan Bitcoin merupakan upaya untuk memanfaatkan sistem keuangan yang berada di luar kendali dan jangkauan pemerintah Amerika Serikat. Ini merupakan salah satu strategi Teheran untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat," tegas Hosseini.
Kontradiksi Pasar: Sentimen Positif vs Koreksi Harga
Meskipun kebijakan ini memberikan kegunaan nyata (utility) bagi Bitcoin di level negara, kondisi pasar kripto pada hari ini, Minggu (12/4/2026), justru menunjukkan arah yang berlawanan.